Egypt, Goresan Mimpi Lama (Part II)

Cuaca panas begini paling enak bermalas-malasan di kamar sambil mengotak-atik gadget yang tidak lepas dari kabel charger. Membuka satu-satu social media, mengobrol dengan teman lama, membaca berita yang numpang lewat di timeline, atau lainnya. Kegiatan favorit generasi masa kini.

Orang Turki akan bilang cuaca hari ini bagus walau sebenarnya panas sekali. Langit biru terlihat bersih, hanya sesekali awan putih bak kapas melintas. Matahari bersinar terik, semua orang yang pergi keluar harus selalu menyiapkan sunglasses supaya mata tidak sakit oleh cahaya matahari yang menyilaukan.

Angin berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan pohon di luar jendela. Jarum jam menunjuk angka dua belas dan lima. Pukul 12:05, sekitar tujuh jam lagi sebelum berbuka. Aku duduk di atas çek-yat, menuliskan ini sebelum mood menulisku hilang.

Aku akan meneruskan cerita tentang mimpi Mesir-ku. (baca: Egypt, Goresan Mimpi Lama)

Aku tetap memimpikan Mesir sampai ke penghujung kelas 12. Aku benar-benar sudah jatuh cinta dengan negeri itu. Bahkan hal buruk yang aku dengar tentangnya pun tidak menggoyahkanku. Walaupun itu aku dengar dari guru yang paling aku kagumi sekalipun. Hampir seluruh guru, teman-teman, dan adik kelas yang tahu tentang mimpiku satu ini. Hal yang bagus. Semakin banyak yang tahu, semakin banyak yang mendoakan, bukan?.

Tapi, malam itu, aku merasa kalau semuanya benar-benar akan berakhir. Malam itu, seperti biasa, Abi datang untuk mengantarkan makan malamku. Jarak rumah-pesantren yang tidak begitu jauh membuat orang tuaku memilih untuk mengantarkan saja makananku dari rumah. Dibanding membayar uang makan yang tidak sedikit tapi menu yang didapat seringkali tidak memenuhi keinginan hati dan perut.

Tidak biasanya, malam itu ketika aku mengambil wadah makanan yang diletakkan di bangku mobil bagian depan, sekilas aku melihat ekspresi serius Abi yang kemudian dilanjutkan dengan kalimat yang membuat keadaan semakin tegang. “Abi mau ngobrol sebentar”. Aku menelan ludah sambil langsung menurut. Duduk bersebelahan dengan Abi. Dan Abi mulai membuka topik pembicaraan tentang pilihan tempat berkuliahku. “Abi setuju dengan pilihan ayuk (‘mbak’ dalam bahasa Palembang) mau kuliah di Mesir, tapi dengan pemberitaan tentang Mesir sekarang, Abi sama Ummi jadi mikir ulang untuk ngasih izin. Mesir lagi kurang aman sekarang,” jelas Abi. Aku langsung mengerti arah obrolan itu. Aku memilih untuk mendengarkan sampai Abi selesai.

Abi melanjutkan dengan membahas hasil tes masuk STEI TAZKIA-ku yang waktu itu mendapat grade A. Dan aku benar-benar terkejut setelah Abi bilang kalau Abi menyarankanku untuk melanjutkan study disana dan bahkan Abi sudah menelpon langsung pihak TAZKIA. Aku pikir Abi akan menyuruhku untuk menunda kuliahku selama setahun sambil menghapal Al-Qur’an dan kemudian memberiku kesempatan di tahun berikutnya. Bukan masalah buatku karena usiaku masih terbilang muda untuk melanjutkan kuliah tahun ini (2014).

Tapi mendengar saran Abi yang ini membuatku berpikir kalau dukungan itu tidak akan ada lagi. Mataku mulai basah. Bayangan semua orang yang mendoakanku melanjutkan kuliah di Al-Azhar terputar jelas dipikiranku saat itu. Menjadi salah satu mahasiswi Al-Azhar berprestasi, mendapat gelar ‘Lc’, semua impian itu, apakah disini akhirnya?

“Tapi ayuk ngga pernah kepikiran buat kuliah ekonomi, Bi.” Aku menatap Abi yang memandang ke depan. Abi pasti sudah tahu kalau aku tidak akan dengan mudah menurut soal itu. Aku lupa jawaban Abi waktu itu. Yang aku ingat, beliau bicara tentang bekerja di bank syariah dan meyakinkan lagi kalau TAZKIA juga salah satu pilihan yang bagus. Aku mulai menangis. Tidak terima. Aku mengerti keputusan Abi dan Ummi, tapi aku tidak mau menyerah begitu saja.

“Ayuk sudah belajar rajin, kok. Ayuk belajar bahasa arab sama Nahwu lebih rajin. Selalu merhatiin guru di kelas. Abi tahu, kan, betapa ayuk mau kuliah di Azhar?,” aku mulai sesenggukan. “Ayuk pengen jadi ayuk kebanggaan Jundi sama Ilyas. Kalo ayuk pun udah kuliah di luar negeri, mereka pasti pengen lebih baik dari ayuk. Ayuk tetap pengen kuliah di Azhar, Bi.” Abi pun sebenarnya kelihatan berat. Tapi mau bagaimana lagi?. Aku tahu beliau hanya ingin melindungiku. Beliau hanya ingin menjadi orang tua yang baik.

Setelah mencurahkan semuanya sambil menangis, di akhir pembicaraan, Abi memberi kesimpulan yang membuatku lega kembali. Abi menarik keputusan beliau untuk benar-benar melarangku berkuliah di Mesir. Abi benar-benar merubah pikiran setelah mendengar curahan hatiku. Abi tidak jadi melarang. Bahkan berbalik mendukung seperti pada waktu-waktu sebelumnya.

“Apapun yang ayuk pilih, selama itu baik, Abi sama Ummi pasti dukung. Sudah cukup nangisnya. Nanti dikira ada apa-apa.” Aku masih memandang kebawah, berusaha menghentikan tangis. Obrolan itu tidak berlangsung lama. Mungkin hanya sekitar 45 menit. Tapi itu adalah 45 menit terpanjang dalam hidupku. Aku mencium tangan Abi. Masih belum tersenyum sampai keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam asrama. Aku tidak pernah menceritakan hal ini kepada teman-temanku. Seingatku memang belum pernah.

Ini masih cerita di bagian awal sebenarnya. Cerita yang membuatku semakin yakin kalau kita sebagai manusia memang tidak bisa berbuat banyak selain berdoa dan berusaha. Allah memang berjanji bahwa Ia tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu merubah sendiri nasibnya yaitu dengan giat berusaha dan berdoa. Tapi mau bagaimanapun, Allah juga lebih tahu mana yang paling baik untuk tiap hambaNya.

“Walaupun seluruh isi langit dan bumi bersekutu untuk menjadikan sesuatu, jika Allah tidak menghendakinya, maka tidak jadilah ia. Begitupun walau seluruh isi langit dan bumi bersekutu untuk menolak sesuatu, jika Allah menghendakinya terjadi, maka terjadilah ia”

*Finished at Florya Beşyol Kız Öğrenci Yurdu, 22nd of August 2015 (00:29)

Advertisements

One thought on “Egypt, Goresan Mimpi Lama (Part II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s