#RandomThought : Main Jauh

Beberapa hari yang lalu, satu kota lagi di Turki udah checked dari daftar nama kota-kota yang harus dikunjungin di Turki; Ankara.

Iya, Ankara. Gila, ya. Udah mau 3 tahun di Turki tapi main ke Ankara-nya baru kemarin. Hih. Keasikan di Istanbul kali ya si Asma?

Well, Istanbul tuh memang cantik banget sih. Anak-anak sini punya kata-kata yang bunyinya gini, “anak luar Istanbul pasti main ke Istanbul, tapi anak Istanbul belum tentu main ke kota lain.” Saking karena Istanbul emang udah punya hampir segalanya. (Hampir loh ya, bukan ‘udah’)

Tapi kan sayang, ya. Bertahun-tahun tinggal di luar negeri tapi malah ngga nge-trip kemana-mana. Makanya meskipun di Istanbul udah ada banyak, kemauan main ke kota-kota lain tuh pasti ada. Lagian, kadang suntuk juga sama Istanbul yang ujung keujung isinya manusia (walaupun manusianya pada indah sedap dipandang mata *eh)

Kalau ditanya sampe sekarang Asma di Turki udah kemana aja?, baru bisa sebut beberapa kota doang; Kocaeli (sebelah Istanbul), Sakarya (sebelahnya Kocaeli, Bursa (agak jauh sedikit), sama Ankara. Itupun kesana bukan buat main, tapi urusan PPI. (

Kok baru segitu? Padahal Asma anak lama. Anak-anak baru aja udah pada kemana-mana. 
Ya karena memang kesempatannya belum Allah kasih. Waktu itu ada rencana ke Izmir sama Antalya. Tapi ngga jadi karena apa entah lupa. Trus rencana lagi pengen ke Canakkale. Tapi wes ngga jadi juga. Trus rencana pula ke Trabzon. Lagi-lagi ngga jadi. Ada aja kejadian atau keperluan lain yang bikin trip-nya harus dibatalin. Makanya kadang mikir kayanya ga usah pernah bikin rencana aja. Iseng-iseng aja ngecek website tempat jual tiket, kalau ada yang murah langsung sikat tanpa aba-aba. Ya pastinya harus udah dipertimbangin sama isi dompet biar pas kesananya ngga nggembel, bisa pergi doang gabisa pulang :(.

Jujur, hidupku penuh rencana sih. Pas masih di Indo pun pengen main kesitu, kesana. Tapi belum pernah kejadian. Trip sekolah ke Jogja, ke Malang, ke Pare, manalah itu aku pasti ngga pernah ikut. Entah selametannya sunatan adek, kacamata baru ilang trus Ummi marah, atau anggota keluarga sakit. Jejak kakiku di Indonesia baru sejauh Lampung sampe Jakarta-Depok doang. Makanya ketika yang lain dapat berita aku keterima di Turki, mereka pada bilang, “keren ya kamu, belum pernah jalan kemana-mana, tapi sekalinya langsung jauh.” Pujian, sih. Tapi kok aku malah prihatin sama diri sendiri :’

Tapi ngga apa-apa sih. Toh bumi segini gede buat kita itu setiap inch-nya milik Allah. Allah yang kasih izin siapa yang bakal nginjekkin kaki di situ, siapa yang ‘nanti dulu’. Walaupun belum pernah nginjek langsung tempatnya, Allah pertemuin aku dengan orang-orang dari mana-mana, aku kenal tempatnya dari cerita-cerita mereka.

Di tumit kanan-kiriku ada tahi lalat di tempat yang hampir sama. Orang bilang kan kalau punya tahi lalat di kaki atau telapaknya itu bakalan pergi jauh. Mitos sih, kaya kalau yang punya pusaran rambut dua itu berarti nakal, padahal mah dari mana korelasinya pusaran rambut sama kenakalan? :/

Gitu wes pokonya.

Intinya, nggapapa kalau kamu belum pernah main jauh. Nggapapa kalau duniamu masih sekitaran itu aja. Karena nanti, suatu hari, Yang punya tempat yang bakalan nganterin kamu. Dengan usaha, do’a, dan niat yang baik. Dompet lagi kosong pun kalau memang rejekinya pergi jauh ya bakalan pergi juga, bakalan nge-trip juga. Ya toh?. Sebelum kakinya yang melangkah jauh, biarin isi kepala kamu yang terbang tanpa batas.

Dan buat kamu yang udah sering kemana=mana, jangan lupa do’ain temennya biar bisa ikutan kemana-mana juga. Semoga nge-tripnya bisa terus mengantarkan kepada kebermanfaatan. Aaamiin.

23.55
Istanbul

#RandomThought: Jadi Diri Sendiri

Kalian yang rajin mantengin media sosial pasti ngga asing sama fenomena aw-aw beberapa waktu lalu. Itu nah, seorang public figure yang banyak dikritik sama netizen karena perilaku, cara bergaul dan cara pacaran-nya yang dibilang ngasih contoh ngga baik untuk generasi muda Indonesia yang memang sukanya tiru sana-sini.

Aku pertama kali tahu tentang doi dari Ask.Fm, karena banyak banget selebask (sebutan untuk mereka yang nge-top di Ask.Fm) yang kasih komentar tentang perilaku Si Aw-aw, rata-rata kasih komen negatif dan dari sana lah, fans-nya Aw-aw pada ribut protes ngga suka ke mereka. Makin ribut lah dunia persilatan dan aku jadi ikutan penasaran dan berujunglah ke ngepoin doi  ke Youtube, dan bahkan Instagram. Kemudian..

Ooh, aku mangut-mangut baru paham kenapa netizen sibuk ngomenin doi. Memang dari cara berpakaiannya, cara bergaul dan pacarannya, sampai ke cara bicaranya itu–menurutku juga–ngga banget. Ya mungkin kalau doi tinggal di Amerika atau negara Eropa, orang Indonesia ngga akan ambil pusing lah. Lah ini kan dianya tinggal di Indonesia, di Jakarta, ditambah lagi dengan banyaknya anak-anak labil yang follow di hampir setiap akun media sosial yang doi punya. Udah tahu kan di Indonesia budayanya gimana, memang ngga bisa nyalahin netizen juga kenapa sampai segitunya ngurusin hidup orang lain.

Suatu hari, doi ngeluarin lagu, kan. Inti dari lirik lagunya sih kita semua suci sedang doi penuh dosaakh. Protesnya doi terhadap sekian banyak orang yang, mungkin menurut dia, apaan sih? kenal aja ngga, pernah ketemu aja ngga udah banyak komen aja. Di lain kesempatan juga doi bilang kalau lebih baik ‘jadi diri sendiri’, nunjukkin diri sebagaimana adanya daripada munafik.

Ketika dikritik soal diri, meskipun sekali, kita pasti pernah ‘sembunyi’ di belakang pernyataan “jadi diri sendiri”. Aku pun pernah begitu.

Waktu itu umurku udah diujung 18, ngga lama lagi genap 19 tahun. Ada seorang temen yang sering banget komentar soal perilakuku yang dia bilang ‘kekanakan banget’. Dia bilang aku makan kaya anak-anak, jalan kaya anak-anak, dan sebagainya dan sebagainya. Dia nasihatinnya dengan cara baik-baik, sih, bilang kalau aku harusnya ingat umur, harus ingat kalau aku bukan anak kecil lagi. Aku yang dengerin cuma diem dengan kening berkerut, bagianku yang mana, sih, yang mirip anak-anak? perasaan biasa aja.

Masing-masing kita punya karakter dan kebisaan yang beda-beda, kan. Ada yang gampang marah, ada yang happy terus, ada yang pendiem, ada yang suka jadi pusat perhatian, ada yang pinter nyanyi, ada yang jago main alat musik atau nari, dsb.. Nah, bayangkan kamu adalah seorang yang hidupnya adalah menulis, kemana-mana suka bawa buku catatan yang isinya hampir apa aja dan tiba-tiba disuruh main alat musik di sebuah acara, padahal kamu pernah pegang pun ngga. Bisa ngga kira-kira? Bisa aja, sih. Tapi hasilnya bakalan bagus ngga? Ya ngga, kan.

