White Town

(sumber gambar: Google)

“Salju sedang di perjalanan ke Istanbul, sodara-sodara. Malam ini sampai, insyaallah”
Seorang teman membuka pembicaraan di grup Whatsapp. Sudah dari beberapa hari sebelumnya sudah bisa diketahui dari prakiraan cuaca kalau pada akhir tahun Istanbul akan berselimut putih. Itu hanya ramalan cuaca, mesin dan manusia yang bekerja. Bisa jadi ramalan itu salah. Bagaimana pula salju akan turun dalam waktu dekat dengan suhu se-‘hangat’ ini?, gumamku sepanjang perjalanan pulang menuju asrama.

They said it will be snowing tonight,” ujarku pada teman satu kamar.
Yeah, I saw the weather forecast and it says it will be snowing. But I don’t know
I’m not sure it will be snowing tonight cause I didn’t even feel cold today
Yeah

Tapi ini tentang cuaca Istanbul yang terkenal dengan kız gibi-nya. Kız gibi, seperti seorang gadis. Labil maksudnya, seperti gadis yang mood-nya bisa berubah cepat dalam satu waktu. Karenanya, tidak jarang cuaca Istanbul membawa kejutan. Kejutan menyebalkan seperti ketika langit cerah yang tertutup awa mendung dan disusul hujan beberapa saat kemudian, misalnya. Tapi, kejutan biasanya lebih tepat digunakan untuk hal positif bukan?. Kemarin, pada 30 Desember 2015 adalah salah satu hari ketika cuaca Istanbul membawa kejutan menyenangkan. Kejutan yang sudah lumayan lama ditunggu, ditanya-tanya kapan datangnya.

Hari itu adalah ujian final hari terakhir, ada dua ujian yang salah satunya dimulai pada pukul 10.00 pagi. Aku berangkat awal karena jarak asrama menuju kampus yang lumayan jauh. Selesai sarapan, aku melihat ke luar pintu kaca asrama. Tidak ada apa-apa. Masih sama saja seperti kemarin. Ramalan cuaca itu meleset sekali, mana ada salju turun malam tadi? Langit bahkan terlhat cerah diluar, batinku sambal melangkah keluar.

Udara memang lumayan dingin, hidung dan mulut bisa meneluarkan asap ketika berbicara, tertawa, bahkan ketika bernafas. Mungkin Si Putih akan datang malam ini, atau mungkin esok. Tapi, setibaku di sebuah halte bernama Cevizlibağ, tempatku berpindah kendaraan dari metrobüs ke tramvay, langit sudah terlihat mendung, butiran es kecil mulai turun. Pelan. Sedikit. Tapi dalam sekian menit sudah menghujani kerumunan orang disana, termasuk aku yang kebetulan tidak mengenakan jaket ber-hoodie. Rasanya sama saja dengan dihujani dengan milyaran tetes air dari langit. Bedanya, dengan hujan es atau salju, tubuh kita tidak akan langsung basah, hanya dipenuhi butiran kecil dari atas ke bawah.

Sepanjang perjalanan, aku melihat keadaan yang sama diluar. Orang-orang menutup kepala dengan tas, hoodie jaket, syal, dan ada pula beberapa yang membawa payung. Tapi setibaku di stasiun tramvay Beyazıt-Kapalıçarşı (Grand Bazaar) yang dekat dengan kampusku, hujan es sudah berhenti. Benar-benar berhenti. Bahkan terlihat matahari bersinar dari balik gedung disana. Cuaca Istanbul ini benar-benar.

Ujian pertama selesai, ada waktu 1 setengah jam sebelum ujian kedua dimulai. Aku dan beberapa teman sesama yabancı (foreigner) memutuskan untuk duduk di sofa lantai bawah. Mengobrol, membicarakan ujian sebelumnya, sambil kembali membaca materi pelajaran. Dan tiba-tiba..

Bak! Kar yağıyor!,” seseorang berkata sambal melihat ke luar jendela besar. Aku spontan ikut menoleh keluar. Benar saja, hujan es sedang turun lumayan deras di luar. Dahan pepohonan yang ‘gundul’ tanpa daun bergoyang kencang ditiup angin. Orang-orang yang masih berada diluar menyegerakan diri masuk ke dalam gedung untuk menghangatkan badan. Well, hujan es berbeda dengan hujan salju karena es lebih padat, sedang salju lebih ringan. Tapi keduanya sama menakjubkannya.

Jadilah hari itu, sehabis makan siang di ruang makan kampus, aku dan seorang teman dari Filipina yang kelihatan lebih excited dengan salju ini, bermain-main sebentar sambil merekam beberapa video dan kemudian pulang. Pipiku mulai memerah, tangan mulai terasa kaku, dan hidungku mulai ‘menangis’ karena dinginnya udara saat itu.

