#Mutluluk

Ting-tong!. Bukan suara bel. Satu pesan BBM baru saja masuk.

“Hei kamu kapan liburan?”

“Ni sekarang lg liburan hehe”

Selang lima detik, writing a message ..

“Trus kapan pulang ke Indo?”

Yah. Pertanyaan ini lagi. Aku menghembuskan nafas berat lalu reflex membalas, “tahun ini belum, euy. Klo ga tahun depan ya tahun depannya lagi hahaha”

Hahaha. Tapi aku bahkan tidak tersenyum. Sudah berapa kali aku ditanya pertanyaan itu. Pertanyaan yang sama tentang ‘kapan pulang?’ atau ‘kenapa tidak pulang?’ dan blablabla dari orang berbeda.

Sebenarnya maklum saja mereka bertanya hal itu. Apalagi teman-teman dekatku waktu aliyah dulu. Aku juga sudah rindu sekali berjumpa dan berkumpul dengan mereka semua. Kalau diberi pilihan, sudah pasti aku memilih pulang. Tidak ada yang lebih baik selain merayakan hari raya dengan keluarga dan orang-orang dekat.

Tapi aku bisa apa?. Memang belum rejekinya pulang tahun ini. Entah bagaimana dengan tahun depan. Ketika ditanya apa aku akan pulang tahun depan pun aku belum bisa dengan pasti jawab iya. Aku hanya bisa bilang kalau aku pasti pulang jika Allah memberikan kesempatan dan rejekinya. Manusia hanya bisa berencana, bukan?. Allah yang lebih tahu mana yang terbaik.

Jadi, aku akan menghabiskan Ramadhan tahun ini dan merayakan hari raya Idul Fitri dengan jarak sejauh ini. Melewatkan pulang kampung alias mudik ke kampung halaman, melewatkan perkumpulan keluarga besar yang selalu ramai tiap tahunnya, dan bahkan melewatkan momen mencium tangan orang tua dan mencium pipi keduanya sambil mengucapkan permintaan maaf setelah shalat id di lapangan.

Beruntung sekali mereka yang pulang tahun ini …

Memang sedih rasanya tidak bisa pulang, tapi aku tahulah pasti ini yang terbaik. Untuk pertama kalinya aku melewatkan bulan ramadhan dan merayakan idul fitri tanpa keluarga. Untuk pertama kalinya, di negeri yang ribuan mil jauhnya ini, dengan suasana dan bahkan waktu yang berbeda. Semuanya akan membuatku banyak belajar.

Sebelum Ramadhan tiba, kami–aku dan teman-teman–sempat berpikir kalau berpuasa disini, dengan cuaca panas dan waktu berpuasa lebih lama akan sangat sulit. Bahkan mungkin akan ada hari ketika kami tidak bisa menahan puasa hingga berbuka. Tapi ternyata, diluar waktu menahan yang lebih lama, berpuasa disini hampir tidak ada bedanya dengan berpuasa di Indonesia.

Waktu berpuasa disini adalah sekitar tujuh belas jam. Mulai dari waktu imsak pada pukul setengah empat hingga waktu berbuka pada pukul sembilan malam kurang sedikit. Ketika kami baru saja berbuka, masyarakat Indonesia mungkin sedang akan menyiapkan santap sahurnya. Dan ketika sudah waktunya berbuka di Indonesia, kami disini masih harus menunggu sekitar tujuh jam lebih lagi. Jadi ya begitulah. Kadang merasa kesal sendiri ketika teman di Indonesia sudah pamer menu berbuka di media sosial. Pertama karena waktu berbuka disini yang masih lama, kedua, karena menunya tidak mudah kami temukan disini.

Kami berbuka puasa sekitar pukul sembilan kurang sedikit, shalat maghrib, dan beberapa saat kemudian sudah saatnya shalat isya dan tarawih. Shalat tarawih selesai dilaksanakan sekitar pukul dua belas malam. Orang Turki kebanyakan memilih untuk tidak tidur, mengobrol dengan keluarga atau tetangga sambil menunggu waktu sahur.

Selama Ramadhan, KJRI alias Konsulat Jenderal Republik Indonesia Istanbul mengundang seluruh penduduk Indonesia di Istanbul untuk berbuka bersama setiap minggunya. Tidak banyak yang ‘tersisa’ dari mahasiswa Indonesia, sudah banyak yang pulang, karena itu acara buka bersama tidak begitu ramai. Hanya orang-orang yang sama yang datang. 😀

Selesai dari acara buka bersama, kami selalu pulang malam. Tapi tidak perlu khawatir karena diluar masih ramai. Bahkan di beberapa tempat, orang-orang masih duduk-duduk di taman dan beberapa tempat lain. Lampu taman warna-warni menghiasi, angin malam berhembus pelan, menemani kehangatan di antara orang-orang itu. Orang-orang yang tengah berkumpul dan bercanda bersama keluarga atau orang terdekat mereka. Mereka yang membuatku iri.

Memang membuatku iri, tapi aku suka suasana itu. Menyaksikan kebersamaan dan kehangatan mereka sudah cukup bagiku. Membuatku tersenyum. 🙂

Tapi ada hal lain yang membuatku tetap bahagia dan tidak menyesal melewatkan Ramadhan disini. Istanbul pada malam hari benar-benar cantik. Masjid-masjid mengagumkan ini menjadi semakin mempesona. Hiasan lampu menuliskan kata-kata tentang berpuasa atau bulan Ramadhan mempercantik tiang masjid. Galata Tower juga terlihat kokoh dan cantik dari jauh. Semuanya. Semua yang mengagumkan ini juga sudah lebih dari cukup untuk membuatku bersyukur. Membuatku tetap bersyukur sudah ditakdirkan berada disini saat ini. Menyaksikan semua keindahan ini selalu membuatku tersenyum. Lagi.

Alhamdulillah ..

Seyrantepe, Istanbul. 8 Juli 2015 (23:45)

Advertisements

2 thoughts on “#Mutluluk

  1. Tos, Ma. Kadang tuh kesel sama mereka. Udah dijawab juga masih tanya lagi pertanyaan yang sama, “kapan pulang”. Maksudnya apa? Mau ngomporin biar kebakar gitu? Hahaa sabar-sabar deh buat kita ><

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s