Itu lah yang terjadi ketika kita dipaksa atau memaksa orang lain untuk berbuat sesuatu yang mereka ngga biasa kerjain. Sama kaya kasusku, misalnya, aku seumur-umur ya jalan, ya makan, ya bicara, gayaku begitu, ngga ada yang dibuat-buat, ketika aku dibilang (bahkan ditekan) buat ngerubah gayaku, akunya ya bingung. Cara makan yang anggun tu kaya gimana? Jalan yang ngga ‘kekanakan’ tu yang gimana? Aku emangnya kalau jalan sering loncat-loncat?. Yang ada malah tersiksa, kan, karena bukan jadi diri sendiri.

Di hari lain ketika aku denger lagi soal seseorang yang bilang aku kekanakan, aku langsung comot sembarang foto lama dari album buat di-upload ke Instagram dengan caption yang bunyinya..
asmaFotonya ada di postingan-postingan akhir 2016, fyi~

Nah, maksudku disini adalah, kita boleh jadi diri sendiri selama ngga ada yang rugi, selama ngga bikin orang lain ngga nyaman, selama ngga bawa pengaruh jelek. Tapi apa maksudnya aku ngga mau berubah dan tetap akan jadi begini aja?

Pertanyaannya adalah,  maksudnya jadi diri sendiri itu apa? Apa dengan kita stick di sikap yang sama bertahun-tahun sampai nanti itu baru namanya jadi diri sendiri?

Jadi diri sendiri itu harus, asal kita juga ngga menutup diri sama masukan dan kritik orang lain. Ketika memang sikap kita perlu diubah, ya kenapa ngga kita dengerin aja mereka?. Aku ya mau berubah, aku ya mau dibilang dewasa, kalem, ngga berisik, ngga pecicilan. Tapi perubahan itu ngga bisa dateng sekejap mata. Aku bukan power ranger, plis 😦

Perubahan datang pelan-pelan seiring waktu. Didukung dengan pendirian dan kemauan yang kuat untuk berubah.

Si Aw-aw juga sama. Kita ngga bisa menuntut dia berubah seketika jadi orang yang sama sekali beda; yang ngga rajin lagi ngomongin si Mr. Dog. Cuma yang salah dari doi adalah berpikiran bahwa apa yang doi kerjain sekarang itu benar, ngga ada yang perlu diubah karena–balik lagi–doi cuma mau jadi dirinya sendiri dengan bentuk yang kaya begitu. Mau kita marahin segimanapun, doi ga bakalan dengerin. Kamu ngga bisa mengubah seseorang yang ngga melihat kesalahan dari sikap dia (terjemahan sebuah quote di internet).

Daripada keseringan mikirin orang lain, coba kita sesekali kita juga lihat diri sendiri. Apa kitanya udah benar? Apa kitanya udah cukup baik?. Merhatiin orang lain itu boleh, bagus banget malah, asal jangan jadi salah fokus. Yang berlebihan tu memang ngga baik, toh?

Jadi gitu, ya, guys. Jadi diri sendiri itu harus, asal jangan sampai lupa kalau salah satu misi kita juga adalah terus memperbaiki diri menuju jalan yang lebih baik.

 

21.24, 10 Maret 2017
Istanbul

 

 

Review (telat) Inferno

Postingan kali ini suppose to be a movie review, sih. Tapi karena belum tahu banyak soal film, kayanya bakalan sesuka hati banget :’D

Well, sesuai sama judulnya, kali ini aku mau bahas perbandingan novel Inferno karya Dan Brown, dan filmnya dengan judul sama yang yang disutradarai oleh Ron Howard dan rilis tahun 2016 lalu.

Filmnya rilis 2016, tapi aku baru bisa nonton sekitar pertengahan bulan Februari lalu, sekitar 30 menit setelah baca tuntas novelnya. Aku baca novel terjemahan bahasa Indonesianya. Tapi karena sudah pernah baca 5 bab awal novel aslinya, aku bisa lihat ada sedikit perbedaan penyampaian cerita di awal. Entah memang salah cetak atau gimana. But that’s not the point, karena alur ceritanya tetap sama.

Aku butuh 3 hari untuk bisa nyelesaiin bukunya yang punya sekitar 114 chapter dan 60o sekian halaman. Ini adalah pengalaman pertamaku baca buku karya Dan Brown. Kalau kalian tahu film yang judulnya The Da Vinci Code yang juga diadaptasi dari novel berjudul sama karya Dan Brown, dengan nonton filmnya aja kita bisa nebak kalau tulisan Dan Brown tu ga sembarangan. Entah berapa banyak sumber yang beliau baca dan selama apa penelitian yang dia lakukan sebelum akhirnya ngerampungin The Da Vinci Code yang kemudian jadi salah satu worldwide best-seller.

Inferno juga ngga jauh beda. Baca novelnya itu kaya baca buku pelajaran. Kita akan dapat banyak informasi baru tentang sesuatu ketika baca novelnya. If you’re not curious enough buat tahu jalan dan akhir ceritanya, baca novel ini bener-bener bikin bosan. Ada banyak informasi yang sebenarnya ngga nyambung sama ceritanya, tapi cukup buat bikin kita ber-oh gitu. Berdasarkan pengalaman pertamaku kemarin, aku akui, aku sering banget buka-tutup Google dan Youtube untuk tahu apa yang Brown lagi omongin atau deskripsiin. See?

Kalau kamu–yang belum pernah nonton atau baca novelnya bertanya-tanya Inferno itu menceritakan tentang apa, well, Inferno itu adalah kisah perjalanan Robert Landon, yang juga adalah tokoh utama di The Da Vinci Code, untuk mencari letak wabah buatan yang diciptain oleh seorang ahli genetik, Bertrand Zobrist, yang terobsesi dengan isu overpopulasi. Zobrist meninggalkan sebuah petunjuk untuk letak wabah itu dengan teka-teki yang berkaitan dengan Dante Alighieri (Eng) dan The Divine Comedy karyanya.

Selain informasi-informasi sejarah dan tokoh-tokoh kaya Dante yang bikin orang awam pusing, alur ceritanya juga lumayan rumit. Jadi memang harus benar-benar fokus biar ngga bingung di bagian selanjutnya. Tapi, Brown memang jago banget bikin pembaca mikir tentang hal-hal yang bukan sebenarnya. Sampai akhirnya di bagian ketika rahasia-rahasia dari beberapa tokoh terungkap dan kita dibikin bolak-balik ke halaman-halaman sebelumnya untuk kemudian benar-benar ngerti dan kaget sendiri.

Setelah sampai di chapter akhir dan selesai baca, kita dibuat tercengang dan langsung mau nonton ceritanya di film. Karena filmnya sudah liris sejak lama, kita bisa langsung nonton online di internet dan lihat jalan ceritanya lewat gambar.

Tapi… sayangnya, aku akui filmnya mengecewakan sih.  Meh banget.

600 sekian halaman di buku Inferno memang menceritakan tentang kejadian yang terjadi selama sekitar sehari 2 malam. Tapi baca di buku, semuanya terasa masuk akal aja. Ketika nonton filmnya, sebagai orang yang sudah tahu jalan ceritanya, aku ngerasa kalau jalan cerita filmnya buru-buru banget. Ditambah lagi ada beberapa bagian yang diubah. Kalau bicara soal ending, ending versi Dan Brown di novel dengan ending versi David Koepp sebagai penulis script jauh beda. Kalau kalian sudah duluan nonton filmnya dan geram sama karakter Sienna Brooks, kalian harus baca bukunya untuk tahu versi asli dari yang Dan Brown tulis.

Over all, walaupun filmnya ngga bener-bener merepresentasikan bukunya, filmnya juga keren, terutama bagi orang-orang yang ngga baca bukunya dulu sebelum nonton. Aku yang langsung nonton The Da Vinci Code tanpa baca bukunya dulu pun menganggap filmnya keren banget, padahal mungkin filmnya juga ‘meh‘ buat mereka yang udah baca.

Buat kalian yang udah nonton Inferno, baca bukunya juga bukan pilihan yang buruk sih. Karena–aku ulangi lagi–jalan cerita yang ada di buku dan filmnya ngga sama. Ada banyak banget bedanya.

