The Amazing Two

İyi günler! 😀
Hari ini, aku sangat bersemangat untuk menuliskan banyak hal. Yup!, mood menulisku sedang bagus sekali.

Aku memilih untuk tidak pergi kemana-mana hari. Cukup bersantai di kamar, menonton vlog milik Ellie dan Jared with their very adorable kids, atau tidur siang sedikit lebih lama. Libur panjang ini akan berakhir sebentar lagi dan aku belum tahu bagaimana sibuknya dunia perkuliahan. They told me about many tasks, homeworks and things like that. Jadi aku pikir tidak ada salahnya untuk bersantai (tidur) lebih banyak sebelum nantinya aku menyesal 😛 .

Tepat pada tanggal 17 September nanti, genap sudah satu tahun kami tinggal disini. Waktu berjalan sangat cepat. Nereden nereye. Tapi aku akan memberi tahu beberapa hal konyol tentang diriku sendiri terkait dengan ini. Sudah hampir setahun aku tinggal di Istanbul hingga sudah terbiasa dengan ramai dan macetnya. Aku sudah berkali-kali datang mengunjungi Sultanahmet a.k.a Blue Mosque. Tapi kali pertama aku mengunjungi Hagia Sophia adalah sekitar enam pekan yang lalu. Padahal Hagia Sophia letaknya berseberangan dengan Blue Mosque. Kamu bisa memandangi Blue Mosque dan setelah kamu membalikkan badan, kamu pun akan terpesona dengan kekokohan Hagia Sophia. Well, itu salah satu hal konyolnya.

Masih banyak orang yang keliru menyebut Hagia Sophia adalah Blue Mosque. Padahal dari tampilan depan pun keduanya sudah jauh berbeda.

image
Blue Mosque (atas) dan Hagia Sophia (bawah). (source: Google)

Kita tidak perlu membayar tiket untuk bisa masuk ke dalam masjid Blue Moaque. Syaratnya adalah menutup aurat dan menjaga ketertiban. Untuk pengunjung non-muslim biasanya bisa meminjam pakaian tertutup sebelum masuk ke masjid. Aku belum yakin apa mereka harus membayar untuk pakaian itu atau tidak. Tapi kebanyakan membawa sendiri pashmina yang kemudian mereka pakai sendiri sebagai tutup kepala atau rok ala kadar.

Kenapa disebut sebagai ‘Blue’ Mosque? Menurut Wikipedia dan beberapa website lain yang aku kunjungi, masjid ini dihiasi dengan 20.000 keramik yang berwarna biru. Sehingga orang-orang Eropa menyebutnya sebagai Masjid Biru.

image
Blue Mosque. (source: Google)

Masjid ini selalu ramai pengunjung. Bahkan ada kalanya kita harus antri panjang sebelum bisa masuk. Blue Mosque masih digunakan sebagai tempat ibadah aktif. Jadi, waktu kunjungan masjid akan ditutup untuk wisatawan ketika sudah masuk waktu shalat dan dibuka kembali beberapa saat setelah shalat berjamaah selesai dilaksanakan. Sama halnya seperti masjid-masjid lain.

Kalau kita bisa masuk ke dalam Blue Mosque tanpa harus membayar tiket, kita harus membayae tiket yang lebih mahal untuk bisa masuk ke dalam Museum Hagia Sophia. Tarif normalnya adalah 4o TL dari yang sebelumnya 30TL atau sekitar 150 ribu rupiah untuk sekali masuk. Tapi untuk mahasiswa seperti kami, dengan 40TL kami sudah bisa memiliki müzekart (kartu museum) yang berlaku selama setahun dan bisa digunakan kapan saja. Dan kartu ini juga digunakan di museum lain yang menerima kartu museum seperti Istana Topkapı, Museum Arkeologi, dan lain-lain.

Hagia Sophia berarti ‘kebijaksanaan suci’ (Holy Wisdom) dalam bahasa Yunani. Awalnya, Hagia Sophia dibangun sebagai katedral. Sampai pada tahun 1453 ketika konstantinopel ditaklukkan oleh Muhammad Al Fatih, Hagia Sophia diganti kegunaannya menjadi masjid dengan disingkirkannya bel, altar; ditutupnya mosaic bergambar Jesus, Bunda Maria, malaikat, dan orang suci kepercayaan umat Kristen; dan ditambahkannya mihrab, minbar, dan 4 menara.

Hagia Sophia digunakan sebagai masjid selama 478 tahun (1453-1931) sebelum kemudian ditutup untuk umum selama empat tahun dan dibuka kembali sebagai museum atas perintah Mustafa Kemal Ataturk (1935).(Source: Wikipedia)

Sekarang, kamu bisa melihat dua simbol dari dua agama yang berbeda berada  berdampingan dalam satu tempat yang sama.

image
Hagia Sophia. (source: Google)

Hagia Sophia memiliki dua lantai. Di galeri lantai atas, kita bisa melihat mosaik bergambar Yesus, Bunda Maria, dan lain-lain. Pengunjung bisa dengan leluasa mengambil foto disini. Namun, ada beberapa peringatan yang mengingatkan pengunjung untuk tidak mengaktifkan flash kamera ketika memotret.

Aku pernah dengar dari kakak senior kalau arsitek Hagia Sophia ingin membangun bangunan yang mengalahkan keindahan istana Nabi Sulaiman a.s.. Terwujud atau tidaknya keinginan itu, aku tidak tahu. Tapi Hagia Sophia benar-benar cantik dari luar dan dalamnya.

Terakhir aku berkunjung kesana, disisi bagian kiri sedang ada perbaikan. Jadi tidak begitu leluasa memotret bagian dalam dari pintu depan. Tapi, aku akan berkunjung lagi nanti. 🙂

Getting there:
Hagia Sophia dan Blue Mosque berada sangat dekat dari stasiun tramvay ‘Sultanahmet-Blue Mosque’

Esma, Istanbul
(Updated 5/01/2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s