You’ll Find the Way (An Awardee’s Journey)

“Kak, saya boleh minta kontaknya buat tanya-tanya?”
“Salam kenal kak, nama saya blablabla. Boleh tanya-tanya ga?”
“Kak, minta tips atau trik biar bisa keterima di YTB dong”
… dan lain-lainnya. Tidak satu dua kali aku memberi tahukan nama akun pribadi sosial mediaku kepada orang-orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Banyak sekali yang bertanya soal apa itu beasiswa YTB/Türkiye Bursları?, bagaimana cara mendaftar, apa saja yang harus dipersiapkan, dan pertanyaan serupa yang kemudian aku jawab dengan meminta mereka membaca informasi dasar itu di blog resmi Türkiye Bursları. Aku hanya akan menjawab penjelasan mengenai hal-hal yang mungkin tidak dijelaskan mendetail di website. Tapi lebih sering lagi menjawab pertanyaan mengenai tips, dan ceritaku sehingga bisa menerima beasiswa penuh dari Türkiye Bursları.

Aku sudah sering menceritakan hal yang sama soal pengalaman terbesarku ini baik itu di Ask.fm, LINE, atau chatbox Instagram. Tapi aku akan menceritakannya juga disini.

Jadi aku berhasil mendaftar setelah tiga hari sejak hari pertama mencoba. Ya, ada-ada saja masalah yang muncul. Mulai dari aku dan Abi yang lupa untuk me-convert scanned documents ke file PDF, koneksi internet lelet, karena sesuatu dan lain hal membuatku harus ganti email, dokumen salah sehingga harus me-print ulang dan meminta tanda tangan kepala sekolah lagi, berulang kali menuliskan essay karena berulang kali terhapus (akhirnya aku kopas ke Ms. Word sehingga tidak harus ditulis ulang terus menerus), dan lain-lain. Dan masalah juga masih muncul di hari terakhir ketika akhirnya aku berhasil me-submit semua dataku.

Malam itu (14 Mei 2014), koneksi internet lancar, dan semua dokumen yang sudah lengkap juga berhasil diupload. Tapi entah kenapa aku tidak menemukan tombol ‘Submit’ di tahap terakhir. Selalu ada peringatan untuk mengulang beberapa tahap sebelumnya.

Waktu itu aku memilih jurusan Teologi Islam. Abi sebenarnya kurang setuju dengan berpendapat, “sudah ke Turki sekalian aja jurusan umum”. Tapi aku masih bersikeras. Dan karena menghadapi masalah itu, aku akhirnya memutuskan untuk mengulang dari awal semuanya dan mengganti jurusan. Ketika aku sedang me-scroll down pilihan jurusan dan hampir memilih Hubungan Internasional, Abi melihat pilihan Jurnalistik dan langsung menyuruhku memilih itu. Aku sudah sangat lelah malam itu. Tanpa banyak komentar, aku pun menurut. Dan .. kami langsung bisa menemukan tombol ‘Submit’. Masyaallah. Entahlah, tapi malam itu terkesan magis bagiku. Ridho Allah benar berada pada ridho orang tua.

***
Hari-hari keesokannya, aku kembali disibukkan dengan kelas persiapan tes beasiswa Timur Tengah. Kembali berkutat dengan bahasa Arab dan hapalan Al-Qur’an. Sampai aku lupa untuk mengecek email.

Aku dan keempat temanku kembali ke Jakarta untuk tes tahap kedua untuk beasiswa Timur Tengah pada tanggal 15 Juni, kalau aku tidak salah. Kami kembali menginap di asrama mahasiswa. Hari ketika aku datang untuk melakukan tes, aku merasa benar-benar tidak enak badan. Aku merasa sangat sakit tapi tetap memaksakan diri untuk datang. Itu dikarenakan karena sehari sebelumnya, ketika baru tiba di asrama, aku dan Intania, temanku, bukannya istirahat, malah berjalan-jalan ke sekitar asrama. Membeli makanan, dan lain-lain. Oh, ya. Hari itu kami memberi kebap Turki yang rasanya memang enak. Tapi setelah berangkat kesini, aku tahu kalau rasanya jauh berbeda dengan rasa kebab disini.

Tes kedua waktu itu adalah yang paling sulit buatku dengan kondisi badan yang sedang sangat tidak sehat. Pusing, aku bahkan hampir muntah. Terus memandang jam berharap semuanya cepat selesai.