Dan buat kalian yang belum nonton, aku saranin buat baca bukunya dulu sih. Kalau kemampuan Bahasa Inggris-nya masih biasa aja, kaya aku, baca versi terjemahannya ngga apa-apa. Tapi kalau bisa baca buku versi aslinya aja, karena rasanya tetap ngga original aja sih karena bukan Dan Brown langsung yang tulis.

Sekian review abal-abal ala kadar sesuka hati ini.
Sampai ketemu di review-review lainnya! 😛

 

 

Ekspektasi – Realita Vol. 1.2

Entah sudah berapa kali aku mengatakan soal Turki yang dulunya sama sekali bukan mimpiku, bukan negara impianku. Bukan nama tempat yang tertulis di dinging kamar atau sisi-sisi buku diary-ku. Not at all, bukan sama sekali. Aku mulai diberitahu soal Turki ketika aku bilang kepada Abi kalau aku tertarik untuk mendaftar beasiswa Turkiye Scholarships.

Abi bercerita banyak, tapi aku tidak ingat semuanya. Yang aku ingat adalah Abi menyebut soal Turki yang terletak di dua benua; Asia dan Eropa, ada selat bernama Bosphorus  yang memisahkan kedua benua tersebut, dan presiden dari negaranya bernama Erdogan (setelah disini aku tahu kalau pengucapan Abi waktu itu salah. Harusnya, nama beliau disebut ‘Erdoan’ karena huruf G dengan tanduk; Ğ, itu seharusnya tidak dibaca. Lanjut..)

Ketika dipanggil untuk tes wawancara pun pengetahuanku tentang negara ini seperti rok-rok yang dipakai gadis-gadis di luar sana, minim. Yang ada di pikiranku waktu itu adalah semua orang bilang negeri ini bagus, indah, bahkan lebih indah dibanding Mesir. Apa yang harus aku khawatirkan?. Dan entah kenapa aku malas sekali browsing dan cari tahu lebih banyak saat itu.

Tapi meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan kalau aku memiliki ekspektasi pada waktu itu. Tidak banyak, tapi aku bisa menyebutkan beberapa.

  • Bahwa semua orang Turki mengerti dan bisa ber-Bahasa Inggris. Ekspektasi mainstream yang dimiliki oleh kebanyakan calon mahasiswa disini–yang tidak pernah diberitahu tentang ini sebelumnya. Waktu itu, aku berpikir kalau semua orang di Istanbul sudah pasti bisa ber-Bahasa Inggris, karena banyak sekali turis yang datang kesana, seperti Bali, semua orang Indonesia di Bali bisa ber-Bahasa Inggris, bukan? (Ya, kan?).Dan aku pun dikecewakan dengan realitanya yang ada. Apalagi waktu itu aku dan teman-temanku adalah pendatang baru yang hanya sekadar tahu merhaba, teşekkür ederim atau güle güle dan mengucapkannya dengan logat Indonesia yang kental. Walhasil, 3 bulan pertama, kami banyak menggunakan bahasa tubuh dan Google Translate.Lalu apakah tidak ada harapan bagi turis yang tidak tahu jalan atau bahkan tersesat disana?

    Sebagian orang Turki yang bekerja di kawasan kunjungan turis mampu mengerti dan merespon dengan baik. Bahkan, mereka yang tidak tahu bahwa kami adalah mahasiswa disini pun kadang menyapa wajah asing kami dengan Bahasa Inggris. Bahkan sepatah-dua patah kata dalam Bahasa Indonesia yang mereka pelajari otodidak, seperti ‘bagus’, ‘murah’, atau ‘sayang’.

    Dan tidak perlu khawatir karena petunjuk jalan disana banyak yang menyertakan Bahasa Inggris.

  • Bahwa yang dikatakan oleh para senior soal “akan banyak berjalan kaki” maksudnya adalah tidak sebanyak itu.
    Setelah menerima Kabul Mektubu atau Letter of Acceptance dan mulai mempersiapkan diri untuk hari keberangkatan, kami diberi pesan untuk memiliki minimal dua pasang sepatu, atau sepasang sepatu yang paling nyaman dan berkualitas bagus. Alasannya, karena tidak ada transportasi publik sejenis ojek atau becak, kami akan sering berjalan kaki di Turki nanti.Aku pikir, kata ‘jauh’ itu hanya menginterpretasikan jarak yang maksimalnya sekitar 100 meter. Tapi ternyata, jarak tersebut adalah termasuk ‘sangat dekat’. Bulan-bulan pertama benar-benar sulit. Jarak yang sebenarnya tidak jauh, kami lewati dengan keluhan dan lelah.Setelah melewati setengah tahun, kami sudah mulai biasa dengan ‘banyak berjalan’ dan ‘berjalan jauh’. Di tahun berikutnya, kami yang mengingatkan calon mahasiswa baru tentang hal ini.
  • Bahwa Turki adalah negara yang cantik.
    Realitanya? SANGAT cantik. Aku tidak sepandai penulis profesional seperti Dan Brown, atau Ilana Tan dan Tere Liye dalam hal menggambarkan satu suasana hingga dapat dibayangkan oleh pembaca.Mungkin belum. Tapi dua kata tadi sudah menjelaskan bukan? Kalian bisa mencari gambar atau video yang menampilkan kota-kota di Turki. Dari semua kota itu, Istanbul adalah yang paling aku kenal dan aku bisa katakan kalau yang kalian lihat di video atau gambar itu hanya memperlihatkan sedikit dari kecantikan yang ada. Melihatnya dengan mata kepala sendiri tentu akan berbeda.Aku ingat mengagumi Sultanahmet dan Hagia Sophia lewat gambar di internet. Dan ketika tiba pertama kali disana, aku menangis terharu, bergumam pada diri sendiri tentang aku yang benar-benar berada disana dan ini semua bukanlah mimpi.

    Walaupun begitu, tetap saja ada bagian-bagian dari ulah manusia yang membuat kecantikan itu sedikit memudar, berkurang. Seperti sampah di pinggir jalan, atau puntung rokok dimana-mana. Tapi memang tidak ada hal yang sempurna, bukan?

Inilah sebagian dari ekspektasi dan realita yang aku bisa ceritakan, beberapa lainnya bisa kalian baca di versi bahasa Inggrisnya disini. Ada banyak lagi hal di dunia yang seringkali mengecewakan. Yang lebih berbahaya bukan hal atau kejadian yang mengecewakan itu, tapi rasa kecewa yang dibiarkan menguasai.

Cara kita merespon sesuatu itu adalah lebih penting dibanding hal yang benar-benar ada di depan kita. Sebuah kekecewaan akan terasa manis kalau kita menyapanya dengan senyuman, sabar, dan percaya kalau ada hal lebih baik lagi yang akan menggantikan. Jika kita rasa kita mungkin tidak akan sanggup memaksa senyum dalam kekecewaan, maka jangan berandai-andai, jangan berharap, jangan berekspektasi yang terlalu tinggi, karena ketika jatuh, kita akan merasa lebih sakit.

P.S. Stay tune on my blog-site, cause I’ve been thinking about having a give away!. Brace yourselves!

 

Bernapas di Istanbul

Besok adalah ujian hari terakhir dan jadinya malam ini udah males belajar. Bosen pacaran sama buku (padahal belajar banget juga ngga). Jadi mutusin buat buka blog dan pengen posting sesuatu.

Tapi kemudian bingung. Pengen posting tapi ngga tahu mau posting apa. Jadilah akhirnya kepikiran untuk bagi-bagi cerita, curcol soal kehidupan disini dengan bahasa yang santai aja. Biar kerasanya kaya ngobrol sama temen deket sendiri, lah.

So, bicara soal hidup di Istanbul, hal pertama yang mungkin terbesit di pikiran kalian sekarang–berkaitan dengan berita-berita yang disebar luaskan media di seluruh dunia–adalah, “disana (ngerasa) aman ngga?”. Ngga sedikit yang udah tanya soal hal ini via Facebook, DM Instagram, email, atau AskFm. Mereka semua wondering soal apakah kami semua disini hidupnya, ngapai-ngapainnya ngerasa aman atau ngga. Aku pun sampai bosen bilang kalau sebenernya, sadar atau ngga, ngga ada tempat di dunia ini yang benar-benar aman. Di rumah sendiri sekalipun.

