Tulis. Tulis. Tulis.

Sudah hampir 3 bulan tidak menulis. Ada banyak hal yang terlewati tp belum sempat dibagi disini. Banyak hal yg aku alami di negeri indah ini. Di rumah keduaku. Dimana hari-hari dihabiskan dengan hal-hal menarik penghibur kerinduan.

Akhir Desember 2014 lalu, seorang penulis terkenal di Indonesia datang berkunjung ke Istanbul. Mungkin beliau sedang ingin berlibur ke Turki untuk kedua kalinya, atau mungkin memang sedang ada urusan penting. Tapi yang pasti, beliau datang ke Turki tepatnya di Istanbul juga untuk membedah buku terbarunya bersama kami, mahasiswa di Turki.

Api Tauhid karya Habiburrohman El-Shirazy dengan panggilan akrab Kang Abik. Aku belum pernah membaca buku itu sebelumnya. Tp memang pernah mendengar dari beberapa teman kalau buku ini luar biasa. Aku sedang membacanya sekarang. Baru sampai pada cerita awal.

Salah satu hal yang membuat kami tertarik membaca buku ini adalah salah satu setting ceritanya bertempat di Turki. Ada Selat Bosphorus yang masyhur, dan pastinya si cantik Sultanahmet Camii a.k.a Blue Mosque dan Aya Sofya, dan tempat-tempat indah lain di Turki.Kalau Mesir punya Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, Turki sudah punya Api Tauhid yang tidak kalah mengagumkannya.

Banyak hal yang disampaikan oleh Kang Abik di acara yang berlangsung dari sebelum dzuhur, sampai sore itu. Beliau adalah seorang penulis terkenal yang sudah diakui di tanah air. Novel-novel beliau selalu jadi best seller dan diangkat ke layar kaca. Karena memang jalan cerita yang menarik dan memiliki pesan moral tersendiri bagi pembaca.

Untuk buku kali ini, Kang Abik menggabungkan kisah fiksi dari karangan Kang Abik sendiri dengan kisah non-fiksi dari Syeikh Badiuzzaman Said Nursi. Aku merasa malu untuk bilang kalau aku belum sama sekali mengenal siapa itu Syeikh Badiuzzaman Said Nursi. Aku akan ceritakan nanti, insyaallah.

Perkataan Kang Abik yang paling menggugah di acara bedah buku itu adalah bahwa beliau hanya dengan 11 hari berada di Turki saja sudah bisa menulis buku setebal ini dan booming, kami yang sudah berbulan-bulan atau bahkan yang sudah di kelas akhir harusnya bisa menghasilkan sesuatu yang lebih. Ini menjadi sebuah tantangan yang Kang Abik sodorkan kepada kami. Aku yang duduk di bagian kursi paling depan pun ikut terhentak hatinya. Tantangan ini harus bisa aku penuhi suatu hari ini. Insyaallah.

Acara berlangsung lancar hingga akhir. Sebelum benar-benar dibubarkan, Kang Abik menyempatkan diri untuk menandatangani buku Api Tauhid yang kami beli dan berfoto bersama kami. Bagaimana rasanya ketika buku yang kamu tulis bisa begitu dihargai banyak orang?. Subhanallah. Semoga suatu hari nanti …

image

Ada banyak hal yang kudapat setelah datang ke acara bedah buku itu. Yang terpenting adalah meningkatkan semangat menulis agar nantinya bisa dibaca orang banyak dan juga bermanfaat. September tahun ini, aku menjalani hari-hari pertama kuliah. Belum bisa kubayangkan bagaimana jadinya. Mungkin akan memusingkan, mungkin aku bisa jatuh sakit, mungkin aku bisa kebingungan mengatur jadwal, mungkin tidak ada waktu santai ketika weekend, mungkin akan lebih sedikit waktu yang dibagi untuk berkumpul bersama teman, mungkin dan mungkin yang lain.

Tapi mungkin juga aku bisa mengenal lebih banyak orang, mungkin pikiranku lebih terbuka, mungkin kemampuan berbahasa asingku bisa lebih baik. Mungkin .. tidak, aku pikir lebih baik ‘men-semogakan’ bagian ini. Selalu ada hal positif yang kita bisa dapatkan. Tergantung bagaimana kita memandang hal itu. Keep moving forward ! 🙂

Esma, İstanbul

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s