Amazing, Just The Way It Is

8 derajat, batinku membaca prakiraan cuaca hari itu. Tidak terlalu dingin sepertinya. Tapi angin tetap berhembus membawa hawa dingin. Menelisik ke dalam sela-sela jaket dan baju hangat orang-orang. Sinar matahari juga tidak bisa berbuat banyak. Hangatnya tidak sampai ke tubuh.

Orang-orang di dalam metrobus sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Termasuk diriku yang juga sibuk sendiri. Sibuk mengamati jalanan ramai yang tiap hari kulewati. Tidak ada yang berbeda. Tapi mataku asyik saja mengamatinya.

Metrobus yang terus berjalan melewati halte-halte yang dipenuhi orang-orang. Satu dua memaksa masuk. Mendorong tubuh kecilku yang akhirnya bingung mencari pegangan. Terhimpit orang-orang besar sedang halte tempatku turun masih lumayan jauh.

Hal yang biasa merasakan tubuh terhimpit begitu disini. Semua orang terburu-buru. Semuanya dikejar waktu sedang metrobus yang lewat seringkali sudah penuh sekali isinya. Metrobus kosong di beberapa halte pun diperebutkan orang-orang dewasa yang saling dorong berebut tempat duduk. Mereka lebih terlihat seperti anak-anak berebut gulali warna-warni. Sudah tidak peduli lagi apa yang tadi terkena siku atau tidak sengaja terinjak. Yang penting gulalinya dapat. Yang penting bisa duduk sepanjang jalan.

Dan itu baru metrobus. Kota ini bukan ibu kota negara. Tapi kadang ramai dan macetnya sudah lebih dari cukup untuk merusak mood seharian. Semua orang datang. Semua orang pulang-pergi memenuhi kendaraan umum manapun tiap harinya. Metrobus, tramvay, metrotren, marmaray, ferryboat. Dari pagi, siang , sore, sampai ke malam. Tidak ada habis-habisnya penumpang yang datang. Gadis pendek sepertiku sedikit banyak sudah terlatih dorong-dorongan. Satu-satunya cara untuk bertahan agar tidak terhimpit hingga sulit bernapas.

Dari metrobus, aku harus berganti kendaraan ke tramvay, kereta listrik, untuk bisa tiba di kampus. Tramvay lebih cepat dibanding otobus (bus) yang berbagi jalan dengan kendaraan pribadi lain. Berbagi jalan sama dengan berbagi kemacetan. Dan nasibku di dalam tramvay lebih baik. Karena naik dari stasiun terakhir, biasanya akan ada banyak tempat duduk kosong. Tapi itu pun bergantung kepada berapa banyak penumpang yang menunggu di stasiun. Banyak jumlahnya? Maka tanpa komando lagi tubuh sudah sigap bersiap dorong-dorongan.

“Merhaba,” tepukan pelan membuatku kaget. Menyadarkanku yang dari tadi sibuk memikirkan banyak hal yang terus saja bersambung dari satu ke yang lain.
“Ah, merhaba,” dia tersenyum, seorang ibu-ibu yang kelihatan sedikit lebih tua dari Ummi. Aku membalas senyumannya. Melepas headset dan mematikan lagu. Ibu itu menawarkanku duduk. Lama sekali ternyata aku melamun hingga tidak sadar kalau isi metrobus sudah berkurang setengahnya.

“Asal kamu dari mana?,” tanyanya berbahasa Turki. Senyumannya hangat sekali.

“Hmm, Indonesia,” jawabku. Sekali mengulang karena si ibu kurang mendengar jelas. Dan rautnya kemudian berubah mendengar ‘Indonesia’. Bilang banyak sekali bertemu orang Indonesia di Mekkah dan semuanya ramah dan baik sekali. Aku tersenyum malu-malu dan berterima kasih menanggapi pujian si ibu.

“Apa kamu bersekolah disini?,”

“Ya, di Istanbul University. Jurusan Jurnalistik,”

“Wah, kau ingin jadi seorang jurnalis rupanya,” si ibu mengelus kepalaku.

“Bagaimana? Kamu suka Istanbul? Disini ramai sekali, bukan?,”

“Hmmm ..” macet, dorong-dorongan, asap rokok dimana-mana, tidak ada gerobak bakso keliling, ramai, berisik

“Hmm, ya. Tapi walaupun ramai, aku sudah sangat mencintai Istanbul, Bi. Istanbul adalah kota yang cantik sekali!.”

Ya, dimana lagi aku bisa merasakan sejarah dengan berdiri sedekat ini dengannya? Dimana lagi aku bisa berkeliling sesukaku dan melihat keindahan sana-sini? Dimana lagi aku bisa merasakan kehangatan seperti ini? Dimana lagi aku bisa semauku mengunjungi tempat yang banyak orang memimpikannya?.

Sudah ‘resiko’-nya Istanbul dikunjungi banyak orang begini. Bagaimana tidak? Cantiknya Istanbul memang sebegitu mempesonanya. Bahkan sudah sedari dulu menjadi rebutan, bukan?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s