Study in Turkey

Ada banyak sekali pertanyaan mengenai jurusan dan universitas. Apakah ada jurusan ini? Jurusan itu? Menggunakan bahasa apa? Dan lain-lain. Pertanyaan yang sama, disampaikan oleh orang-orang berbeda. Tapi tetap saja, kadang bosan saja rasanya menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sama. Kadang berpikir “bukannya aku udah kasih tahu ke kamu, ya, kemarin?“. Jadi, sebagai usaha untuk menjawab semua pertanyaan tersebut sekaligus lah aku posting tulisan ini.

Menurut Wikipedia, sampai tahun 2015 terdapat 190 universitas di seluruh Turki. 114-nya adalah universitas devlet (pemerintah) dan 76 lainnya adalah vakıf üniversiteler (foundation üniversity) dan mungkin termasuk juga di dalamnya universitas swasta (I’m not sure yet about that). Türkiye Bursları sendiri memberikan beasiswa di 105 universitas di 55 kota di Turki.

Nah, untuk memudahkan dalam mencari tahu soal universitas dengan jurusan yang ada, The Council of Higher Education membut website khusus sebagai search engine universitas di Turki.

studyinturkey6

studyinturkey

Alamat webnya adalah studyinturkey.gov.tr.
Di website ini, kita bukan hanya bisa mencari tahu soal universitas dengan jurusan yang kita mau, tapi juga membaca hal mengenai sistem pendidikan Turki, program pertukaran pelajar, bahasa, visa, dan lain-lain.

Untuk memulai pencarian universitas, kamu tinggal menetik nama jurusan yang kamu mau di kolom What do you want to study?. Dan kamu bisa memberikan keterangan lebih spesifik berdasarkan bahasa, jenis universitas, kota, dan lokasi tepatnya, atau memilih not important yang berarti terserah, yang mana aja.

studyinturkey2Sebagai contoh, aku ingin mencari universitas-universitas dengan jurusan Jurnalistik. Aku ingin universitas pemerintah dengan jurusan Jurnalistik berbahasa Inggris, terletak di kota besar atau metropolitan, dan aku tidak mempermasalahkan letak tepatnya universitas tersebut. Lalu klik Find, dan..
studyinturkey3Oops! Ternyata tidak ada universitas yang sesuai dengan apa yang aku mau tadi. Kalian tetap bisa mengubah keterangan spesifik untuk mencari hasilnya. Tapi sekarang, aku memilih Not Important yang berarti aku tidak mempermasalahkan bahasa, jenis, ataupun lokasi universitas tersebut.

studyinturkey4studyinturkey5Dan ternyata ada 24 universias yang memiliki juursan Jurnalistik. Dari semua hasil ini, kita bisa langsung membaca lebih lanjut profil-profil universitas yang ada.

stysty2Dan selesai. Mudah sekali, bukan?

Baiklah, semoga dilancarkan segala usahamu, ya Pejuang!. Semoga kita bisa bertemu di sini suatu hari nanti :D. Görüşürüz!

15.49, 5 Maret 2016
Avcılar-Istanbul

White Town

(sumber gambar: Google)

“Salju sedang di perjalanan ke Istanbul, sodara-sodara. Malam ini sampai, insyaallah”
Seorang teman membuka pembicaraan di grup Whatsapp. Sudah dari beberapa hari sebelumnya sudah bisa diketahui dari prakiraan cuaca kalau pada akhir tahun Istanbul akan berselimut putih. Itu hanya ramalan cuaca, mesin dan manusia yang bekerja. Bisa jadi ramalan itu salah. Bagaimana pula salju akan turun dalam waktu dekat dengan suhu se-‘hangat’ ini?, gumamku sepanjang perjalanan pulang menuju asrama.

They said it will be snowing tonight,” ujarku pada teman satu kamar.
Yeah, I saw the weather forecast and it says it will be snowing. But I don’t know
I’m not sure it will be snowing tonight cause I didn’t even feel cold today
Yeah

Tapi ini tentang cuaca Istanbul yang terkenal dengan kız gibi-nya. Kız gibi, seperti seorang gadis. Labil maksudnya, seperti gadis yang mood-nya bisa berubah cepat dalam satu waktu. Karenanya, tidak jarang cuaca Istanbul membawa kejutan. Kejutan menyebalkan seperti ketika langit cerah yang tertutup awa mendung dan disusul hujan beberapa saat kemudian, misalnya. Tapi, kejutan biasanya lebih tepat digunakan untuk hal positif bukan?. Kemarin, pada 30 Desember 2015 adalah salah satu hari ketika cuaca Istanbul membawa kejutan menyenangkan. Kejutan yang sudah lumayan lama ditunggu, ditanya-tanya kapan datangnya.

