Menjadi Hebat

Hey, hello, there?
Aku baru saja menyelesaikan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kalian sampaikan di blog ini dan website sebelah (inaturk.com). Semua orang bersemangat untuk segera menyelesaikan pendaftaran dan menunggu undangan wawancara, sampai sebagian di antaranya berpikir bahwa ia tidak punya cukup waktu untuk membaca artikel atau postingan yang sudah ada dan langsung bertanya. Hmm..

Jadi, dari kebanyakan yang bertanya mengenai cara pengisian form aplikasi, ada juga yang bercerita bagaimana dia ragu karena nilai rapor yang ala kadar, minder karena tidak punya sertifikat prestasi akademik, atau karena merasa kemampuan Bahasa Inggrisnya tidak mumpuni untuk ikut mendaftar. Tidak sedikit. Ada banyak yang curhat soal hal-hal tersebut.

Memang ada kalanya ketika kita, manusia, merasa ragu untuk melakukan sesuatu dikarenakan alasan-alasan yang sebenarnya kita buat-buat saja. Misalnya ketika sedang mengikuti sebuah lombai, kita akan ragu dengan diri kita sendiri setelah melihat penampilan peserta lain dan berpikir, “udah lah. Pasti dia yang menang. Aku mah ngga ada apa-apanya” atau “mungkin seharusnya nanti, aku butuh waktu lagi untuk berlatih dan bisa menandingi dia” dan banyak lagi alasan lain yang kita buat-buat unuk meragukan diri kita sendiri. Untuk membuat kita merasa malu untuk maju dan menunjukkan kemampuan diri kita.

Satu hal yang salah dari kita: kita terbiasa berpikir bahwa apa yang kita lakukan adalah untuk menang. Untuk membayar jerih payah kita sebelumnya dan membanggakan orang sekitar dengan sebuah kertas bertuliskan nama dan sebuah piala. Kita berpikir sempit sekali dengan berpendapat bahwa sebuah kemenangan dan kebanggaan hanyalah sebatas itu. Kita berasumsi bahwa kegagalan adalah sesuatu yang memalukan, membuat harga diri dan kepercayaan orang lain menurun.

Kemenangan, keberhasilan adalah bagaimana cara kita memandang hal itu. Seperti ketika kita membuat kue untuk pertama kali, kita membeli bahan-bahan terbaik, mengikuti buku resep dan berharap kue kita nantinya akan persis seperti pada gambar. Semua langkah kita ikuti dengan hati-hati, hingga akhirnya kue siap dimasukkan ke dalam oven.

Kita menunggu dengan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Hingga ketika kue kita keluarkan dari oven, ternyata hasilnya jauh dari yang kita ekspektasikan. Bentuknya berantakan, mengembang dengan tidak rata, dan rasanya pun–untuk tidak mengatakan ‘aneh’–sedikit berbeda. Tapi terlepas dari semuanya, itu tetaplah sebuah kue, walaupun sebuah kue ‘berantakan’. Kue yang gosong pun tetap kue. Dia hanya ‘gosong’. Lalu apakah kita sudah gagal? Hanya orang-orang yang dengan tega berpikir negatif tentang dirinya sendiri lah yang bilang bahwa percobaan ini gagal. Percobaan pertama ini berhasil. Ya, ber-hasil-kan kue–yang walaupun–hancur. Dan sebuah pelajaran.

e3666e3e234fd5cf9708288be0567953Yang terpenting untuk kita lakukan ketika sebuah usaha tidak berbuah manis sesuai dengan yang kita harapkan adalah berpikir positif. Terutama kepada diri kita sendiri. Jangan karena percobaan pertama gagal, kita lantas menyebut diri kita tidak berbakat dalam membuat kue. Kita harus mulai mengganti gagal menjadi belum berhasil. Kita harus berpikir bahwa dengan ke-belum berhasil-an tersebut, kita belajar untuk menjadi lebih baik setelahnya. Dan pada akhirnya, dengan belajar dari pengalaman ke-belum berhasil-an sebelumnya, kue yang akan keluar dari oven adalah kue yang bahkan lebih berhasil dibanding di buku resep. Dan orang-orang pun malah meminta kita untuk mengajari mereka.

