Egypt, Goresan Mimpi Lama (Part III)

Hari-hariku kembali seperti biasanya. Seolah obrolan dengan Abi malam itu tidak pernah terjadi. Ketika bertemu, Abi sering memberi semangat walau dengan wajah lelahnya. Ada saatnya ketika aku memandangi wajah lelah Abi atau Ummi, aku ingin sekali waktu bergulir begitu cepat, bahkan lebih cepat dari laju kuda di atas padang pasir yang terbakar. Sehingga aku tiba di hari-hari ketika aku sudah cukup mampu untuk meringankan seluruh beban mereka. Hari-hari ketika aku benar-benar berguna sebagai seorang anak sulung.

Abi mengizinkanku untuk ikut les persiapan untuk tes beasiswa Timur Tengah. Dan alhamdulillah beliau tidak terlihat keberatan. “Abi akan usahain semuanya,” kata Abi, membuatku lebih bersemangat.

Ada beberapa teman-temanku yang lain yang ikut persiapan tes beasiswa Timur Tengah waktu itu. Kami belajar siang, sore, bahkan malam setelah waktu Isya di laboratorium bahasa. Menerjemahkan, mengulang pelajaran Nahwu, bicara dalam Bahasa Arab, meng-i’rob halaman perhalaman, dan kadang diisi dengan menit-menit ketika guru kami memberi kata-kata motivasi atau berbagi cerita pendek tentang perjuangan mereka dulu. Lihat?, yang namanya orang sukses pasti pernah mengalami masa-masa penuh perjuangan, masa-masa memaksa diri untuk kuat. Karena begitulah Allah mempersiapkan mereka agar nantinya tidak merasa sombong setelah mencapai puncak. Hukum energi pun membuktikan kalau energi keluar=energi masuk. Apa yang akan kamu dapat tidak akan jauh dari apa yang telah kamu usahakan sebelumnya.

Suatu sore, ada pengumuman yang terdengar dari toa yang tersebar di asrama-asrama santriwati kalau seluruh santriwati kelas 3 aliyah diharapkan untuk berkumpul di kantor madrasah. Ya, dulu aku sekolah di pesantren. Bukan 3 tahun, tapi 12 tahun. Berturut-turut dari ibtidaiyah, setingkat SD, sampai aliyah. Bosan? Tidak. Lagipula, kalau aku tidak pernah berada disana, siapa tahu aku tidak akan berada di Turki sekarang.

Dan sore itulah aku diperkenalkan Allah dengan takdir yang sudah Ia tuliskan untukku. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas dipikiranku hari itu. Sesuatu yang sama sekali tidak aku pernah aku tahu atau dengar sebelumnya. Sore itu, kami diperkenalkan dengan beasiswa pemerintah Turki untuk mahasiswa asing. Turkiye Burslari (Türkiye Bursları). Teman-temanku banyak yang berminat ketika mendengar tawaran beasiswa yang diberikan. Tapi semuanya ciut ketika tahu kalau tesnya berbahasa Inggris dan rata-rata nilai diatas 7. Dan mereka mendorongku. “Kamu pasti keterima”, “kamu kan pinter, mudahlah itu buat kamu”, dan blablabla.

Aku menyayangkan mereka yang sudah menyerah duluan. Dan aku pun maju sendiri.

Aku sibuk ikut kelas persiapan tes itu sampai hampir lupa kalau deadline pendaftaran Türkiye Burslari sudah semakin dekat. Waktu itu 10 hari sebelum deadline. Aku diberitahu baiknya apply satu minggu sebelum deadline karena bisa jadi sistemnya bermasalah karena terlalu banyak yang apply di hari-hari terakhir. Aku punya dua hari untuk menyiapkan berkas-berkas, mengetik, meminta tanda tangan kepala sekolah, dan meng-scan semuanya. 8 hari sebelum deadline, aku mulai mencoba apply sambil terus berharap diberi Allah kemudahan.

Tidak cukup satu hari, aku baru menyelesaikan semuanya 3 hari kemudian (14 Mei 2014). Ada saja masalah yang aku hadapi beberapa hari itu. Untungnya, ada Abi dan Ummi yang menguatkanku, meyakinkanku untuk tidak menyerah. Ya Allah, begitu banyak limpahan nikmat-Mu. Termasuk orang tua luar biasa dengan aku yang terpilih menjadi anak mereka. Alhamdulillah..

