Dunia (Masih) Berdarah

Baru saja dua hari yang lalu terjadi sebuah serang bom bunuh diri di kawasan Sultanahmet a.k.a Blue Mosque yang menewaskan 10 orang warga asing serta membuat sedikitnya 15 orang luka-luka. Serangan bom ini terjadi pada pagi hari sekitar 10.20, menurut media setempat. Media internasional banyak yang langsung memberitakan kejadian ini. Dan sayangnya, media Indonesia yang entah memang terlambat mendapat beritanya atau memang sengaja memperlambat berita karena alasan perlu waktu untuk mengumpulkan berita dari narasumber atau sebab lainnya, baru memberitakan hal ini satu hari setelahnya.

Dunia kembali berkabung atas meninggalnya para korban. Aku bercerita di akun Facebook-ku bahwa pada hari ketika serangan bom terjadi, aku sedang berada di kelas mengerjakan ujianku hari itu. Aku sedang tidak punya kuota internet dan tidak bisa tersambung ke  WiFi kampus untuk bisa langsung tahu soal serangan ini dari teman di grup Whatsapp atau semacamnya. Pukul 10.00 ujianku dimulai, dan aku menyelesaikannya sekitar 30 menit kemudian.

Aku pulang sendirian seperti biasa. Ketika sudah tiba di stasiun tramvay “Beyazıt-Kapalıçarsı (Grand Bazaar)”, aku melihat banyak orang berkumpul. Suasana saat itu tidak terasa biasa. Ada sesuatu yang terjadi, pikirku. Ditambah lagi ada banyak sekali ambulan yang hilir-mudik dengan suara sirine yang semakin menambah ketegangan. Dan lalu aku melihat sebuah mobil hitam yang hancur bagian depannya sedang diangkut ke mobil derek. Aku pikir keramaian hari itu disebabkan oleh sebuah kecelakaan lalu lintas dan kebetulan saja sedang banyak ambulan yang lewat.

Ketika aku tiba di tempatku biasa belajar, seorang temanku menelpon, menanyakan keberadaanku, dan kemudian memberi tahu mengenai bom itu. Setelah tersambung ke koneksi internet, aku langsung membuka lama berita setempat dan mendapati bahwa serangan bom kali ini lumayan serius. Sejenak aku baru sadar kalau itu terjadi di tempat yang biasa aku kunjungi. Terutama setelah selesai ujian.

Aku tidak bisa membayangkan seumpama aku menyelesaikan ujianku lebih cepat dan memutuskan untuk berjalan-jalan ke Sultanahmet. Aku tidak bisa membayangkan jika aku berada di dekat lokasi kejadian dan …
Atau melihat jasad para korban ledakan? Aku bisa-bisa pingsan atau muntah-muntah di tempat.

Jarak dari kampusku, dekat Grand Bazaar menuju Kawasan Sultanahmet hanya sekitar 10-15 menit berjalan kaki. Dekat sekali. Tapi suara ledakan bom yang katanya bisa di dengar bahkan dari jarak 5-6 km tidak terdengar oleh kami yang sedang berada di kelas saat itu. Tapi ledakan bom itu berada dekat sekali.

Aku memutuskan untuk tidak membagi postingan mengenai bom itu dari akun Facebook karena takut orang tuaku akan jadi sangat khawatir. Walaupun aku tidak sedang berada dekat sekali dengan lokasi ketika itu terjadi. Hingga malam hari, aku masih mengobrol santai dengan teman-teman dan orang tuaku di Indonesia. Keesokan harinya, barulah ‘keramaian’ memenuhi notifikasi handphone-ku. Termasuk pesan dari orang tua yang langsung menanyakan keadaanku.

“Kamu baik-baik aja kan??, Abi sama Ummi baru baca soal bom di Sultanahmet itu”
“Eh, katanya di Istanbul ada bom? Kamu gimana??”
“Asma, di Istanbul ada apa?? skype-an yuk”
Dan lain-lain.

Aku merasa bersyukur aku tidak sedang berkunjung ke Sultanhamet hari itu. Bersyukur karena tidak menyelesaikan ujian dengan cepat dan berniat main ke Sultanahmet. Bersyukur bahwa bom itu bukan bom yang besar. Bersyukur karena tidak ada teman atau orang yang aku kenal yang jadi korban. Dan bersyukur karena bom tidak meledak di dalam Sultanhamet atau Aya Sofya.

Tapi aku ikut bersedih karena ledakan itu telah merenggut nyawa orang-orang tidak berdosa. Orang-orang yang datang untuk berlibur dengan bahagia. Pun bersedih karena sekaratnya rasa kemanusiaan dan semakin minimnya rasa aman dan damai yang kita kita punya.

Dan hari ini, berkelang dua hari setelah kejadian bom di Sultanahmet, ketika dunia masih berkabung, kawasan ibukota Jakarta sedang mengalami teror yang dilakukan orang-orang yang entah atas dasar dan tujuan apa.

Timeline Ask.fm, Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya dipenuhi dengan kabar ini. Saling menghimbau untuk tetap berjaga-jaga dimanapun berada. Semoga teman-teman dan saudara kita yang berada disana tetap dalam keadaan aman.

Selama kita masih hidup dalam satu dunia yang sama dengan orang-orang itu, tetaplah berhati-hati dan terus mengingat Allah. Karena sejatinya, kita sedang berada dalam antrian panjang kematian, bukan? Hanya Allah yang tahu akan seperti cara-Nya memanggil kita nanti. Dan semoga ketika saatnya telah tiba, kita sedang dalam keadaan mengingat Allah.

Dan marilah untuk tidak memposting foto para korban. Bayangkan saja jika yang ada difoto adalah teman atau anggota keluarga kita. Apa kita mau semua orang melihat jasadnya yang meninggal mengenaskan? Cukuplah kita tunjukkan belasungkawa kita dengan cara yang baik.

Mari berdo’a tidak hanya untuk tempat-tempat tertentu yang telah atau masih diserang, tapi juga berdo’a untuk kemanusiaan dan dunia tanpa terorisme. Mari berdo’a untuk hati orang-orang tak berperikemanusiaan agar lekas disadarkan. Mari terus berdo’a karena hal serupa dapat terjadi dimanapun, bahan di tempat paling aman yang pernah kita pikirkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s