Setelah menyelesaikan tes tulis dan lisan, aku terduduk di teras bangunan yang lain bersama guru pembimbing kami, menunggu yang lain. Hari itu hujan. Udara tidak dingin, tapi lebih dari cukup untuk membuatku merasa lebih buruk. Sepulangnya ke asrama, aku langsung tertidur sampai mengigau. 😂

Pada tanggal 18 Juni 2014, satu hari setelah kembalinya kami dari Jakarta, kami diwisuda. Sungguh aku tidak merasa bahwa aku akan jadi alumni sekolah hari itu. Aku tidak akan meneruskan sekolah di pesantren itu lagi, itulah akhirnya, tapi aku bahkan baru tiba di gedung wisuda satu jam setelah acara dimulai. Aku bahkan meminjam flatshoes lama milik temanku. Aku bakan tidak menyetrika seragam wisudaku hari itu. Karena aku sibuk membantu Ummi yang waktu itu memiliki pesanan snack sampai seribu lebih. Walaupun ada yang membantu, tetap tidak tega melihat Ummi masih harus turun tangan dengan keadaan hamil 5 bulan.

Acara selesai pada pukul 12 siang, dan semua teman-temanku satu persatu pulang ke rumah masing-masing. Dan aku baru mulai merasa sedih dan menangis sore harinya, ketika menyadari kamar kami sudah kosong. Hanya menyisakan kamar berantakan dengan dipan-dipan tanp kasur. Aku pun dijemput Abi pulang sore itu.

19 Juni 2014, pukul 04.00 pagi, rumah kami heboh. Tidak ada kebakaran atau kemalingan. Aku tidak sengaja berinisiatif membuka email dan mendapatkan satu email yang ditunggu-tunggu sejak satu bulan yang lalu, email undangan wawancara di Kedutaan Besar Turki di Jakarta!. Dan kalian tahu?, pada undangan itu tertulis kalau wawancaraku akan dilaksanakan pada tanggal 21 Juni 2014, pukul 14.30. 21 Juni 2014!, dan aku masih berada di Palembang saat itu, ratusan kilometer dari Jakarta dan masih belum tahu dimana tepatnya Kedubes itu berada. Maka siang itu, setelah mengambil beberapa dokumen lainnya di kantor, aku dan Abi berangkat. Menggunakan mobil, Abi sendiri yang menyetir karena kami belum pernah ke Jakarta menggunakan pesawat sebelumnya dan tidak tahu harus bagaimana setelah tiba. Siang 19 Juni, aku dan Abi berangkat ke Jakarta.

Tidak tega melihat Abi menyetir mobil sejauh itu, Palembang-Jakarta. Jadi aku bertekad lagi untuk melakukan semuanya semaksimal mungkin. Aku harus melakukan yang terbaik agar peluh dan lelahnya Abi, dan Ummi di rumah, tidak pernah sia-sia. Aku terus berdoa. Berdoa dan meyakinkan diriku kalau Allah pasti memberikan jalannya.

Kami menginap di rumah saudara di Depok, ya, lumayan jauh dari Jakarta, tapi hanya itu yang bisa kami lakukan. Setelah beberapa jam tersesat karena mengambil jalan yang salah, kami akhirnya tiba tengah malam. Dan keesokan harinya, 21 Juni 2014, kami berangkat pada pada pukul 8 pagi agar bisa tiba di Kedubes tepat waktu.

Kami tiba satu jam lebih awal. Hari itu juga hujan, beberapa jalan tergenang air hingga lutut orang dewasa. Tapi aku tidak peduli, aku gemetaran, khawatir apa aku akan bisa melakukan wawancara dengan baik. Tanganku dingin, aku banyak diam di mobil walaupun dua adik sepupuku yang ikut mengantar benar-benar berisik.

Aku dianter ke depan gerbang karena mobil kami dilarang masuk. Abiku heboh sekali saat itu 😂. Setelah masuk pun, aku hanya diizinkan membawa berkas-berkas. Tas dan handphone ditinggalkan di pos satpam.

