Allah dulu, Allah lagi, Allah terus

“Allah dulu, Allah lagi, Allah terus”

Begitu kata Ust. Yusuf Manshur di salah satu ceramah beliau yang sudah lewat lama sekali. Pertama kali mendengarnya, hatiku bergetar. Sontak ber-wiih, merasakan sesuatu di hati yang berteriak setuju dengan kalimat pendek luar biasa itu. Langsung menjadikannya kata-kata penyemangat di sudut-sudut buku tulis. Sampai tidak lama kemudian terlupakan dan kembali teringat karena kembali merasakan manjurnya.

Hampir segala hal di dunia kita mengalami perkembangan tiap harinya. Hal-hal baru diciptakan dan yang sudah ada dibuat semakin menakjubkan kemampuannya. Tapi sekuat apapun manusia berusaha, belum ada yang bisa menjadikan sesuatu dalam satu malam. Belum ada yang bisa membawa mimpi-mimpi sesederhana ya Allah aku ingin punya hidung lebih mancung ke dunia nyata dalam satu kedipan mata.

Belum ada yang bisa membawa kita pergi ke masa depan ketika masalah-masalah kita yang memusingkan telah terselesaikan tanpa kita perlu melakukan apapun selain menekan tombol merah di dalam bilik kecil. Belum ada. Dan mungkin tidak akan pernah ada.

Ingatkah kita bahwa hal tersederhana di dunia ini pun memerlukan kemauan dan usaha kita. Sebungkus mie goreng tidak akan matang dengan sendirinya tanpa kita yang berkemauan berdiri, menghidupkan kompor dan memasak air. Sapu dan pel akan tetap berada di tempat sebagaimana pun kita menatap tajam dan memerintahkannya membersihkan tempat tanpa kita sendiri yang berhenti berlaku konyol dan mulai menggerakkannya dengan tangan kita. Setuju?. Selamat, kamu masih sadar bahwa kita tidak berada di satu dunia dengan Harry Potter, Matilda, atau lainnya.

Kita seringkali merasa terpuruk, berantakan, lelah karena banyak hal. Merasa sudah mengusahakan semuanya namun tidak membuahkan hasil apapun. Berharap kita bisa memejamkan mata dan melihat semuanya selesai setelah membuka mata. Ya, hampir semua kita pernah berharap begitu. Sayangnya, kemanjuran abrakadabra dan ranting kayu hanya sebatas imajinasi dalam kepala manusia.

Kita di dunia hanya memainkan peran yang menjadi penilaian bagi diri kita untuk kehidupan setelahnya. Sebagai anak, teman, ayah, ibu, rekan kerja, pemimpin, pengikut, dan berjuta peran berbeda lainnya.

Semua peran itu pun memiliki masalahnya masing-masing.
Seorang anak bingung bagaimana meningkatkan nilai di sekolah sekaligus dia juga harus membagi untuk membantu orang tua di rumah.
Seorang ayah memiliki masalah dalam mencari cara untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya dan tetap berbakti kepada ibunya.
Seorang ibu akan merasa bingung ketika tahu anaknya berulah, merasa usaha mendidiknya gagal.
Dan lain-lain. Kita pun tidak hanya mengemban amanah dalam satu peran. Sadarilah kalau kita memiliki begitu banyak peran di dunia ini.

Kita memanglah makhluk Allah yang lemah. Kita bisa melakukan banyak hal, membuat takjub banyak orang. Namun terkadang kita mudah sekali dikalahkan oleh isi kepala, sugesti kita sendiri. Terlalu membesarkan masalah, menyalahkan diri sendiri. Padahal yang terpenting bukan tentang masalahnya, tapi jalan keluarnya. Yang terpenting bukanlah terus menyalahkan diri sendiri untuk dosa-dosa, tapi bagaimana kisa berusaha istiqomah dalam bertaubat.

Kita memang lemah. Tapi kita punya Allah Yang Maha Segalanya. Kita hanya butuh kembali dan berlari mendekat. Kekeras kepalaan kita, cara kita yang salah dalam mencari ketenangan lah yang membuat kita malah semakin kewalahan dan berantakan.

“He’s the one who knows you best, He knows what in your heart. You’ll find your peace at last if you just have faith in Him”

Kata Maher dan Irfan Makki di salah satu lagunya. Kita diberi ujian karena Allah ingin mengangkat derajat kita dengan hanya bersabar, dan mendekat kepadaNya.

Kita seringkali diberi ujian terberat pada hal yang paling kita cintai. Karena Allah ingin kita sadar bahwa cinta kita kepada ciptaannya yang lain tidaklah boleh melebihi kecintaan kita kepadaNya. Karena Allah ingin mengingatkan kita bahwa cinta kita yang paling baik haruslah dipersembahkan kepadaNya, yang telah memberikan kita segala sesuatu di dunia ini.

Maka kapanpun kamu merasa gagal, lelah, janganlah putus asa. Karena hamba Allah tidak pernah didekati rasa hina itu. Kembali dan meminta kepadaNya, maka sungguh kita akan punya seluruh kekuatan yang kita butuhkan.

Kartal Sahil, 5 Mei 2016 (13:38PM)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s