Ketika kamu merasa belum berhasil, tertawa saja. Tertawakan kue gosongmu, tertawakan tulisan tidak ber-inti-mu, tertawakan saja mulutmu yang belum bisa menyebut vocabulary dengan benar. Kamu akan merasa terhibur dibanding kamu terdiam dan memikirkan bagaimana tidak becusnya kamu. Tapi jangan lupa untuk berpikir bagian mana yang harus kamu pelajari dan kembangkan agar kamu bisa menjadi lebih baik lagi.

Segala sesuatu di dunia ini relatif. Bagi seorang pedagang jalanan, mendapatkan 500 ribu rupiah dalam sehari adalah sebuah keberhasilan yang besar. Tapi apalah 500 ribu bagi seorang pengusaha besar?. Bagi seorang murid kelas 3 SD, berhasil menulis diary berbahasa Inggris sebanyak 5 lembar adalah sebuah kebanggaan yang sangat. Tapi apalah itu untuk seorang lulusan sastra Inggris?. Hal lain yang perlu kita miliki setelah menghargai dan berpikir positif soal diri sendiri adalah menghargai orang lain. Orang-orang seperti si pengusaha besar dan lulusan sastra Inggris baiknya berkata kepada pedagang jalanan dan anak kecil itu bahwa “suatu hari, kalau kamu terus berusaha dan tidak menyerah, kamu akan jadi seperti saya. Dan bahkan lebih baik”.

Mungkin ada saatnya kamu merasa lelah berusaha karena belum mendapat hasil yang kamu mau. Merasa lelah karena ada saja halangan untuk tiap usaha kamu. Jangan khawatir, bukan karena kamu belum berhasil pada satu hal maka kamu akan berhasil pada hal yang lain. Ada kemungkinan-kemungkinan tidak terbatas untuk tiap hal lain yang kamu coba. Berusahalah menjadi hebat, dan tetaplah menjadi hebat walau dengan ke-belum berhasil-anmu 😀

“I’m not smart, I barely passed high school. I had absolutely nothing going for me. I was never voted most popular or most likely to succeed. I started a whole new category–most likely to fail. But in the end, I did okay. So, if I can do it, you can do itRichard St. John

Bukan berarti mereka yang selalu berprestasi di sekolah akan jadi lebih sukses di banding mereka yang ‘tidak menonjol’ waktu di sekolah. Pun bukan berarti mereka yang ada di deretan peringkat terakhir tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menjadi yang teratas. Semua bergantung bagaimana kita mempertahankan dan mengmbangkan kemampuan diri kita, serta menanam pola pikir bahwa keberhasilan, kemenangan, kesuksesan bukan soal piagam atau penghargaan. Tapi semua itu adalah tentang bagaimana kita tetap berani bangkit dan melanjutkan walau seberapa sering dan seberapa dalam kita terjatuh.

Ada banyak sekali tokoh-tokoh dunia dan sejarah yang namanya tetap diingat walau ratusan tahun setelah mereka meninggal karena hasil dari kerja keras dan pelajaran yang mereka tinggalkan. Pernah dengar tentang Liz Murray? Liz adalah seorang homeless yang berhasil memutar balik hidupnya dan berhasil mengenyam pendidikan di Harvard University. Kisah hidupnya dijadikan film dengan judul Homeless to Harvard pada tahun 2003. Di film tersebut Liz pernah berkata bahwa ia hanya perlu mendorong dirinya sedikit lebih keras untuk bisa mendapat apa yang ia impikan: keluar dari kehidupan tunawismanya. Dan Liz pun berhasil.

Bagaimana dengan Terry Fox? Seseorang yang salah satu kakinya diamputasi karena kanker tulang dan berkeinginan berlari melintasi Canada untuk mengumpulkan donasi. Apakah dia berhasil mewujudkan keinginannya untuk melintasi Canada?. Terry Fox terpaksa berhenti berlari sejauh 3,339 mil (5,573 km) dan menyisakan sekitar 1600an mil karena dia kembali terserang kanker di paru-parunya dan meninggal satu tahun setelahnya (Juni 1981).

