2 Months : What Did I Get ?

Seiring berjalannya waktu, yang asing jadi akrab. Yang aneh jadi sesuatu yang biasa. Yang ngga enak jadi mengenyangkan. Dan yang kecil jadi semakin besar.

Waktu terus berjalan. Dalam hitungan bulan ke-dua, ini lah semua yang aku dapatkan.

Ingat sekali ketika kami penerima beasiswa YTB 2014 masih santai di tanah air. Visa sudah selesai dan sudah ada di tangan. Kesiapan keberangkatan tinggal dilengkapi. Tapi hati dan pikiran dipenuhi kegalauan karena pemberitahuan tanggal ‘terbang’ dan tiket pesawat masih mengambang sedangkan orang-orang sekitar sudah ribut bertanya “kapan berangkat ?” atau “berangkatnya jadi, kan ?” (-_-)

Setiap hari, kami ‘nimbrung’ di satu grup social media : WhatsApp. Bercerita tentang kegiatan dalam penantian 😛 , bahkan sampai ke hal-hal paling ngga penting untuk jadi bahan obrolan. Dan malam tanggal 11 September 2014 (dihitung 5 hari sebelum tanggal keberangkatan), kami masih ngobrol seperti biasa. Bahkan ngga sedikit juga yang curhat, “kok belum ada email ya ?” yang ditanggapi “Ngga papa, tunggu aja. Kan kita udah biasa dibuat nunggu sama YTB” yang padahal realita dalam hatinya bilang sesuatu yg berbeda.

Singkat cerita, keesokan harinya, kami sudah mendapat email yang isinya tanggal dan jam pasti kami akan segera ‘terbang’ ke Turki sana. Sehari sebelum keberangkatan e-ticket dikirim, dan besoknya, kami semua berkumpul di terminal 2B, Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pukul 10.00WIB aku berangkat dari bandara Palembang menuju Soetta. Itulah hari terakhir aku memeluk keluarga sebelum berangkat ke Turki. Dan pada pukul 19.50WIB Turkish Airlines membawa kami terbang melintasi samudera, pulau-pulau, meninggalkan tanah air tercinta 😥

Tanggal 17 September, kaki kami sudah menginjak daratan Turki dengan selamat.

Waktu awal berangkat, semua hal yang kami lihat adalah baru. Orang-orangnya, bangunannya jalannya. Semuanya. Dan dalam beberapa hari pertama, kami dibantu kakak senior untuk mengurus beberapa keperluan karena kami benar-benar buta arah.

Awalnya, hampir di setiap tempat kami ambil gambarnya. Kami share supaya orang-orang di sana juga bisa ikut melihat suasana itu. Kami melakukan hal-hal biasa yang bisa dilakukan oleh mereka yang baru pertama kali pergi ke luar negeri dan menemukan hal-hal baru :D. Hal-hal baru yang sekarang sudah jadi pemandangan biasa bagi kami.

Aku bersyukur sekali karena ada lima orang dari Indonesia yang tinggal satu asrama denganku. Kami semua sama-sama baru mengenal ketika berkumpul di bandara, bahkan ketika sudah tiba di asrama. Berlaku seperti layaknya orang yang baru kenal. Bercerita masih jarang waktu itu. Tapi di hari-hari selanjutnya, kami sudah mulai menampakan ‘wujud’ masing-masing. 😀 😛

Yang kita rasakan ketika ada di negeri orang dan itu jauh dari negeri sendiri pastinya adalah sebuah kerinduan yang besar, terutama dengan keluarga. Dan orang-orang seperti mereka lah yang membuat kita merasa ada di rumah. Mereka yang benar-benar mengerti apa yang kita mau, dan apa yang kita katakan.

Seminggu pertama, kami belum bisa makan makanan yang ada. Belum terbiasa harus sarapan roti tiap hari tanpa nasi goreng dan yang lain. Menatap jij*k ke arah kuah kental putih dalam mangkuk ketika makan malam. Dan hanya ‘bertahan hidup’ dengan mie instan dan makanan-makanan yang sudah dibawa dari rumah.

Di akhir minggu kedua, kami sudah tinggal di asrama baru yang jauh lebih bagus dari penginapan pertama. Kamar dan kamar mandinya lebih luas, lebih mewah, dan lebih besar bangunannya. Asrama yang sekarang masih kami tinggali. Makanan disini bisa dibilang lebih baik. Rotinya beda, dan ada selainya. Timun, tomat, dan zaitun masih ada. Tapi kadang ditambah sesuatu lain seperti kentang goreng, telur rebus, atau lainnya.

Dan disinilah kami baru tahu nama kuah kental berwarna itu :çorba. Dan sejenis nasi yang rasanya beda itu pilav namanya. Kami sudah mulai terbiasa dengan makanannya. Bahkan sudah sering ngga sabaran menunggu saatnya ruang makan dibuka. Jajajan yang sering ditemui di jalan seperti sosisli (hotdog) atau döner(roti isi daging dan sayuran) juga sudah sering dimakan. Tapi ada kalanya ketika semua itu dikalahkan dengan bakso dalam khayalan.

Yang waktu benar-benar buta arah, sekarang sudah bisa kemana-mana sendiri tanpa ada panduan dari kakak senior lagi. Sudah tahu dari satu tempat ke tempat lain paling enak naik apa, sudah terbiasa dengan jarak yang lumayan jauh, dan juga sudah terbiasa berjalan kaki dengan jarak yang lumayan untuk orang yang sering mengandalkan ojek atau becak yang pastinya ngga bisa ditemukan disini.

Kami yang tinggal satu asrama sudah semakin akrab. Sudah sering sekali menghabiskan waktu bersama. Sudah tahu kebaikan dan keburukan masing-masing. Sudah tahu cerita-cerita sedih di masa lalu. Sudah saling mengerti.

Sekarang pun sudah bisa sedikit menahan hawa dingin yang menusuk. Apalagi di akhir musim gugur ini, angin lebih kencang dan lebih dingin. Ketika bicara, kadang ada asap yang keluar dari mulut yang akhirnya jadi mainan. Sungguh norak sekali kami dihadapin orang-orang Turki yang sudah biasa dengan ini. 😛

Waktu itu, ketika ditanya “Türkçe biliyor musun ?(Do you know Turkish ?)” atau ketika diajak bicara dengan percakapan biasa, cuma bisa menjawab “Türkçe bilmiyorum (I don’t know Turkish)” sambil senyum-senyum ngga jelas. Sekarang sudah mulai bisa ngorol agak panjang dan mengerti sedikit apa yang orang maksud. Semuanya adalah proses. Proses yang menyenangkan.

Banyak hal yang aku dapatkan dari perjalanan jauh ini. Bagaimana cara kita menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang baru. Bagaimana mensyukuri nikmat Allah terutama nikmat kesempatan karena ngga sedikit orang yang cuma bisa menghabiskan hidup dengan suasana yang begitu begitu saja.

Dan yang paling penting adalah bagaimana kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk membahagiakan orang-orang terkasih kita. Untuk membuat mereka selalu tersenyum dan merasa bangga atas diri kita. Walaupun mereka beribu mil jauhnya. Walaupun kerinduan ini semakin besar setiap harinya.

Aku selalu berharap mimpi-mimpiku akan ada dalam kenyataan yang aku hadapi. Tapi ternyata, lebih menyenangkan kalau mimpi-mimpi itu berdampingan dengan mimpi orang lain dalam do’a yang nantinya diwujudkan bersama dalam kasih sayang Allah yang tiada taranya. 🙂

Istanbul, 22/11/14 (15:47)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s