#RandomThought: Jadi Diri Sendiri

Kalian yang rajin mantengin media sosial pasti ngga asing sama fenomena aw-aw beberapa waktu lalu. Itu nah, seorang public figure yang banyak dikritik sama netizen karena perilaku, cara bergaul dan cara pacaran-nya yang dibilang ngasih contoh ngga baik untuk generasi muda Indonesia yang memang sukanya tiru sana-sini.

Aku pertama kali tahu tentang doi dari Ask.Fm, karena banyak banget selebask (sebutan untuk mereka yang nge-top di Ask.Fm) yang kasih komentar tentang perilaku Si Aw-aw, rata-rata kasih komen negatif dan dari sana lah, fans-nya Aw-aw pada ribut protes ngga suka ke mereka. Makin ribut lah dunia persilatan dan aku jadi ikutan penasaran dan berujunglah ke ngepoin doi  ke Youtube, dan bahkan Instagram. Kemudian..

Ooh, aku mangut-mangut baru paham kenapa netizen sibuk ngomenin doi. Memang dari cara berpakaiannya, cara bergaul dan pacarannya, sampai ke cara bicaranya itu–menurutku juga–ngga banget. Ya mungkin kalau doi tinggal di Amerika atau negara Eropa, orang Indonesia ngga akan ambil pusing lah. Lah ini kan dianya tinggal di Indonesia, di Jakarta, ditambah lagi dengan banyaknya anak-anak labil yang follow di hampir setiap akun media sosial yang doi punya. Udah tahu kan di Indonesia budayanya gimana, memang ngga bisa nyalahin netizen juga kenapa sampai segitunya ngurusin hidup orang lain.

Suatu hari, doi ngeluarin lagu, kan. Inti dari lirik lagunya sih kita semua suci sedang doi penuh dosaakh. Protesnya doi terhadap sekian banyak orang yang, mungkin menurut dia, apaan sih? kenal aja ngga, pernah ketemu aja ngga udah banyak komen aja. Di lain kesempatan juga doi bilang kalau lebih baik ‘jadi diri sendiri’, nunjukkin diri sebagaimana adanya daripada munafik.

Ketika dikritik soal diri, meskipun sekali, kita pasti pernah ‘sembunyi’ di belakang pernyataan “jadi diri sendiri”. Aku pun pernah begitu.

Waktu itu umurku udah diujung 18, ngga lama lagi genap 19 tahun. Ada seorang temen yang sering banget komentar soal perilakuku yang dia bilang ‘kekanakan banget’. Dia bilang aku makan kaya anak-anak, jalan kaya anak-anak, dan sebagainya dan sebagainya. Dia nasihatinnya dengan cara baik-baik, sih, bilang kalau aku harusnya ingat umur, harus ingat kalau aku bukan anak kecil lagi. Aku yang dengerin cuma diem dengan kening berkerut, bagianku yang mana, sih, yang mirip anak-anak? perasaan biasa aja.

Masing-masing kita punya karakter dan kebisaan yang beda-beda, kan. Ada yang gampang marah, ada yang happy terus, ada yang pendiem, ada yang suka jadi pusat perhatian, ada yang pinter nyanyi, ada yang jago main alat musik atau nari, dsb.. Nah, bayangkan kamu adalah seorang yang hidupnya adalah menulis, kemana-mana suka bawa buku catatan yang isinya hampir apa aja dan tiba-tiba disuruh main alat musik di sebuah acara, padahal kamu pernah pegang pun ngga. Bisa ngga kira-kira? Bisa aja, sih. Tapi hasilnya bakalan bagus ngga? Ya ngga, kan.

Itu lah yang terjadi ketika kita dipaksa atau memaksa orang lain untuk berbuat sesuatu yang mereka ngga biasa kerjain. Sama kaya kasusku, misalnya, aku seumur-umur ya jalan, ya makan, ya bicara, gayaku begitu, ngga ada yang dibuat-buat, ketika aku dibilang (bahkan ditekan) buat ngerubah gayaku, akunya ya bingung. Cara makan yang anggun tu kaya gimana? Jalan yang ngga ‘kekanakan’ tu yang gimana? Aku emangnya kalau jalan sering loncat-loncat?. Yang ada malah tersiksa, kan, karena bukan jadi diri sendiri.

Di hari lain ketika aku denger lagi soal seseorang yang bilang aku kekanakan, aku langsung comot sembarang foto lama dari album buat di-upload ke Instagram dengan caption yang bunyinya..
asmaFotonya ada di postingan-postingan akhir 2016, fyi~

Nah, maksudku disini adalah, kita boleh jadi diri sendiri selama ngga ada yang rugi, selama ngga bikin orang lain ngga nyaman, selama ngga bawa pengaruh jelek. Tapi apa maksudnya aku ngga mau berubah dan tetap akan jadi begini aja?

Pertanyaannya adalah,  maksudnya jadi diri sendiri itu apa? Apa dengan kita stick di sikap yang sama bertahun-tahun sampai nanti itu baru namanya jadi diri sendiri?

Jadi diri sendiri itu harus, asal kita juga ngga menutup diri sama masukan dan kritik orang lain. Ketika memang sikap kita perlu diubah, ya kenapa ngga kita dengerin aja mereka?. Aku ya mau berubah, aku ya mau dibilang dewasa, kalem, ngga berisik, ngga pecicilan. Tapi perubahan itu ngga bisa dateng sekejap mata. Aku bukan power ranger, plis 😦

Perubahan datang pelan-pelan seiring waktu. Didukung dengan pendirian dan kemauan yang kuat untuk berubah.

Si Aw-aw juga sama. Kita ngga bisa menuntut dia berubah seketika jadi orang yang sama sekali beda; yang ngga rajin lagi ngomongin si Mr. Dog. Cuma yang salah dari doi adalah berpikiran bahwa apa yang doi kerjain sekarang itu benar, ngga ada yang perlu diubah karena–balik lagi–doi cuma mau jadi dirinya sendiri dengan bentuk yang kaya begitu. Mau kita marahin segimanapun, doi ga bakalan dengerin. Kamu ngga bisa mengubah seseorang yang ngga melihat kesalahan dari sikap dia (terjemahan sebuah quote di internet).

Daripada keseringan mikirin orang lain, coba kita sesekali kita juga lihat diri sendiri. Apa kitanya udah benar? Apa kitanya udah cukup baik?. Merhatiin orang lain itu boleh, bagus banget malah, asal jangan jadi salah fokus. Yang berlebihan tu memang ngga baik, toh?

Jadi gitu, ya, guys. Jadi diri sendiri itu harus, asal jangan sampai lupa kalau salah satu misi kita juga adalah terus memperbaiki diri menuju jalan yang lebih baik.

 

21.24, 10 Maret 2017
Istanbul

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s