Hari itu adalah ujian final hari terakhir, ada dua ujian yang salah satunya dimulai pada pukul 10.00 pagi. Aku berangkat awal karena jarak asrama menuju kampus yang lumayan jauh. Selesai sarapan, aku melihat ke luar pintu kaca asrama. Tidak ada apa-apa. Masih sama saja seperti kemarin. Ramalan cuaca itu meleset sekali, mana ada salju turun malam tadi? Langit bahkan terlhat cerah diluar, batinku sambal melangkah keluar.

Udara memang lumayan dingin, hidung dan mulut bisa meneluarkan asap ketika berbicara, tertawa, bahkan ketika bernafas. Mungkin Si Putih akan datang malam ini, atau mungkin esok. Tapi, setibaku di sebuah halte bernama Cevizlibağ, tempatku berpindah kendaraan dari metrobüs ke tramvay, langit sudah terlihat mendung, butiran es kecil mulai turun. Pelan. Sedikit. Tapi dalam sekian menit sudah menghujani kerumunan orang disana, termasuk aku yang kebetulan tidak mengenakan jaket ber-hoodie. Rasanya sama saja dengan dihujani dengan milyaran tetes air dari langit. Bedanya, dengan hujan es atau salju, tubuh kita tidak akan langsung basah, hanya dipenuhi butiran kecil dari atas ke bawah.

Sepanjang perjalanan, aku melihat keadaan yang sama diluar. Orang-orang menutup kepala dengan tas, hoodie jaket, syal, dan ada pula beberapa yang membawa payung. Tapi setibaku di stasiun tramvay Beyazıt-Kapalıçarşı (Grand Bazaar) yang dekat dengan kampusku, hujan es sudah berhenti. Benar-benar berhenti. Bahkan terlihat matahari bersinar dari balik gedung disana. Cuaca Istanbul ini benar-benar.

Ujian pertama selesai, ada waktu 1 setengah jam sebelum ujian kedua dimulai. Aku dan beberapa teman sesama yabancı (foreigner) memutuskan untuk duduk di sofa lantai bawah. Mengobrol, membicarakan ujian sebelumnya, sambil kembali membaca materi pelajaran. Dan tiba-tiba..

Bak! Kar yağıyor!,” seseorang berkata sambal melihat ke luar jendela besar. Aku spontan ikut menoleh keluar. Benar saja, hujan es sedang turun lumayan deras di luar. Dahan pepohonan yang ‘gundul’ tanpa daun bergoyang kencang ditiup angin. Orang-orang yang masih berada diluar menyegerakan diri masuk ke dalam gedung untuk menghangatkan badan. Well, hujan es berbeda dengan hujan salju karena es lebih padat, sedang salju lebih ringan. Tapi keduanya sama menakjubkannya.

Jadilah hari itu, sehabis makan siang di ruang makan kampus, aku dan seorang teman dari Filipina yang kelihatan lebih excited dengan salju ini, bermain-main sebentar sambil merekam beberapa video dan kemudian pulang. Pipiku mulai memerah, tangan mulai terasa kaku, dan hidungku mulai ‘menangis’ karena dinginnya udara saat itu.

Salju di Istanbul tahun ini memang datang terlambat. Tapi prakiraan cuaca mengatakan kalau badai salju di beberapa wilayah pada tahun ini akan jadi lebih parah dibanding tahun sebelumnya. Di kota-kota lain yang sudah lebih dahulu dihujani salju, suhu udaranya bahkan bisa mencapai -20 derajat. Entah bagaimana orang-orang disana bisa bertahan dengan udara se-ekstrim itu. Di Istanbul yang baru bersuhu -2 derajat saja sudah merepotkan sekali rasanya. Bayangkan saja, kamu harus mengenakan jaket, syal, dan boot lengkap hanya untuk membeli sesuatu dari toko kecil yang sebenarnya hanya berjarak 10 langkah dari pintu asrama. Wuff..