Salju di Istanbul tahun ini memang datang terlambat. Tapi prakiraan cuaca mengatakan kalau badai salju di beberapa wilayah pada tahun ini akan jadi lebih parah dibanding tahun sebelumnya. Di kota-kota lain yang sudah lebih dahulu dihujani salju, suhu udaranya bahkan bisa mencapai -20 derajat. Entah bagaimana orang-orang disana bisa bertahan dengan udara se-ekstrim itu. Di Istanbul yang baru bersuhu -2 derajat saja sudah merepotkan sekali rasanya. Bayangkan saja, kamu harus mengenakan jaket, syal, dan boot lengkap hanya untuk membeli sesuatu dari toko kecil yang sebenarnya hanya berjarak 10 langkah dari pintu asrama. Wuff..

Hari kedua turunnya salju, jalanan, atap-atap bangunan, pinggir jalan, mobil yang terparkir, semua sudah tertutup salju tebal. Semuanya sudah tertutup ‘selimut’ putih dingin. Cantik sekali. Tempat-tempat terlihat bersih. Beberapa anak kecil yang berpakaian tebal lengkap sedang bermain lempar bola salju diluar. Beberapa terbahak-bahak melihat temannya terpleset jalanan yang saljunya yang sudah mencair.

iki-bolgede-yogun-kar-yagisi-NDQ0N

(sumber: Google)

Setelah beberapa tahun, akhirnya pergantian tahun ini menjadi pergantian tahun yang berbeda dengan white new year’s eve atau malam tahun baru yang putih. Di malam tahun baru pun, salju masih turun dengan lebat. Jalanan yang tadi baru dibersihkan dengan sekop, dalam beberapa menit sudah tertutup es lagi. Kembang api yang dihidupkan pun tidak terlihat jelas keindahannya karena tertutup kabut dan langit mendung. Mana ada acara bakar-bakar sate atau jagung diluar rumah.

Yang membuat musim dingin berbeda adalah turunnya salju. Tiap kali salju turun di atas kepala, kamu akan merasakan hal itu seolah memiliki kekuatan magis yang membuat kamu terdiam menatap keindahannya tanpa sadar kalau pipi dan tanganmu yang tidak tertutup mulai memerah. Dan kebahagiaan yang terpancar dari kebersamaan ketika bermain bola salju atau membuat boneka salju membuat kekuatan magis itu semakin kuat. Kamu mungkin tidak akan sadar kalau ternyata dari tadi kamu tersenyum melihat sekeliling.

Tapi, tidak ada yang benar-benar sempurna dengan segala apapun di dunia ini. Ada kekurangan dan kelebihan dari masing-masing hal yang telah Allah ciptakan untuk membuat manusia semakin belajar dan bersyukur.  Bermain salju, merasaka kepingan lembut kepingan salju jatuh ke atas tubuhmu tidak selalu terasa menyenangkan. Ada kalanya ketika kamu merasa kesal sekali dengan suhu dingin yang ada, jalanan licin yang membuatmu sulit berjalan atau bahkan terjatuh beberapa kali, dan ketidak-menyenangkan lainnya.

Ada banyak sekali teman di tempat lain yang bilang iri sekali, ingin juga merasakan salju dan menyentuhnya dengan nyata. Tidak ada salahnya dengan berharap begitu, asal jangan sampai hal itu membuat kita berhenti bersyukur dengan apa yang sedang kita rasakan. Selalu lah memandang sesuatu dari dua sisi agar kita selalu sadar dengan kurang dan lebih-nya segala sesuatu yang ada ini.

Dengan turunnya rombongan Si Putih Cantik dari langit ini, Allah mengaruniakan kepada manusia kebahagiaan, kehangatan, kebersamaan, dan sentilan lembut untuk kembali bersyukur kepada-Nya. Dan manusia harus mendapatkan semua itu dengan mempelajarinya sendiri. Ada yang dari awal sudah merasa bahagia–tersenyum sambil kepala mendongak dan kedua tangan menengadah.

Ada pula yang merasa kesal, berjalan cepat dengan kaki menghentak lebih keras, bergumam aku jadi harus berangkat kerja dengan kebekuan ini setiap hari. Dan satu yang mungkin tidak menampakkan ekspresi yang mudah terbaca manusia, hanya menatap turunnya keindahannya itu dengan wajah datar, tidak mempedulikan orang lain yang lewat disamping, depan, dan belakangnya. Tidak peduli beberapa dari mereka bahkan dengan keras menabrak tubuhnya hingga hampir terjatuh. Tidak peduli mereka beteriak menyumpahinya yang menghadang jalan. Tidak peduli. Hanya mampu bergumam, datang lebih akhir saja tidak bisa kah? Si Kecil bahkan belum memiliki jaket hangat yang layak.

Angin dingin berhembus.
Salju tetap turun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s