Aku ingat taman di tengah halaman. Tanamannya basah karena hujan. Sepi sekali hari itu. Membuatku sangat tidak nyaman. Aku disuruh menunggu di dalam sebuah ruangan yang didalamnya sudah ada seorang gadis. Kami berkenalan, dan dia menceritakan persiapannya menghadapi wawancara hari itu. Persiapan? Aku? Aku tidak punya persiapan apa-apa. Hal yang berhubungan dengan bahasa Inggris yang aku lakukan sebelum wawancara hanyalah mendengarkan lagu bahasa Inggris sepanjang perjalanan. Dan, ya, membaca esaiku pada pendaftaran online.

Gadis itu bicara bahasa Inggris lancar sekali. Ya Allah, dia pasti lulus. Persiapan dia matang sekali, dan dia juga terlihat pintar. Bagaimana denganku?. Aku hanya berserah diri mengharapkan yang terbaik.

Giliran gadis itu dipanggil, aku memberinya semangat kepadanya yang tampak tegang. Dia berlalu meninggalkan aku sendirian di ruangan dingin dan sepi itu. Hanya ada aku dan pajangan foto Turki di dinding. Sampai akhirnya ada gadis lain yang datang. Tidak lama setelah kami berkenalan, giliranku dipanggil.
“Kamu pasti bisa, kok,” kata gadis itu. Tapi wajahnya masih terlihat tegang. Apa yang terjadi di ruangan itu?. Apa saja yang mereka tanyakan?. Kemudian dia memberitahuku ruangan mana yang harus aku tuju.

Ruangannya berada di gedung sebelah. Ada dua pintu, aku membuka salah satunya dan menemukan kalau keduanya mengarah satu ruangan yang sama. Setelah masuk, aku melihat banyak sofa dan meja. Ada jendela besar yang kalau tidak salah diluarnya terdapat sebuah kolam. Interior ruangan terlihat bagus walau lampu tidak dinyalakan. Hanya satu ruangan yang memiliki nyala lampu. Ruangan dengan pitu terbuka yang menjadi ruangan wawancara kami hari itu.

Ada tiga orang pria didalamnya yang menyambutku ketika aku masuk. Aku disuruh menyerahkan nilai ujian akhirku, dan mulai dilempari pertanyaan oleh pria ujung sebelah kiri. Aku disuruh mengenalkan diri, menceritakan kegiatanku di waktu luang, hobby, dan lain-lain. Entah kenapa semua kosakata bahasa Inggrisku seolah berlarian di kepala tapi susah dikeluarkan melalui mulut. Aku tegang. Apalagi pria yang berada di tengah hanya melihat ke arahku sambil menyatukan kedua tangannya dan meletakannya di depan mulut. Mungkin dia psikolog, memastikan apa aku memang yakin dan pantas untuk menerima beasiswa ini.

Aku banyak ditanya soal alasan memilih Turki, alasan memilih jurusan, apa aku mendaftar beasiswa di tempat lain, rencanaku ke depannya, dan lain-lain. Hanya sekitar 15 menit yang menjadi salah satu 15 menit paling lama dihidupku. Aku menjawab semuanya dengan apa adanya, berusaha terlihat santai dan yakin dengan jawaban-jawabanku. Hingga akhirnya aku merasa nyaman pada menit-menit terakhir karena pria tambun sebelah kanan tersenyum dan memberiku pertanyaan tambahan yang bisa dijawab pendek.

Dan saat-saat menegangkan itu pun berakhir. Aku keluar dari ruangan dengan sedikit merasa lega. Walau kecemasanku berganti, apa aku akan diterima?. Apa mereka menyukai jawaban-jawabanku?. Apa aku terlihat pantas diterima?. Dan pertanyaan-pertanyaan serupa yang baru aku dapatkan jawabannya satu bulan kemudian.

2 hari sebelum hari raya Idul Fitri.
5 hari sebelum hari ulang tahunku.
26 Juni 2014, pagi ketika aku (kembali) tidak sengaja membuka email dan mendapatkan email Kabul Mektubu, surat penerimaan yang menandakan kalau satu bangku kuliah di Turki sudah menjadi milikku. Alhamdulillah .. 😥

Hari-hari berat itu terbayar sudah. Aku bahagia sekali melihat senyuman Ummi yang seolah tidak percaya, dan SMS singkat dari Abi yang sedang tidak berada disana yang isinya,

“Abi sudah tahu dari awal. Abi bangga sama ayuk”

 

Advertisements

3 thoughts on “You’ll Find the Way (An Awardee’s Journey)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s