Istanbul, dan kota-kota lain di Turki memang belakangan jadi sorotan dunia karena sudah berkali-kali diserang ledakan bom bunuh diri. Malam tahun baru kemarin ada kejadian, hari ini pun, sore tadi banget, di Izmir baru kejadian. Tapi gini, memangnya kematian cuma disebabkan sama bom doang? Kematian adanya di Turki doang?

Pernah nonton film yang namanya Final Destination, ngga? Memang itu film cuma fiksi, sih. Tapi ngerti, kan, kalau kematian itu juga kaya rejeki? Datengnya seringkali dari jalan yang ngga diduga-duga. Orang yang tidur di atas ranjang sendiri, ngga ditikam, ngga diapa pun paginya bisa ngga bangun lagi, kok.

“Tapi kan di Turki udah jelas banyak bom segala macemnya”

Emangnya kalau udah kejadian di Turki, ngga akan kejadian juga di tempat lain, kah?
Takut tuh pasti ada. Manusiawi. Aku pribadi pun kalau lagi keluar mau kemana gitu seringkali mikir, gimana kalau nanti ketika aku sampe disitu tiba-tiba ada yang nembak? gimana kalau ternyata ada yang diem-diem bawa peledak ke dalem sini?. Takut, cuy. Tapi emangnya harus diem aja di asrama/rumah? Ngga kuliah, ngga maen, ngga apa? Kan sayang waktunya.

Makanya setelah shalat kan kita dianjurkan untuk berdoa minta meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, meninggal dalam keadaan yang baik, dalam keadaan sedang dalam cinta yang sedalam-dalamnya kepada Allah, dalam keadaan sedang taqwa dengan sebaik-baiknya, biar kelak di akhirat jadi salah satu dari hamba-hamba yang beruntung. Karena itu juga, dimanapun tinggalnya kita, ketika memutuskan untuk keluar rumah, kita baca doa–minimal basmalah–dan sepanjang jalan terus ngingetin diri buat dzikir dan istighfar. (Kan, jadi panjang)

Kami yang disini bisa dibilang udah biasa, sih, dengan berita-berita itu. Weekend tetep main sama temen, ada acara PPI atau lainnya diusahain buat hadir, pas ada kelas tetap dateng walau sejauh apapun jaraknya.

Hayat devam ediyor. Mau gimanapun hidup tetap berjalan lah. Tempat-tempat tetep rame, jalanan tetep macet, kendaraan umum tetep penuh, orang-orang tetep keluar rumah. Aku pun sebagai seseorang yang bakal ninggalin Istanbul sekitar 2.5 tahun lagi (aamiin, insyaAllah) mana mau lama-lama di asrama aja, ngga kemana-mana ketika badan sehat dan waktu lagi kosong.

kalabalik
Sumber: Google

Istanbul itu punya semuanya. Mulai dari tempat-tempat makan enak dan kece, tempat belanja, taman-taman tempat relaksasi, tempat-tempat dan bangunan-bangunan megah saksi sejarah, masjid-masjid cantik, laut, pantai, sampai ke dunia cokelat, theme park dan Jurassic Land aja ada. Sampe sekarang pun, setelah udah kenal Istanbul selama sekitar 2 tahun 3 bulan, ada aja beberapa tempat yang aku belum kunjungi sama sekali. Misalnya, Büyük Valide Han di Eminönü yang aku ngga tahu cara kesananya gimana -_-.

575aaef218c7735910d400a1
Büyük Valide Han. Sumber: hurriyet

Tempat-tempat yang udah dikunjungin pun ngga ngebosenin. Makanya jalan-jalan di Istanbul tu ngga ada habisnya. Kalau kamu mau keliling seluruh Istanbul, seminggu aja ngga cukup. Kecuali nantinya bakal balik lagi kesini. Nih, aku kasih tahu beberapa tempat yang kudu, harus, mesti, wajib kamu kunjungi kalau lagi jalan atau mungkin sekedar mampir kemari. (Ntar kalo masih kurang bakal dilanjutin kapan-kapan)

  • Sultanahmet-Hagia Sophia (Aya Sofya)
sultanahmet_1
(Sumber: grandyavuzhotel.com via Google)
aya_sofya_resimleri
Sumber: istanbuldagez.com via Google

Udahlah, semua juga tahu soal dua ini, kan? Yoi. Kalau kamu ke Istanbul tanpa berkunjung ke dua tempat ini, kamu kaya makan tapi ngga makan. Ngerti ngga? Ke Istanbul, tapi seolah ngga. Karena ngga berkunjung, tadabbur, dan foto-foto di sini.

Tentang Sultanahmet (Blue Mosque) dan Aya Sofya singkatnya sudah pernah aku tulis di postingan The Amazing Two.

  • Gülhane Park
gulhane-park
Sumber: traveldk.com via Google

Letak Gulhane Park ini deket banget sama Sultanahmet. Bisa jalan sekitar 10-15 menit. Waktu paling bagus buat berkunjung ke taman ini adalah di musim semi terutama di bulan April, karena di tamannya ada bunga tulip bermacam rupa di setiap sudutnya.

gulhane-parki-2
Festival Tulip. Sumber: gezipgordum.com via Google
  • Eminönü
maxresdefault
Sumber: Google

Di Eminonu, kita bisa lihat pemandangan Golden Horn dan lihat Bosphorus dari kejauhan sambil makan balık ekmek atau fish sandwich dan minum ayran, shalat di Yeni Camii, pergi belanja ke Spice Bazaar, dan dari Eminonu, kita bisa naik feri untuk nyebrang ke Istanbul Asia atau ikut Bosphorus Tour. Lengkapnya juga nanti insyaAllah bakal dijelasin di postingan yang akan datang!

Dan ada banyak tempat-tempat lain yang lebih cantik dan bikin baper walaupun kamu lagi sendiri, eheh :-P. Yaa, walaupun kotanya rame banget, transportasi umumnya selalu penuh dan sering sampe himpit-himpitan, semua mahal (dibandingin langsung sama Indonesia), beberapa tempat baunya semriwing, dari satu tempat ke tempat lain kadang jauhnya masyaAllah dan butuh berkali-kali transit, orang-orangnya suka rese, cantiknya Istanbul ngga kurang-kurang.

Ya, walaupun Istanbul juga ngga sempurna banget, sih. Sudut-sudut kotornya ngga sedikit dan puntung rokok ada dimana-mana. Tapi, guys, Istanbul itu worth pantat tepos dan punggung pegel kamu selama di pesawat. Kalau kamu ngapus Istanbul dari bucket list kamu karena berita-berita yang ada sekarang, your life is a waste, ciah. Kalau ditunda sih ngga apa-apa. Sekalian aja pas pulang atau berangkat umrah, mampir juga kemari.

Yuk, main ke Istanbul!
Ada banyak pengalaman dan kecantikan yang siap memanjakan mata dan hati kamu disini!. Yuk! siapa tahu ketemu jodoh 😛

2017 is loading..

Siapa sangka ternyata kita sudah berada dipenghujung 2016 sekarang? Tersisa 20 hari lagi sebelum semua orang di seluruh dunia meneriakkan ‘selamat tahun baru!’ dengan bahasa masing-masing pada pukul 00.00 tanggal 31 Desember dengan diiringi tiupan terompet dan kembang api yang meramaikan langit.

Bicara soal tahun baru selalu identik dengan resolusi tahun baru, bukan?. Apa itu resolusi tahun baru?

Resolusi tahun baru menurut Wikipedia adalah tradisi sekuler yang umumnya berlaku di Dunia Barat, tetapi juga bisa ditemukan di seluruh dunia. Menurut tradisi ini, seseorang akan berjanji untuk melakukan tindakan perbaikan diri yang akan dimulai pada hari tahun baru. (I literally copied and pasted the sentences but anyway, you guys can check the details here)

Menurut tradisi ini, seseorang akan berjanji untuk melakukan tindakan perbaikan diri yang akan dimulai pada hari tahun baru

Tindakan perbaikan diri ini mulai dilakukan pada hari tahun baru atau hari pertama di tahun baru karena orang-orang merasa tahun baru adalah waktu yang tepat untuk mengulang sesuatu dari awal dimulai pada hari pertama dari 365 hari yang ada.

Kelihatannya tidak sulit, bukan? Kita hanya perlu menentukan beberapa hal yang ingin kita jadikan goal di tahun yang akan datang. Tapi, hal tersulit dari membuat sebuah janji adalah mewujudkannya, to make it real. Not just a list of some stuffs hanging on our room wall that become dusty is the end of the year. 

