2017 is loading..

Siapa sangka ternyata kita sudah berada dipenghujung 2016 sekarang? Tersisa 20 hari lagi sebelum semua orang di seluruh dunia meneriakkan ‘selamat tahun baru!’ dengan bahasa masing-masing pada pukul 00.00 tanggal 31 Desember dengan diiringi tiupan terompet dan kembang api yang meramaikan langit.

Bicara soal tahun baru selalu identik dengan resolusi tahun baru, bukan?. Apa itu resolusi tahun baru?

Resolusi tahun baru menurut Wikipedia adalah tradisi sekuler yang umumnya berlaku di Dunia Barat, tetapi juga bisa ditemukan di seluruh dunia. Menurut tradisi ini, seseorang akan berjanji untuk melakukan tindakan perbaikan diri yang akan dimulai pada hari tahun baru. (I literally copied and pasted the sentences but anyway, you guys can check the details here)

Menurut tradisi ini, seseorang akan berjanji untuk melakukan tindakan perbaikan diri yang akan dimulai pada hari tahun baru

Tindakan perbaikan diri ini mulai dilakukan pada hari tahun baru atau hari pertama di tahun baru karena orang-orang merasa tahun baru adalah waktu yang tepat untuk mengulang sesuatu dari awal dimulai pada hari pertama dari 365 hari yang ada.

Kelihatannya tidak sulit, bukan? Kita hanya perlu menentukan beberapa hal yang ingin kita jadikan goal di tahun yang akan datang. Tapi, hal tersulit dari membuat sebuah janji adalah mewujudkannya, to make it real. Not just a list of some stuffs hanging on our room wall that become dusty is the end of the year. 

Kita selalu membahas, membicarakan resolusi tahun baru untuk kemudian menyadari bahwa tidak semua poin dapat terealisasi karena terlupakan. Karena semangat untuk resolusi ini hanya ada di bulan terakhir tahun dan bulan pertama tahun berikutnya. We can’t deny. It’s the (sad) fact.

Ada berbagai macam poin yang kita tulis dalam daftar resolusi tahun baru setiap tahunnya. Sebagian mungkin adalah hal baru, namun sebagian lainnya kemungkinan besar merupakan harapan dari resolusi tahun sebelumnya. Resolusi tahun baru yang kita baru sadar keberadaannya–pernah kita rencanakan di akhir tahun sebelumnya–ketika kita sudah memasuki akhir tahun dan bersiap menyambut tahun berikutnya. We can’t deny. It’s the (sad) fact (2).

images
Sumber: Google

Jadi sebenarnya, untuk apa kita punya sesuatu yang kita lakukan tiap tahun tapi hanya diingat di awal dan di akhir tahun saja? I mean it supposed to be something that sticks to our mind all the time along the year, right? Karena ‘tradisi’ yang satu ini menyangkut hal yang kita ingin lakukan untuk memperbaiki kualitas diri kita.

 

Just like the applications you have on your phone, your goals, your bucket list, should be updated constantly –Yasser Rashed (International Trainer)

Banyak hal yang bisa mempengaruhi cara kita memandang sesuatu, mempengaruhi kemauan kita akan sesuatu. Orang-orang yang kita temui, karakter dari film yang kita tonton, musik yang kita dengarkan, dan lain sebagainya. Karena itu lah kita memang harus meng-update harapan dan tujuan kita.

Resolusi tahun baru adalah sesuatu yang ingin kita lakukan, sebuah janji kepada diri sendiri yang akan mulai kita lakukan di hari pertama tahun baru dan berlaku hingga sepanjang tahun.  Misalnya, salah satu harapan kamu adalah lancar berbahasa Inggris. It’s a good one. Kamu sudah mencari tahu berbagai hal mengenai cara untuk tetap stick with it sampai ia terwujudkan sebelum akhir tahun. Kamu tetap fokus dengan goal  kamu dan mendapatkan kemajuan hari demi hari karena kerja kerasmu.

Tapi di pertengahan tahun, kamu menemukan sebuah Youtube channel dari seseorang yang melanjutkan studi di Jepang. Kamu tonton beberapa videonya dan kemudian mulai tertarik dengan Jepang, bahasanya, budayanya, dsb.. Sampai akhirnya kamu tertarik untuk mengejar beasiswa ke Jepang. Dan, kamu mulai belajar bahasa Jepang, mempersiapkan diri untuk mengikuti tes seleksi beasiswanya. See? Goal-mu dengan mudahnya dapat berubah. Pada akhir tahun, kamu kemudian menyadari bahwa resolusi tahun barumu tidak terwujudkan.

Poin penting yang coba aku sampaikan adalah:

Pertama, jika kamu ingin memiliki resolusi tahun baru, kamu bisa memilih hal-hal yang berkaitan ke bagaimana merubah pribadi kamu menjadi lebih baik lagi. Misalnya, tidak bersikap kekanakan, berhenti membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan, menjadi orang yang lebih rapi dan bersih, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menjadi lebih disiplin, dan lain sebagainya.

Pilihlah hal-hal yang kamu yakin bisa kamu lakukan dan selalu kamu ingat. Dan cobalah berbagai acara untuk membuatnya tetap berada di kepalamu. Sehingga di akhir tahun, resolusi tahun baru-mu benar-benar memiliki hasil. Ada artikel yang bagus mengenai hal ini (English) yang bisa kamu lihat di sini.