Hari kedua turunnya salju, jalanan, atap-atap bangunan, pinggir jalan, mobil yang terparkir, semua sudah tertutup salju tebal. Semuanya sudah tertutup ‘selimut’ putih dingin. Cantik sekali. Tempat-tempat terlihat bersih. Beberapa anak kecil yang berpakaian tebal lengkap sedang bermain lempar bola salju diluar. Beberapa terbahak-bahak melihat temannya terpleset jalanan yang saljunya yang sudah mencair.

iki-bolgede-yogun-kar-yagisi-NDQ0N

(sumber: Google)

Setelah beberapa tahun, akhirnya pergantian tahun ini menjadi pergantian tahun yang berbeda dengan white new year’s eve atau malam tahun baru yang putih. Di malam tahun baru pun, salju masih turun dengan lebat. Jalanan yang tadi baru dibersihkan dengan sekop, dalam beberapa menit sudah tertutup es lagi. Kembang api yang dihidupkan pun tidak terlihat jelas keindahannya karena tertutup kabut dan langit mendung. Mana ada acara bakar-bakar sate atau jagung diluar rumah.

Yang membuat musim dingin berbeda adalah turunnya salju. Tiap kali salju turun di atas kepala, kamu akan merasakan hal itu seolah memiliki kekuatan magis yang membuat kamu terdiam menatap keindahannya tanpa sadar kalau pipi dan tanganmu yang tidak tertutup mulai memerah. Dan kebahagiaan yang terpancar dari kebersamaan ketika bermain bola salju atau membuat boneka salju membuat kekuatan magis itu semakin kuat. Kamu mungkin tidak akan sadar kalau ternyata dari tadi kamu tersenyum melihat sekeliling.

Tapi, tidak ada yang benar-benar sempurna dengan segala apapun di dunia ini. Ada kekurangan dan kelebihan dari masing-masing hal yang telah Allah ciptakan untuk membuat manusia semakin belajar dan bersyukur.  Bermain salju, merasaka kepingan lembut kepingan salju jatuh ke atas tubuhmu tidak selalu terasa menyenangkan. Ada kalanya ketika kamu merasa kesal sekali dengan suhu dingin yang ada, jalanan licin yang membuatmu sulit berjalan atau bahkan terjatuh beberapa kali, dan ketidak-menyenangkan lainnya.

Ada banyak sekali teman di tempat lain yang bilang iri sekali, ingin juga merasakan salju dan menyentuhnya dengan nyata. Tidak ada salahnya dengan berharap begitu, asal jangan sampai hal itu membuat kita berhenti bersyukur dengan apa yang sedang kita rasakan. Selalu lah memandang sesuatu dari dua sisi agar kita selalu sadar dengan kurang dan lebih-nya segala sesuatu yang ada ini.

Dengan turunnya rombongan Si Putih Cantik dari langit ini, Allah mengaruniakan kepada manusia kebahagiaan, kehangatan, kebersamaan, dan sentilan lembut untuk kembali bersyukur kepada-Nya. Dan manusia harus mendapatkan semua itu dengan mempelajarinya sendiri. Ada yang dari awal sudah merasa bahagia–tersenyum sambil kepala mendongak dan kedua tangan menengadah.

Ada pula yang merasa kesal, berjalan cepat dengan kaki menghentak lebih keras, bergumam aku jadi harus berangkat kerja dengan kebekuan ini setiap hari. Dan satu yang mungkin tidak menampakkan ekspresi yang mudah terbaca manusia, hanya menatap turunnya keindahannya itu dengan wajah datar, tidak mempedulikan orang lain yang lewat disamping, depan, dan belakangnya. Tidak peduli beberapa dari mereka bahkan dengan keras menabrak tubuhnya hingga hampir terjatuh. Tidak peduli mereka beteriak menyumpahinya yang menghadang jalan. Tidak peduli. Hanya mampu bergumam, datang lebih akhir saja tidak bisa kah? Si Kecil bahkan belum memiliki jaket hangat yang layak.

Angin dingin berhembus.
Salju tetap turun.

Amazing, Just The Way It Is

8 derajat, batinku membaca prakiraan cuaca hari itu. Tidak terlalu dingin sepertinya. Tapi angin tetap berhembus membawa hawa dingin. Menelisik ke dalam sela-sela jaket dan baju hangat orang-orang. Sinar matahari juga tidak bisa berbuat banyak. Hangatnya tidak sampai ke tubuh.

Orang-orang di dalam metrobus sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Termasuk diriku yang juga sibuk sendiri. Sibuk mengamati jalanan ramai yang tiap hari kulewati. Tidak ada yang berbeda. Tapi mataku asyik saja mengamatinya.