Kita selalu membahas, membicarakan resolusi tahun baru untuk kemudian menyadari bahwa tidak semua poin dapat terealisasi karena terlupakan. Karena semangat untuk resolusi ini hanya ada di bulan terakhir tahun dan bulan pertama tahun berikutnya. We can’t deny. It’s the (sad) fact.

Ada berbagai macam poin yang kita tulis dalam daftar resolusi tahun baru setiap tahunnya. Sebagian mungkin adalah hal baru, namun sebagian lainnya kemungkinan besar merupakan harapan dari resolusi tahun sebelumnya. Resolusi tahun baru yang kita baru sadar keberadaannya–pernah kita rencanakan di akhir tahun sebelumnya–ketika kita sudah memasuki akhir tahun dan bersiap menyambut tahun berikutnya. We can’t deny. It’s the (sad) fact (2).

images
Sumber: Google

Jadi sebenarnya, untuk apa kita punya sesuatu yang kita lakukan tiap tahun tapi hanya diingat di awal dan di akhir tahun saja? I mean it supposed to be something that sticks to our mind all the time along the year, right? Karena ‘tradisi’ yang satu ini menyangkut hal yang kita ingin lakukan untuk memperbaiki kualitas diri kita.

 

Just like the applications you have on your phone, your goals, your bucket list, should be updated constantly –Yasser Rashed (International Trainer)

Banyak hal yang bisa mempengaruhi cara kita memandang sesuatu, mempengaruhi kemauan kita akan sesuatu. Orang-orang yang kita temui, karakter dari film yang kita tonton, musik yang kita dengarkan, dan lain sebagainya. Karena itu lah kita memang harus meng-update harapan dan tujuan kita.

Resolusi tahun baru adalah sesuatu yang ingin kita lakukan, sebuah janji kepada diri sendiri yang akan mulai kita lakukan di hari pertama tahun baru dan berlaku hingga sepanjang tahun.  Misalnya, salah satu harapan kamu adalah lancar berbahasa Inggris. It’s a good one. Kamu sudah mencari tahu berbagai hal mengenai cara untuk tetap stick with it sampai ia terwujudkan sebelum akhir tahun. Kamu tetap fokus dengan goal  kamu dan mendapatkan kemajuan hari demi hari karena kerja kerasmu.

Tapi di pertengahan tahun, kamu menemukan sebuah Youtube channel dari seseorang yang melanjutkan studi di Jepang. Kamu tonton beberapa videonya dan kemudian mulai tertarik dengan Jepang, bahasanya, budayanya, dsb.. Sampai akhirnya kamu tertarik untuk mengejar beasiswa ke Jepang. Dan, kamu mulai belajar bahasa Jepang, mempersiapkan diri untuk mengikuti tes seleksi beasiswanya. See? Goal-mu dengan mudahnya dapat berubah. Pada akhir tahun, kamu kemudian menyadari bahwa resolusi tahun barumu tidak terwujudkan.

Poin penting yang coba aku sampaikan adalah:

Pertama, jika kamu ingin memiliki resolusi tahun baru, kamu bisa memilih hal-hal yang berkaitan ke bagaimana merubah pribadi kamu menjadi lebih baik lagi. Misalnya, tidak bersikap kekanakan, berhenti membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan, menjadi orang yang lebih rapi dan bersih, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menjadi lebih disiplin, dan lain sebagainya.

Pilihlah hal-hal yang kamu yakin bisa kamu lakukan dan selalu kamu ingat. Dan cobalah berbagai acara untuk membuatnya tetap berada di kepalamu. Sehingga di akhir tahun, resolusi tahun baru-mu benar-benar memiliki hasil. Ada artikel yang bagus mengenai hal ini (English) yang bisa kamu lihat di sini.

Kedua, sebenarnya, jika kita ingin memulai sesuatu hal yang baik, kita tidak perlu menunggu awal tahun baru untuk memulainya. Kita tahu bahwa menunda melakukan sesuatu adalah hal yang tidak baik, bukan? Menundanya hingga ke hari berikutnya sekalipun. Karena jika kita berencana untuk melakukannya besok, nanti malam, minggu depan atau nanti-nanti lainnya, itu berarti kita membiarkan diri kita bermalas-malasan di masa sekarang. ‘Sekarang’ adalah waktu yang paling tepat untuk memulai sesuatu, untuk memulai kebiasan baru. (Time of Your Life, Rando Kim)

Ketiga, inti dari resolusi tahun baru adalah membawa perubahan baik kedalam diri kita, bukan? jadi kita bisa menulis daftar harapan dan tujuan (goal) kita tidak hanya untuk resolusi tahun baru. Kita bisa menulisnya di rencana hidup kita selanjutnya dalam jangka pendek dan panjang, seperti must to do,  life maping, atau goals of the rest of my life (I made this term).

20120820-225540
(Sumber: Google)

Dalam sebuah website bernama Not Enough Cinnamon, seseorang bernama Marie dalam artikelnya yang berjudul Why New Year’s Resolution Do Not Work – And What You Should Do Instead menulis:

Millions of people decide to change their lives for the better, often by losing weight or eating healthier. It’s a first step towards a healthier lifestyle, and it’s great. But New Year’s resolutions are not the best way to succeed. In fact, I would even say they are the best way to fail. Why? Because 90% of these resolutions are not realistic, overwhelming and at the end, just plain discouraging”

Terjemah: jutaan manusia memutuskan untuk merubah hidup mereka menjadi lebih baik, seringkali dengan menurunkan berat badan atau mengkonsumsi makanan yang lebih sehat. Ini adalah langkah pertama menuju pola hidup yang lebih sehat, dan itu bagus. Tapi resolusi tahun baru bukanlah cara terbaik untuk berhasil. Kenyataannya, menurutku (writer) hal ini adalah cara terbaik untuk gagal. Kenapa? Karena 90% dari resolusi-resolusi ini tidak realistis, berlebihan, dan pada akhirnya hanyalah mengecilkan/merendahkan diri sendiri.

(You guys can read the full article just by clicking the link above, it’s really a nice article)

Marie memiliki pendapat yang sama denganku, bahwa kita tidak butuh resolusi tahun baru untuk mendapatkan hasil dalam perbaikan/pengembangan diri kita. Daripada menulis daftar panjang berisi resolusi tahun baru yang harus kamu wujudkan selama satu tahun yang akan datang, menulis goals seminggu sekali, misalnya, adalah lebih baik.

“Break down your big goals into small goals. The rule is: baby step.”

Mulailah dari hal yang kecil, dan seperti yang sebelumnya aku katakan, update tujuan dan harapan itu secara berkala. Sehingga, di akhir tahun ketika kita melihat ke belakang, memikirkan tentang apa saja yang sudah terjadi dan perubahan baik apa yang telah kita hasilkan kepada diri kita selama setahun yang sudah berlalu, diri kita akan merasa puas. Terlebih ketika kita melihat daftar-daftar yang dicentang penuh, mission accomplished.

Akhir kata, keputusan tetap berada di tanganmu. Dengan cara atau metode apa yang ingin kamu gunakan untuk membuat daftar harapan dan tujuan hidup kamu. Yang terpenting adalah bagaimana kamu, kita, meyakinkan diri dan terus meng-upgrade semangat sehingga yang kita inginkan dapat terwujudkan; menjadi manusia yang lebih baik.

Selamat menikmati hari-hari terakhir 2016! Semangat berubah!

Asma Hanifah Ahmad
09.45 AM (GMT+3)

Expectation and Reality (Being a student in Istanbul)

We all know those memes and funny videos about expectation and reality which usually happen and experienced by us. Expectation and reality of the first day of school, having a brother/sister, having a sleep-over party, and others.

If you still don’t know for sure what an expectation is, just go to Google and type “expectation is”, then continue reading.

Or you can also see these two pictures below to understand what expectation is.

So basically, the expectation is a word for a thing which we usually call hope or harapan in Indonesian, a thing about something that we think will happen.

We all definitely have ever expected a thing about something, like all the students who will experience studying abroad expect about their dream cities/countries. For this, I would like to write about the expectations the students who will continue their studies in Istanbul might have and the realities.

