Ekspektasi – Realita Vol. 1.2

Entah sudah berapa kali aku mengatakan soal Turki yang dulunya sama sekali bukan mimpiku, bukan negara impianku. Bukan nama tempat yang tertulis di dinging kamar atau sisi-sisi buku diary-ku. Not at all, bukan sama sekali. Aku mulai diberitahu soal Turki ketika aku bilang kepada Abi kalau aku tertarik untuk mendaftar beasiswa Turkiye Scholarships.

Abi bercerita banyak, tapi aku tidak ingat semuanya. Yang aku ingat adalah Abi menyebut soal Turki yang terletak di dua benua; Asia dan Eropa, ada selat bernama Bosphorus  yang memisahkan kedua benua tersebut, dan presiden dari negaranya bernama Erdogan (setelah disini aku tahu kalau pengucapan Abi waktu itu salah. Harusnya, nama beliau disebut ‘Erdoan’ karena huruf G dengan tanduk; Ğ, itu seharusnya tidak dibaca. Lanjut..)

Ketika dipanggil untuk tes wawancara pun pengetahuanku tentang negara ini seperti rok-rok yang dipakai gadis-gadis di luar sana, minim. Yang ada di pikiranku waktu itu adalah semua orang bilang negeri ini bagus, indah, bahkan lebih indah dibanding Mesir. Apa yang harus aku khawatirkan?. Dan entah kenapa aku malas sekali browsing dan cari tahu lebih banyak saat itu.

Tapi meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan kalau aku memiliki ekspektasi pada waktu itu. Tidak banyak, tapi aku bisa menyebutkan beberapa.

  • Bahwa semua orang Turki mengerti dan bisa ber-Bahasa Inggris. Ekspektasi mainstream yang dimiliki oleh kebanyakan calon mahasiswa disini–yang tidak pernah diberitahu tentang ini sebelumnya. Waktu itu, aku berpikir kalau semua orang di Istanbul sudah pasti bisa ber-Bahasa Inggris, karena banyak sekali turis yang datang kesana, seperti Bali, semua orang Indonesia di Bali bisa ber-Bahasa Inggris, bukan? (Ya, kan?).Dan aku pun dikecewakan dengan realitanya yang ada. Apalagi waktu itu aku dan teman-temanku adalah pendatang baru yang hanya sekadar tahu merhaba, teşekkür ederim atau güle güle dan mengucapkannya dengan logat Indonesia yang kental. Walhasil, 3 bulan pertama, kami banyak menggunakan bahasa tubuh dan Google Translate.Lalu apakah tidak ada harapan bagi turis yang tidak tahu jalan atau bahkan tersesat disana?

    Sebagian orang Turki yang bekerja di kawasan kunjungan turis mampu mengerti dan merespon dengan baik. Bahkan, mereka yang tidak tahu bahwa kami adalah mahasiswa disini pun kadang menyapa wajah asing kami dengan Bahasa Inggris. Bahkan sepatah-dua patah kata dalam Bahasa Indonesia yang mereka pelajari otodidak, seperti ‘bagus’, ‘murah’, atau ‘sayang’.

    Dan tidak perlu khawatir karena petunjuk jalan disana banyak yang menyertakan Bahasa Inggris.

  • Bahwa yang dikatakan oleh para senior soal “akan banyak berjalan kaki” maksudnya adalah tidak sebanyak itu.
    Setelah menerima Kabul Mektubu atau Letter of Acceptance dan mulai mempersiapkan diri untuk hari keberangkatan, kami diberi pesan untuk memiliki minimal dua pasang sepatu, atau sepasang sepatu yang paling nyaman dan berkualitas bagus. Alasannya, karena tidak ada transportasi publik sejenis ojek atau becak, kami akan sering berjalan kaki di Turki nanti.Aku pikir, kata ‘jauh’ itu hanya menginterpretasikan jarak yang maksimalnya sekitar 100 meter. Tapi ternyata, jarak tersebut adalah termasuk ‘sangat dekat’. Bulan-bulan pertama benar-benar sulit. Jarak yang sebenarnya tidak jauh, kami lewati dengan keluhan dan lelah.Setelah melewati setengah tahun, kami sudah mulai biasa dengan ‘banyak berjalan’ dan ‘berjalan jauh’. Di tahun berikutnya, kami yang mengingatkan calon mahasiswa baru tentang hal ini.
  • Bahwa Turki adalah negara yang cantik.
    Realitanya? SANGAT cantik. Aku tidak sepandai penulis profesional seperti Dan Brown, atau Ilana Tan dan Tere Liye dalam hal menggambarkan satu suasana hingga dapat dibayangkan oleh pembaca.Mungkin belum. Tapi dua kata tadi sudah menjelaskan bukan? Kalian bisa mencari gambar atau video yang menampilkan kota-kota di Turki. Dari semua kota itu, Istanbul adalah yang paling aku kenal dan aku bisa katakan kalau yang kalian lihat di video atau gambar itu hanya memperlihatkan sedikit dari kecantikan yang ada. Melihatnya dengan mata kepala sendiri tentu akan berbeda.Aku ingat mengagumi Sultanahmet dan Hagia Sophia lewat gambar di internet. Dan ketika tiba pertama kali disana, aku menangis terharu, bergumam pada diri sendiri tentang aku yang benar-benar berada disana dan ini semua bukanlah mimpi.

    Walaupun begitu, tetap saja ada bagian-bagian dari ulah manusia yang membuat kecantikan itu sedikit memudar, berkurang. Seperti sampah di pinggir jalan, atau puntung rokok dimana-mana. Tapi memang tidak ada hal yang sempurna, bukan?

Inilah sebagian dari ekspektasi dan realita yang aku bisa ceritakan, beberapa lainnya bisa kalian baca di versi bahasa Inggrisnya disini. Ada banyak lagi hal di dunia yang seringkali mengecewakan. Yang lebih berbahaya bukan hal atau kejadian yang mengecewakan itu, tapi rasa kecewa yang dibiarkan menguasai.

Cara kita merespon sesuatu itu adalah lebih penting dibanding hal yang benar-benar ada di depan kita. Sebuah kekecewaan akan terasa manis kalau kita menyapanya dengan senyuman, sabar, dan percaya kalau ada hal lebih baik lagi yang akan menggantikan. Jika kita rasa kita mungkin tidak akan sanggup memaksa senyum dalam kekecewaan, maka jangan berandai-andai, jangan berharap, jangan berekspektasi yang terlalu tinggi, karena ketika jatuh, kita akan merasa lebih sakit.

P.S. Stay tune on my blog-site, cause I’ve been thinking about having a give away!. Brace yourselves!

 

Advertisements

2 thoughts on “Ekspektasi – Realita Vol. 1.2

  1. Merhaba Asma… saya suka dg feeds blog kamu. Informatif dan inspiratifi. Dan gara2 blog kamu ini juga saya jadi jatuh cinta lagi sama Turki. hehe. Terus menulis, ya.. Salam kenal. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s