Singkat cerita, beberapa hari kemudian, kami sudah harus berangkat ke Jakarta karena hari H sudah sebentar lagi. Kami berangkat dari pesantren menggunakan bis sewaan. Teman-teman kami banyak yang ikut mengantarkan ke bis. Terlalu dramatis dengan berkali-kali berpelukan saat itu.

Sepanjang perjalanan, kami tidak lupa untuk membolak-balik halaman-halaman fotokopian yang diberikan ketika persiapan dan juga buku catatan yang tidak sedikit coretannya, mengulang hapalan, dan juga menghubungi orang-orang terdekat untuk mendo’akan kami ketika tes nanti.

Selama berada di Ciputat, Jakarta, kami menginap di asrama mahasiswa. Dari sana kami hanya perlu berjalan sekitar 10 menit untuk tiba di lokasi tes. Ruang tes tulis dibedakan berdasarkan negara yang dituju oleh tiap peserta. Ada Mesir, Sudan, dan Maroko. Ada banyak sekali orang hari itu dan semuanya terlihat jauh lebih pintar dan siap dari kami. Bismillah..

Tes tulisku tidak berjalan begitu lancar menurutku. Aku hanya mampu berdoa, berharap kerja kerasku serta Abi dan Ummi terbayar sepadan nantinya. Pada ujian lisan, dipanggil per-dua orang ke dalam ruangan. Lainnya menunggu di depan ruangan agar langsung siap kalau tiba-tiba namanya dipanggil. Tidak ada tempat duduk, kami semua lesehan dilantai sambil sibuk sendiri buka-tutup buku dan Al Qur’an. Setelah giliranku selesai, aku hanya kembali berdoa. Usahanya sudah, ikhtiyarnya selesai, hanya tinggal ber-tawakkal. Biar Allah yang memutuskan hasil terbaiknya.

Beberapa minggu kemudian, “kita berdua lulus!,” sore itu ketika aku sedang khusyuk menonton TV, Intania, temanku datang mengetuk pintu dan langsung mengejutkanku dengan berita bahagia itu. Kami lulus!. Kami lulus tes tahap pertama!. Ramai sekali rumah kecilku karena suara kami berdua berteriak kegirangan. Dari 18 orang kami yang berangkat tes tahap pertama, sayangnya yang lolos ke tahap kedua hanya berempat. Aku, Intania, dan dua orang santri. Awalnya kami merasa tidak tega untuk memberi tahu yang lain. Tapi pada akhirnya, yang lain mampu berlapang dada dan mendoakan kelancaran tes kedua kami.

Jangan tanya apa aku dan orang tuaku bahagia hari itu. Kami sangat bahagia. Terutama aku. Aku merasa perjuangan kami ada hasilnya. Walaupun sebenarnya, itu baru tahap awal. Tahap-tahap lainnya menunggu untuk diselesaikan. Hal yang sama, yang diperlukan hanyalah usaha, keyakinan, dan doa menuju tes tahap kedua itu. Tapi, pikiran dan doaku sebenarnya sudah sejak beberapa bulan sebelumnya tidak terfokus kepada satu tujuan. Permohonanku sudah bercabang sejak sore hari waktu kami dikumpulkan itu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Siapa yang waktu itu bisa menjamin kalau aku akan menerima beasiswa Turki?. Siapa yang bisa memastikan?. Siapa yang bisa menentukan pilihan terbaik bagiku?. Hanya Allah. Dan ketentuan Allah itu rahasia. Hanya dapat kita ketahui dan pahami setelah ia terjadi.

Jadi apa yang aku lakukan hari itu?. Yakin dan terus berdoa. Sungguh, kekuatan doa dan keyakinan itu sangat dahsyat, teman. Dan aku memutuskan untuk meneruskan.

Avcılar. 5 Oktober 2015, 16:27

Esma, Istanbul

Advertisements

One thought on “Egypt, Goresan Mimpi Lama (Part III)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s