Disclaimer: All the things you’re about to read are according to what I’ve experienced myself for last 2 years. Different person has different opinions. And please read the points thoroughly before giving your comment.

Being a student in Istanbul: Expectations and Realities

  1. Expectation: You think all of the Turkish people are be able to speak English very well that you don’t have to concern about the communication.
    Reality: Some of them are, yeah, be able to speak English very well. They understand you easily and response with good pronunciation and grammar. Some others are able to understand but have some difficulties to response due to less speaking practice. And most of them don’t understand English at all. So I recommend you to learn some Turkish basic daily words or phrases to help you out when you’re walking alone outside. Such as teşekkür ederim (thank you), … nerede? (where is …), ne kadar? (how much?), İngilizce biliyor musunuz? (do you speak English?, hayır/evet (no/yes), or Türkçe bilmiyorum/Türkçe hiç bilmiyorum (I don’t know Turkish/I don’t know Turkish at all)
  2. Expectation: you think you won’t feel exhausted in your travel from one place to another because they have comfortable public transportation.
    Reality: Sorry to say, but, darling, this thought is wrong. Yeah, it’s true that they have comfortable public transports here (much better comparing to ours in Indonesia). But the problem is the traffic and the long distances between one place to another. Istanbul is 7 times bigger than Jakarta*. So for some circumstances especially when you want to travel from Asian side to European side, you will need more than 3 hours and change the public transports more than twice. Even to go to one place in the same side sometimes needs 2-3 hours depends on the traffic and the distance. I need around 45 minutes to 2 hours–depends on many conditions– to be in my campus because the distance between my dorm to my campus is 44 km, even further than the distance between my house to Palembang (in Indonesia) which is only around 30 km. They do have comfortable public transports but also too many citizens here. You would probably spend 30 minutes, not to wait for the bus to come, but to wait for a full bus which still has a small space for you to stuck yourself in.
  3. Expectation: you think Istanbul is better than your city in every ways
    Reality: you’ll have that thought when you have to walk for 20 minutes from the bus station to your destination (dorm/a friends house). You have to rely on your feet and comfort shoes because they don’t have these Go-Jek, Uber, mamang becak, bentor to take you to a place which is actually not too far for the last place you stand. If you’re and Indonesian or any other country in South-East Asia who has the similarities, this is one of the reasons to miss your country :’
  4. Expectation: you think you wouldn’t have any obstacles to understand the university lessons because you finished the 1 year Turkish preparation class
    Reality: the things that you learn in the course are only the basic things to help you understand Turkish words and the structures. They only teach you the grammars with easy examples. You really have to read the sentences all over again to understand what is exactly the sentence talking about. You also need to browse the lessons-related articles to help you understand better.
  5. Expectation: in university, you think your professors will help you out by explaining the lessons in English and give you a special treat because you’re one of the minority who doesn’t have Turkish as the mother language.
    Reality: you have more than 100 classmates and they are all born as Turkish people who learned Turkish language from the very first word they know as a 9 months old baby. So don’t expect too much that they will allow the professor to explain in English, like “this is Turkey! This is my country! Why did you come here if you don’t know how to speak in Turkish!”. Yeah, life.
  6. Expectation: you think all of the people will always say hi to you when you’re walking on the streets, in the buses, or greet you with warm smiles because you’re their guest
    Reality: so Istanbul is one of the biggest cities in Turkey, has around 20 million citizens–Turkish and foreigners– AND has been visited by million of tourists every year. So you know how much they’re actually sick of tourists. But they should be happy because the country gets a lot of benefits from the tourists.
    Yeah, it’s definitely right. But a mount of people think that foreigners just make Istanbul more crowded. Yeah.

Actually there is a plenty of other expectations and the realities about being a student in Istanbul. There are so many problems that is actually bigger than you’ve ever thought, there are so many things that is actually more complicated than you’ve ever imagine. But this is life. Hayat işte. There will be always a good in a bad and a bad in a good. Kamu tidak akan selalu menemukan kesulitan, juga tidak akan selalu menemukan kemudahan dalam hidup. 

It’s really hard to find a Turkish people who speaks English but when you really need help, no matter how hard it is for both of you to communicate, they really have the will to help you. They try to use the body language, ask their friends about the English word or use Google Translate only to help you. And after starting the course, study and practice a lot, you will have the ability to speak one other foreign language after English.

The distances are so far from one place to another and it is really that exhausting sometimes. But you will just be okay because you could see many things outside of the window. The buildings, the people, and many other things which are so different from your country. You can take a book with you, install an interesting game on your phone, or download some musics you like to help you enjoy the travel until you get used to it and feel better about everything.

Your feet might pain because you walk a lot. But don’t worry, you’ll be okay. You don’t walk for kilometres every day, you can call a taxi if you feel really tired. And in the day when you’re having your holiday in Indonesia or coming back after finishing your study, you will be stronger than any other of your friends :).

It is really hard for you to understand the lessons. You feel really sick of studying and just want to go back home. You think choosing to study here is a big mistake, a wrong decision that you’ve ever made. But–again–you’ll just be okay. You have your friends who will help you translating the words and explain it until you really get the point. Your Turkish friends will be glad to help you get the notes and help you to answer your questions. You’ll just be fine if you spend enough time to study and work hard. When the results are not as good as you’ve expected, just brace yourself and do better next time.

The professors won’t explain the lesson in English because the majority of the student in the class is Turkish students. We can do nothing about that. But sometimes if you tell them about your obstacles on understanding the lesson in Turkish and ask for their help, they will help you by allowing you to answer the exam in English or give you some task or homework to help you gain more grade.

Those who think that foreigners have nothing to do in Istanbul except making more traffics are probably just sick and tired of their problems. That’s why they blame the foreigners they meet and see all over the places. But there are still many people who cares and smiles to  you. Even an old woman who would kiss your cheek, say how cute and beautiful you are and pray for your best in life. Some parents would let their children play and take selfies with you. There are a bunch of people who doesn’t even want to be close to you just because you’re different, but there are more who want to say salaam, shake your hand or even hug you and talk with you about yourself and your country.
Just forgive them if they say something wrong about your country (some of the people want to show how they really know about a country but mistaken it with other), not all the people know geography well, anyway.

Over all, I just want to tell you that you may have an expectation about something, but don’t put it too high or you’ll be really hurt when you fall down. Don’t be too pesimistic as well. Just think about the simple things and you’ll get surprised.

You will find so many obstacles, you will have so many reasons to miss home. You will feel tired and about to give up. But the breeze, the sea, the seagulls, the parks, the minarets, the people you know from diverse countries, the smiles, the foods, the places will help you to keep feeling okay no matter how big the problem is as long you thank God for everything, keep praying, ask for His help and keep doing the best you can.

Dont give up because of all the bad things because you have more good things to thank for.

*Jakarta: 661,5 km2 and Istanbul: 5.363 km2 (according to Google search result)

This post is inspired by one other similar post from other website. I think different person has different thoughts and opinion so I decide to make mine.

Hope this will help you and make you keep being positive!

Dont forget to leave your comment down below. Especially because this is my very first post in English. Thank you and see you in Istanbul!

Ujian pada Ujian

Halo, semua!

Mungkin di antara kalian masih ada yang sedang berjuang dalam ujian, ya. Berusaha mempertahankan atau mendapatkan nilai yang jauh lebih baik dari semester sebelumnya. Tetap semangat!. Jangan sampai godaan-godaan dari luar menurunkan semangat belajarmu!

Aku? Aku sudah menyelesaikan ujian sejak beberapa hari lalu. Hanya berlangsung selama 5 hari untuk 7 mata kuliah. Hal baiknya aku tidak perlu berlama-lama merasakan tekanan ujian, tapi berita buruknya adalah selama 5 hari itu aku harus terus berkutat dengan buku tanpa henti karena harus belajar untuk ujian keesokan harinya. Yep, melelahkan.

Semester ini, aku merasa lebih siap menghadapi ujian karena memang sudah sejak 1,5 bulan sebelumnya sudah mulai ‘pacaran’ dengan buku. Ya, aku tahu diri. Bahasa Turki bukan bahasa ibu-ku dan karena itu aku harus membaca sambil menerjemahkan, mencari  artikel terkait di internet agar lebih paham, dan membaca lagi dari awal. Kadang aku berpikir andai semua mata kuliah berbahasa Inggris, kurasa aku tidak akan merasa se-pusing dan se-lelah ini dalam belajar. Karena setidaknya memahami Bahasa Inggris yang sudah mulai aku pelajari sejak kelas V jauh lebih mudah dibanding Bahasa Turki yang.. entahlah. Bahasa ini terlalu unik.