Terry Fox tidak pernah menyelesaikan Marathon of Hope-nya. Lalu apakah Terry Fox gagal? Tentu saja tidak. Terry Fox sudah menginspirasi banyak orang dan sampai sekarang sudah ada lebih dari ratusan juta dolar tersalurkan atas namanya. Terry Fox berhasil dengan bentuk keberhasilan berbeda dari yang ia inginkan sebelumnya.

Dan ada banyak sekali orang-orang luar biasa di luar sana yang menjemput keberhasilannya dengan cara yang berbeda. Rasulullah SAW sebagai sosok yang wajib dijadikan suri tauladan bagi para Muslim pun adalah seseorang yang tidak pernah menyerah dalam memahamkan kaumnya tetang kebenaran Allah. Tetap sabar menerima cacian dan penghinaan, serta menerima dengan lapang dada kepergian sahabat-sahabat dan orang terdekatnya di medan perang. Mudah saja bagi Rasulullah untuk berdoa kepada Allah agar meng-Islamkan seluruh penduduk Mekkah. Tapi beliau tidak pernah mengambil jalan pintas itu. Karena beliau ingin kita belajar.

Semua orang sukses yang kita tahu bisa saja menyerah kapanpun ketika mereka merasa cukup lelah dengan semuanya atau bahkan tidak pernah memulai karena ragu akan diri sendiri. Seperti Liz Murray yang bisa saja menyerah atas mimpinya yang mustahil dan tetap hidup dengan kehidupan gelandangannya hingga sekarang.
Seperti Terry Fox yang bisa saja tidak pernah memulai Marathon of Life karena ibunya tidak mengizinkan dan kondisi kaki kanannya yang seringkali bedarah tiap kali latihan berlari sehingga tidak pernah ada donasi jutaan dolar tersalurkan atas namanya.
Seperti Richard St. John yang bisa saja benar-benar menahan dirinya karena ragu untuk memulai obrolan dengan Ben dari Ben & Jerry’s ice cream dan membuatnya tidak akan pernah berjumpa dengan ratusan tokoh terkenal dunia lain dan memotivasi orang lain.
Seperti Alan Turing yang juga bisa saja menghentikan proyek pembuatan mesin pemecah kode enigma karena keraguan dari orang-orang sekitarnya dan menyisakan waktu yang lebih lama untuk manusia menemukan komputer.
Atau seperti Rasulullah yang bisa saja menyerah dan mendo’akan keislaman semua orang di dunia dan tidak pernah mengajarkan kita tentang berusaha dan bangkit.

Mereka semua, orang-orang yang kita kenal hebat di dunia, bisa saja berhenti bahkan tidak pernah memulai mencoba. Tapi mereka tahu bahwa tidak ada kesuksesan yang instan.Tidak ada keberhasilan tanpa luka dan pengorbanan. Tidak ada kebanggaan tanpa babak belur merasakan pedihnya perjuangan terlebih dahulu.

Jadi, bagaimana pula kita dengan perjuangan yang tidak sebanding dengan mereka justru menyerah di awal atau berhenti melanjutkan?

Yang kita butuhkan adalah percaya kepada keputusan Tuhan, percaya kepada diri sendiri, berdo’a, dan bekerja sampai batas akhir kemampuan kita. Serta menguatkan diri untuk tetap bangkit dan mencoba walau sudah berapa kali pun terjatuh. Sempatkan pula waktu untuk menggali kembali motivasi dirimu dengan membaca biografi tokoh ataupun kisah-kisah Rasullah dan sahabatnya. Sebenarnya sudah banyak sekali sumber motivasi tersebar dimana-mana. Kita hanya butuh sedikit perhatian yang lebih untuk melihat dan belajar.

Terakhir..

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubah apa yang ada pada mereka” (Ar Rad:11)

See you on top, you soon-to-be-great-people!
🙂

 

*Images source: Google

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s