Metrobus yang terus berjalan melewati halte-halte yang dipenuhi orang-orang. Satu dua memaksa masuk. Mendorong tubuh kecilku yang akhirnya bingung mencari pegangan. Terhimpit orang-orang besar sedang halte tempatku turun masih lumayan jauh.

Hal yang biasa merasakan tubuh terhimpit begitu disini. Semua orang terburu-buru. Semuanya dikejar waktu sedang metrobus yang lewat seringkali sudah penuh sekali isinya. Metrobus kosong di beberapa halte pun diperebutkan orang-orang dewasa yang saling dorong berebut tempat duduk. Mereka lebih terlihat seperti anak-anak berebut gulali warna-warni. Sudah tidak peduli lagi apa yang tadi terkena siku atau tidak sengaja terinjak. Yang penting gulalinya dapat. Yang penting bisa duduk sepanjang jalan.

Dan itu baru metrobus. Kota ini bukan ibu kota negara. Tapi kadang ramai dan macetnya sudah lebih dari cukup untuk merusak mood seharian. Semua orang datang. Semua orang pulang-pergi memenuhi kendaraan umum manapun tiap harinya. Metrobus, tramvay, metrotren, marmaray, ferryboat. Dari pagi, siang , sore, sampai ke malam. Tidak ada habis-habisnya penumpang yang datang. Gadis pendek sepertiku sedikit banyak sudah terlatih dorong-dorongan. Satu-satunya cara untuk bertahan agar tidak terhimpit hingga sulit bernapas.

Dari metrobus, aku harus berganti kendaraan ke tramvay, kereta listrik, untuk bisa tiba di kampus. Tramvay lebih cepat dibanding otobus (bus) yang berbagi jalan dengan kendaraan pribadi lain. Berbagi jalan sama dengan berbagi kemacetan. Dan nasibku di dalam tramvay lebih baik. Karena naik dari stasiun terakhir, biasanya akan ada banyak tempat duduk kosong. Tapi itu pun bergantung kepada berapa banyak penumpang yang menunggu di stasiun. Banyak jumlahnya? Maka tanpa komando lagi tubuh sudah sigap bersiap dorong-dorongan.

“Merhaba,” tepukan pelan membuatku kaget. Menyadarkanku yang dari tadi sibuk memikirkan banyak hal yang terus saja bersambung dari satu ke yang lain.
“Ah, merhaba,” dia tersenyum, seorang ibu-ibu yang kelihatan sedikit lebih tua dari Ummi. Aku membalas senyumannya. Melepas headset dan mematikan lagu. Ibu itu menawarkanku duduk. Lama sekali ternyata aku melamun hingga tidak sadar kalau isi metrobus sudah berkurang setengahnya.

“Asal kamu dari mana?,” tanyanya berbahasa Turki. Senyumannya hangat sekali.

“Hmm, Indonesia,” jawabku. Sekali mengulang karena si ibu kurang mendengar jelas. Dan rautnya kemudian berubah mendengar ‘Indonesia’. Bilang banyak sekali bertemu orang Indonesia di Mekkah dan semuanya ramah dan baik sekali. Aku tersenyum malu-malu dan berterima kasih menanggapi pujian si ibu.

“Apa kamu bersekolah disini?,”

“Ya, di Istanbul University. Jurusan Jurnalistik,”

“Wah, kau ingin jadi seorang jurnalis rupanya,” si ibu mengelus kepalaku.

“Bagaimana? Kamu suka Istanbul? Disini ramai sekali, bukan?,”

“Hmmm ..” macet, dorong-dorongan, asap rokok dimana-mana, tidak ada gerobak bakso keliling, ramai, berisik

“Hmm, ya. Tapi walaupun ramai, aku sudah sangat mencintai Istanbul, Bi. Istanbul adalah kota yang cantik sekali!.”

Ya, dimana lagi aku bisa merasakan sejarah dengan berdiri sedekat ini dengannya? Dimana lagi aku bisa berkeliling sesukaku dan melihat keindahan sana-sini? Dimana lagi aku bisa merasakan kehangatan seperti ini? Dimana lagi aku bisa semauku mengunjungi tempat yang banyak orang memimpikannya?.

Sudah ‘resiko’-nya Istanbul dikunjungi banyak orang begini. Bagaimana tidak? Cantiknya Istanbul memang sebegitu mempesonanya. Bahkan sudah sedari dulu menjadi rebutan, bukan?

 

Powered by WordPress.com.

Up ↑