Pada hari pertama dan kedua ujian, aku masih merasakan semangat belajarku. Aku masih merasakan hal-hal positif memenuhi kepalaku. Bahwa aku akan bisa lebih berhasil pada semester ini. Bahwa nilai-nilaiku akan jadi lebih baik. Setidaknya sedikit lebih baik. Sampai hari ke-empat, aku masih bersemangat dan menyemangati teman-teman asingku yang sudah kehilangan ‘nafsu’ belajar sejak awal,

I know my fate, Hani”
“No!, you can’t say it is your fate ’till you already tried something”

Aku berusaha memberi mereka semangat dengan caraku menyemangati diriku sendiri. Aku ingat sekali ketika masih kelas 12 waktu itu, aku dan teman-teman mengikuti Try Out SIMAK UI yang semua orang tahu betapa sulitnya. Sebelum hari H, kesehatanku sedang menurun, aku memang sering sakit akhir-akhir kelas 12 karena kelelahan. Tapi karena aku tidak ingin jadi satu-satunya orang yang melewatkan Try Out itu, aku mendaftarkan diri dan mulai belajar sebisaku.

Aku beri tahu satu hal menyedihkan dari situasiku waktu itu. Aku belum memiliki buku persiapan UN milikku sendiri karena Abi belum bisa membelikan. Ya, kurasa aku sudah pernah cerita kalau kondisi ekonomi keluargaku sedang buruk sekali masa itu. Jadi aku meminjam dari temanku yang punya tiga buku persiapan UN. Aku belajar, mencatat hal-hal penting di buku tulis, sampai satu hari sebelum hari H. Di hari ketika Try Out dimulai..

Aku terkejut. Kami terkejut karena tidak ada satu soal pun yang kami pernah lihat sebelumnya. Walau soal Bahasa Indonesia sekalipun. Bahasa Inggris? Hampir semua kosakatanya baru aku temui hari itu. Matematika? Jangan tanya. Aku menggunakan metode membaca Bismillah, Al-Fatihah, atau hapalanku yang lain sambil menunjuk pilihan jawaban yang ada sambil melihat akan berhenti dimana ketika aku habis membaca. Benar-benar yakin kalau jawabanku benar hanya karena sebuah keajaiban atau keberuntungan yang Allah pihakkan kepadaku.

Tapi sungguh benar yang mereka katakan, hasil yang akan kamu dapatkan dilihat dari seberapa besar upayamu mendapatkannya. Energi keluar=energi masuk. Hari itu, ketika nama-nama dengan nilai tertinggi dibacakan, aku tidak percaya kalau nilaiku adalah yang paling tinggi untuk jurusan IPS. Bersama dengan 2 teman sekelasku di urutan kedua dan ketiga. Ingat aku pernah bercerita soal hari-hari yang terasa magical buatku? Hari itu salah satunya. Hari ketika aku merasakan langsung manjurnya man jadda wajada.

Aku tidak pernah lupa detail hari itu sampai sekarang. Membuatku tersadar kalau Allah akan memberikan hasil yang sesuai dengan usaha kita. Jika kita berusaha keras, tidak berhenti berdoa dan menyerahkan semua kepadaNya dengan hati lapang, maka insya Allah kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Bahkan bisa jadi lebih.

Satu hari sebelum ujian hari ke-lima, aku kembali menekuni materi yang sudah aku baca sebelumnya. Sesekali membuka kamus. Di hari terakhir, akan ada 2 mata kuliah; İnkilap Tarihi (sejarah Turki dan perkembangannya) dan Türk Dili (Bahasa Turki). Keduanya bukan mata kuliah pokok, tapi tetap saja nilainya akan mempengaruhi IPK. Aku terus memaksakan diri untuk fokus ke isi materi. Tapi sampai pada pukul 9 malam, aku merasa lelah sekali.

Kepalaku berat, dadaku sesak. Aku cemas, takut. Takut kalau aku tidak akan bisa mendapatkan nilai yang cukup untuk İnkilap Tarihi. Ada sekitar 270 halaman A4 yang harus aku baca dan selesaikan malam itu juga. Walaupun sudah pernah aku baca sebelumnya, aku tetap harus mengulangi lagi untuk kembali mengingat detail-detail yang ada. Aku tetap tidak bisa mengembalikan semangat walau sudah berkali bilang “Asma bisa! Asma bisa!” kepada diriku sendiri. Tidak. Sudah lelah sekali.

Rasanya ingin langsung tertidur, bangun esok hari dan langsung melakukan ujian dengan pasrah. Tapi aku juga tidak bisa memaksakan diri untuk itu. Aku galau. Sampai  akhirnya aku menghabiskan waktu hampir satu jam untuk curhat ke beberapa teman. Mencari ‘dorongan’.

“Tugas kita cuma berusaha semampu kita. Soal hasil nanti biar Allah yang urus. Cuci muka, dzikir, kalau bisa shalat biar hatinya lebih tenang” kata mereka yang ucapannya hampir sama.

Padahal aku sudah tahu ‘kunci’ itu. Untuk menyerahkan saja segalanya kepada Yang Maha Kuasa setelah berusaha dan berdoa semaksimalnya. Tapi entah kenapa diriku lupa dan merasa ciyut sekali malam itu. Setelah diberi wejangan, aku kembali menyadarkan diri untuk tidak terlalu mencemaskan hasil. Yang terpenting adalah proses, bukan hasil. “Jangan sampai kekhawatiran Ayuk mengurangi nilai prosesnya,” kata Abi.

Kita sering kali merasakan ujian kita bertambah dengan ujian di sekolah atau di kampus. Dorongan untuk membanggakan orang tua, membuktikan bahwa kita lebih mampu, dan lain sebagainya membuat kita terlalu concern terhadap nilai. Padahal nilai tidak langsung menunjukkan kejeniusan seseorang.

Kita memang tidak diharuskan untuk terlalu memusingkan soal hasil karena itu hanya akan semakin memberatkan. Kita menuntut ilmu karena itu adalah sebuah bentuk keimanan kita kepadaNya. Karena kita sadar dan tahu bahwa kita memerlukan bekal yang cukup untuk bisa ikut berjuang membawa perubahan baik. Yang perlu kita selalu ingat dan tanyakan kepada diri sendiri adalah sudah seberapa keras usaha yang kita lakukan? karena Allah membalas sesuai dengan kerja keras yang diberikan.

Sudah bekerja mati-matian tapi hasil ‘fisik’nya–seperti nilai–malah jauh dari ekspektasi? Maka ketahuilah bahwa nilai tersembunyi yang Allah ingin kita sadari adalah lebih penting. Kita sudah tahu bahwa Dia adalah Perencana dan Penentu termaha, jadi kita hanya tinggal butuh benar-benar mempercayainya.

Kita hidup di society yang memang seringkali mementingkan hasil ‘fisik’ dari sebuah kerja keras. Itulah yang membuat kita merasa takut akan terendahkan. Tapi tenang, mereka yang berpikiran sempit, memandangmu sebelah mata, menilaimu hanya dari hasil yang mampu mereka lihat saja tanpa tahu dan mengerti usahamu sebelumnya bukanlah orang-orang yang seharusnya kamu pedulikan. Bukanlah orang-orang yang kata-katanya pantas membuat kamu merasa gagal. Jadikan itu sebagai dorongan untuk menjadi lebih baik dan membuktikan bahwa kamu tidak seperti yang mereka pikirkan.

Jadi untuk kamu, para pejuang dimana pun berada, tetap semangat dan jangan sampai kehilangan kepercayaan dirimu hanya karena bisikan-bisikan kecil dari belakang. Lakukan apa yang kamu bisa lakukan dan berdoalah agar Allah berikan hasil terbaik yang membuatmu kembali belajar hal baru tentang pelajaran kehidupan.

