Review (telat) Inferno

Postingan kali ini suppose to be a movie review, sih. Tapi karena belum tahu banyak soal film, kayanya bakalan sesuka hati banget :’D

Well, sesuai sama judulnya, kali ini aku mau bahas perbandingan novel Inferno karya Dan Brown, dan filmnya dengan judul sama yang yang disutradarai oleh Ron Howard dan rilis tahun 2016 lalu.

Filmnya rilis 2016, tapi aku baru bisa nonton sekitar pertengahan bulan Februari lalu, sekitar 30 menit setelah baca tuntas novelnya. Aku baca novel terjemahan bahasa Indonesianya. Tapi karena sudah pernah baca 5 bab awal novel aslinya, aku bisa lihat ada sedikit perbedaan penyampaian cerita di awal. Entah memang salah cetak atau gimana. But that’s not the point, karena alur ceritanya tetap sama.

Aku butuh 3 hari untuk bisa nyelesaiin bukunya yang punya sekitar 114 chapter dan 60o sekian halaman. Ini adalah pengalaman pertamaku baca buku karya Dan Brown. Kalau kalian tahu film yang judulnya The Da Vinci Code yang juga diadaptasi dari novel berjudul sama karya Dan Brown, dengan nonton filmnya aja kita bisa nebak kalau tulisan Dan Brown tu ga sembarangan. Entah berapa banyak sumber yang beliau baca dan selama apa penelitian yang dia lakukan sebelum akhirnya ngerampungin The Da Vinci Code yang kemudian jadi salah satu worldwide best-seller.

Inferno juga ngga jauh beda. Baca novelnya itu kaya baca buku pelajaran. Kita akan dapat banyak informasi baru tentang sesuatu ketika baca novelnya. If you’re not curious enough buat tahu jalan dan akhir ceritanya, baca novel ini bener-bener bikin bosan. Ada banyak informasi yang sebenarnya ngga nyambung sama ceritanya, tapi cukup buat bikin kita ber-oh gitu. Berdasarkan pengalaman pertamaku kemarin, aku akui, aku sering banget buka-tutup Google dan Youtube untuk tahu apa yang Brown lagi omongin atau deskripsiin. See?

Kalau kamu–yang belum pernah nonton atau baca novelnya bertanya-tanya Inferno itu menceritakan tentang apa, well, Inferno itu adalah kisah perjalanan Robert Landon, yang juga adalah tokoh utama di The Da Vinci Code, untuk mencari letak wabah buatan yang diciptain oleh seorang ahli genetik, Bertrand Zobrist, yang terobsesi dengan isu overpopulasi. Zobrist meninggalkan sebuah petunjuk untuk letak wabah itu dengan teka-teki yang berkaitan dengan Dante Alighieri (Eng) dan The Divine Comedy karyanya.

Selain informasi-informasi sejarah dan tokoh-tokoh kaya Dante yang bikin orang awam pusing, alur ceritanya juga lumayan rumit. Jadi memang harus benar-benar fokus biar ngga bingung di bagian selanjutnya. Tapi, Brown memang jago banget bikin pembaca mikir tentang hal-hal yang bukan sebenarnya. Sampai akhirnya di bagian ketika rahasia-rahasia dari beberapa tokoh terungkap dan kita dibikin bolak-balik ke halaman-halaman sebelumnya untuk kemudian benar-benar ngerti dan kaget sendiri.

Setelah sampai di chapter akhir dan selesai baca, kita dibuat tercengang dan langsung mau nonton ceritanya di film. Karena filmnya sudah liris sejak lama, kita bisa langsung nonton online di internet dan lihat jalan ceritanya lewat gambar.

Tapi… sayangnya, aku akui filmnya mengecewakan sih.  Meh banget.

600 sekian halaman di buku Inferno memang menceritakan tentang kejadian yang terjadi selama sekitar sehari 2 malam. Tapi baca di buku, semuanya terasa masuk akal aja. Ketika nonton filmnya, sebagai orang yang sudah tahu jalan ceritanya, aku ngerasa kalau jalan cerita filmnya buru-buru banget. Ditambah lagi ada beberapa bagian yang diubah. Kalau bicara soal ending, ending versi Dan Brown di novel dengan ending versi David Koepp sebagai penulis script jauh beda. Kalau kalian sudah duluan nonton filmnya dan geram sama karakter Sienna Brooks, kalian harus baca bukunya untuk tahu versi asli dari yang Dan Brown tulis.

Over all, walaupun filmnya ngga bener-bener merepresentasikan bukunya, filmnya juga keren, terutama bagi orang-orang yang ngga baca bukunya dulu sebelum nonton. Aku yang langsung nonton The Da Vinci Code tanpa baca bukunya dulu pun menganggap filmnya keren banget, padahal mungkin filmnya juga ‘meh‘ buat mereka yang udah baca.

Buat kalian yang udah nonton Inferno, baca bukunya juga bukan pilihan yang buruk sih. Karena–aku ulangi lagi–jalan cerita yang ada di buku dan filmnya ngga sama. Ada banyak banget bedanya.

Dan buat kalian yang belum nonton, aku saranin buat baca bukunya dulu sih. Kalau kemampuan Bahasa Inggris-nya masih biasa aja, kaya aku, baca versi terjemahannya ngga apa-apa. Tapi kalau bisa baca buku versi aslinya aja, karena rasanya tetap ngga original aja sih karena bukan Dan Brown langsung yang tulis.

Sekian review abal-abal ala kadar sesuka hati ini.
Sampai ketemu di review-review lainnya! 😛

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Review (telat) Inferno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s