Tidak ada orang sukses yang tidak pernah berkali-kali jatuh sebelumnya, bukan? Terjatuh membuat kita belajar caranya bangkit. Dalam sebuah kutipan–yang aku lupa oleh siapa–dikatakan, “ketika kamu terjatuh begitu dalam, merasa beruntunglah karena tidak ada jalan lain bagimu selain ke atas”

Dan aku ingatkan kamu sekali lagi soal kabar baik ini: Allah selalu tahu mana yang terbaik untuk hambaNya. Maka hasil apapun yang kita terima, walau seburuk apapun, ketahuilah bahwa akan ada hari ketika kita bersyukur untuk itu.

Tetap semangat!

Langkah Satu: Berhasil

Selamat!
Untuk kalian, para YTB applicants yang sudah mendapatkan email undangan wawancara. Selamat bersiap-siap dan semoga terus dilancarkan dan kembali diberi hasil terbaik, ya 😀

Nah, hal apa saja yang harus disiapkan sebelum wawancara? I’ll share some tips I got for myself and what should be prepared when I did the interview 2 years ago. It might not be the really effective ones, but who knows, right?

Well, the first one is..
Perhatikan dengan baik isi email yang kamu terima. Jika itu adalah sebuah undangan wawancara, as I’ve mentioned in the previous post, pasti terdapat tanggal, jam, dan tempat wawancara akan dilakukan. Untuk wawancara di Indonesia, biasanya dilakukan hanya di dua tempat; Kedutaan Besar Turki di Kuningan, Jakarta, dan somewhere in Aceh (Congrats for you, Aceh people!). Jadi jika kamu adalah seseorang yang tidak tinggal di atau dekat dua kota tersebut, persiapkan rencana berangkatmu agar pastinya, tidak terlambat.
Anyway, you can see the email I got in the previous post as well..

Second..
Make sure that you have all the needed documents with you. It’s all written in the email, such as transcript, uploaded certificates, ID card (KTP/Passport), and SKHUN. Seingatku hanya itu. Intinya adalah semua berkas yang dirasa penting dan berkaitan dengan aplikasi. If I forgot to mention other document, just tell me in the comment section.
Buat checklist untuk memudahkan kamu mendata seluruh dokumen yang kamu punya. Pastikan semuanya lengkap sebelum kamu berangkat. Dan untuk ID card, sebaiknya kamu siapkan KTP untuk bisa dengan mudah masuk ke dalam kedutaan. Walau kurasa, Kartu Keluarga juga masih bisa, bagi mereka yang belum memiliki KTP.

Tiga..
Kuasai isi essay kamu kemarin
. Karena sebagian besar yang akan ditanyakan adalah yang berkaitan dengan essay. Tapi ingat, bukan menghapal!. Baca, dan pahami intinya saja.
Some of the questions they might ask you are like..

  1. Tentang dirimu. Mereka akan minta kamu memperkenalkan diri sendiri. Nama, tempat tanggal lahir, usia, sekolah, tempat tinggal, minat dan hobi, dll
  2. Alasan memilih Turki
  3. Alasan memiih jurusan dan rencana setelah lulus
  4. Pertanyaan tambahan yang biasanya berkaitan dengan jurusan yang kamu pilih. Misal, jika kamu memilih Hubungan International, mungkin mereka akan menanyakanmu soal hubungan Turki-Indonesia, dll
  5. Apakah kamu mendaftar ke tempat lain dan mana yang akan kamu pilih jika kamu lolos keduanya? beserta alasan

Itu adalah pertanyaan yang aku dapat waktu itu dan dari cerita beberapa teman awardee yang lain. Tidak pasti semua itu yang akan mereka tanyakan, tapi kurang lebih begitulah..

Empat..
Selain mempersiapkan berkas-berkas, menguasai esai, dan mempersiapkan jawaban untuk tiap pertanyaan, hal penting yang harus kamu siapkan adalah kemampuan berbahasa Inggris. Terus latih kemampuanmu berbicara dan memahami sambil membayangkan kalau kamu sedang berada di ruang wawancara. Selain bahasa inggris, bahasa Arab bisa membantu, terutama yang memilih jurusan Islamic Theology.
Dont worry too much if you think you have a bad gramatical or accent, as long as people can understand and get the point, you’re okay.

Biasanya akan ada 3 pewawancara namun hanya dua yang aktif bertanya. Satu yang ditengah, menurut pengalamanku dan beberapa teman yang lain juga, hanya sesekali merespon, selebihnya, fokus memperhatikan kita. According to the thing inside my head, bisa jadi pewawancara yang satu ini difokuskan untuk membaca mimik, memperhatikan gerak-gerik kita, intonasi suara dan hal lain terkait psikologis, dan menyimpulkan apakah kita adalah seorang calon penerima beasiswa yang berhak dan cocok.

Untuk hal apa saja yang harus dilakukan atau tidak dilakukan ketika melakukan tes wawancara, kalian bisa browsing dan baca tips-tipsnya di website yang lebih akurat soal itu. Tentang bagaimana sikap ketika masuk ke dalam ruangan, menyapa para interviewers, menjawab tiap pertanyaan, dan pamit dari ruangan ketika selesai agar interviewers tertarik untuk meloloskan kamu.

Dan tips terakhir adalah berdoa.
Terus tingkatan doa dan rasa syukur kepada Tuhan karena telah memberikan kamu kesempatan sejauh ini. Dan mintalah agar langkah kamu terus dipermudah, agar hatimu tetap merendah jika hasilnya adalah yang diharapkan, dan tetap menerima dengan lapang dada jika hasilnya kurang memuaskan.

Perjalanan ini tidak akan mudah. Karena itu kamu butuh fisik dan tekat yang kuat agar terjauh dari putus asa dan menyerah di tengah jalan.

Tetap semangat!

*Sekali lagi aku katakan, bisa jadi wawancara kali ini akan berbeda. Karena itu, jadikan saja tulisan ini sebagai bagian dari persiapan kamu. Semua ini aku tulis berdasarkan pengalamanku sebelumnya.

**Baca juga pengalamanku ketika menghadapi tes wawancara di postingan yang lain. Bisa diakses di sini

Pengumuman Turkiye Burslari

İyi akşamlar 🙂

Sudah terhitung lewat satu bulan-satu minggu setelah deadline pendaftaran Turkiye Scholarship atau Turkiye Burslari 2016 ditutup. Tentunya banyak sekali di antara applicant yang masih menunggu dan bertanya-tanya mengenai hasil administrasi yang sampai saat ini belum diterima.

Dari pertanyaan-pertanyaan yang aku lihat di website sebelah (inaturk.com), tidak sedikit yang mulai berputus asa dan berpikir mungkin memang mereka belum berkesempatan diterima tahun ini.

Tahun 2014, kalau aku tidak salah ingat, deadline pendaftaran untuk jenjang S1 yang waktu masih dibedakan adalah tanggal 14 Mei 2014. Email hasil tes administrasi dikirim sekitar satu bulan kemudian dan aku menerimanya pada tanggal 16 Juni dengan undangan wawancara pada tanggal 21 Juni 2014. Pada email yang dikirim kepada applicant yang lolos pada tes administrasi akan langsung tertulis undangan wawancara beserta tanggal, jam, dan tempat yang telah ditentukan.

Adsız

Applicant yang belum lolos pun dikirimi email, walau aku juga pernah mendengar ada beberapa yang tidak dikirimi email sama sekali.

The point is, untuk kamu yang masih berharap besar kepada beasiswa ini dan merasa khawatir karena belum menerima email apapun, jangan cemas karena sampai sekarang memang belum ada applicant Indonesia yang menerima email. Jadi masih ada kemungkinan untuk kamu berkesempatan lolos dan bergabung bersama ribuan Turkiye Burslari Awardee lainnya disini.

Dan untuk kamu yang mungkin sedang dilema dalam memilih antara hasil SBMPTN yang sudah keluar dan hasil YTB yang masih mengambang, perbanyak berdoa dan minta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa agar kamu tidak salah langkah dan menyesal nantinya.

Kami semua yang disini juga berharap agar email kepastian itu lekas tiba di Inbox teman-teman semua. Maaf sekali karena kam pun tidak tahu menahu alasan atau sebab kenapa email pengumuman untuk para applicant di Indonesia bisa sampai se-terlambat ini. Mari berharap saja semoga teman-teman bisa bergabung dengan kami disini.

Tetap semangat!
🙂