Kedua, sebenarnya, jika kita ingin memulai sesuatu hal yang baik, kita tidak perlu menunggu awal tahun baru untuk memulainya. Kita tahu bahwa menunda melakukan sesuatu adalah hal yang tidak baik, bukan? Menundanya hingga ke hari berikutnya sekalipun. Karena jika kita berencana untuk melakukannya besok, nanti malam, minggu depan atau nanti-nanti lainnya, itu berarti kita membiarkan diri kita bermalas-malasan di masa sekarang. ‘Sekarang’ adalah waktu yang paling tepat untuk memulai sesuatu, untuk memulai kebiasan baru. (Time of Your Life, Rando Kim)

Ketiga, inti dari resolusi tahun baru adalah membawa perubahan baik kedalam diri kita, bukan? jadi kita bisa menulis daftar harapan dan tujuan (goal) kita tidak hanya untuk resolusi tahun baru. Kita bisa menulisnya di rencana hidup kita selanjutnya dalam jangka pendek dan panjang, seperti must to do,  life maping, atau goals of the rest of my life (I made this term).

20120820-225540
(Sumber: Google)

Dalam sebuah website bernama Not Enough Cinnamon, seseorang bernama Marie dalam artikelnya yang berjudul Why New Year’s Resolution Do Not Work – And What You Should Do Instead menulis:

Millions of people decide to change their lives for the better, often by losing weight or eating healthier. It’s a first step towards a healthier lifestyle, and it’s great. But New Year’s resolutions are not the best way to succeed. In fact, I would even say they are the best way to fail. Why? Because 90% of these resolutions are not realistic, overwhelming and at the end, just plain discouraging”

Terjemah: jutaan manusia memutuskan untuk merubah hidup mereka menjadi lebih baik, seringkali dengan menurunkan berat badan atau mengkonsumsi makanan yang lebih sehat. Ini adalah langkah pertama menuju pola hidup yang lebih sehat, dan itu bagus. Tapi resolusi tahun baru bukanlah cara terbaik untuk berhasil. Kenyataannya, menurutku (writer) hal ini adalah cara terbaik untuk gagal. Kenapa? Karena 90% dari resolusi-resolusi ini tidak realistis, berlebihan, dan pada akhirnya hanyalah mengecilkan/merendahkan diri sendiri.

(You guys can read the full article just by clicking the link above, it’s really a nice article)

Marie memiliki pendapat yang sama denganku, bahwa kita tidak butuh resolusi tahun baru untuk mendapatkan hasil dalam perbaikan/pengembangan diri kita. Daripada menulis daftar panjang berisi resolusi tahun baru yang harus kamu wujudkan selama satu tahun yang akan datang, menulis goals seminggu sekali, misalnya, adalah lebih baik.

“Break down your big goals into small goals. The rule is: baby step.”

Mulailah dari hal yang kecil, dan seperti yang sebelumnya aku katakan, update tujuan dan harapan itu secara berkala. Sehingga, di akhir tahun ketika kita melihat ke belakang, memikirkan tentang apa saja yang sudah terjadi dan perubahan baik apa yang telah kita hasilkan kepada diri kita selama setahun yang sudah berlalu, diri kita akan merasa puas. Terlebih ketika kita melihat daftar-daftar yang dicentang penuh, mission accomplished.

Akhir kata, keputusan tetap berada di tanganmu. Dengan cara atau metode apa yang ingin kamu gunakan untuk membuat daftar harapan dan tujuan hidup kamu. Yang terpenting adalah bagaimana kamu, kita, meyakinkan diri dan terus meng-upgrade semangat sehingga yang kita inginkan dapat terwujudkan; menjadi manusia yang lebih baik.

Selamat menikmati hari-hari terakhir 2016! Semangat berubah!

Asma Hanifah Ahmad
09.45 AM (GMT+3)

Menjadi Hebat

Hey, hello, there?
Aku baru saja menyelesaikan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kalian sampaikan di blog ini dan website sebelah (inaturk.com). Semua orang bersemangat untuk segera menyelesaikan pendaftaran dan menunggu undangan wawancara, sampai sebagian di antaranya berpikir bahwa ia tidak punya cukup waktu untuk membaca artikel atau postingan yang sudah ada dan langsung bertanya. Hmm..

Jadi, dari kebanyakan yang bertanya mengenai cara pengisian form aplikasi, ada juga yang bercerita bagaimana dia ragu karena nilai rapor yang ala kadar, minder karena tidak punya sertifikat prestasi akademik, atau karena merasa kemampuan Bahasa Inggrisnya tidak mumpuni untuk ikut mendaftar. Tidak sedikit. Ada banyak yang curhat soal hal-hal tersebut.

Memang ada kalanya ketika kita, manusia, merasa ragu untuk melakukan sesuatu dikarenakan alasan-alasan yang sebenarnya kita buat-buat saja. Misalnya ketika sedang mengikuti sebuah lombai, kita akan ragu dengan diri kita sendiri setelah melihat penampilan peserta lain dan berpikir, “udah lah. Pasti dia yang menang. Aku mah ngga ada apa-apanya” atau “mungkin seharusnya nanti, aku butuh waktu lagi untuk berlatih dan bisa menandingi dia” dan banyak lagi alasan lain yang kita buat-buat unuk meragukan diri kita sendiri. Untuk membuat kita merasa malu untuk maju dan menunjukkan kemampuan diri kita.

Satu hal yang salah dari kita: kita terbiasa berpikir bahwa apa yang kita lakukan adalah untuk menang. Untuk membayar jerih payah kita sebelumnya dan membanggakan orang sekitar dengan sebuah kertas bertuliskan nama dan sebuah piala. Kita berpikir sempit sekali dengan berpendapat bahwa sebuah kemenangan dan kebanggaan hanyalah sebatas itu. Kita berasumsi bahwa kegagalan adalah sesuatu yang memalukan, membuat harga diri dan kepercayaan orang lain menurun.

Kemenangan, keberhasilan adalah bagaimana cara kita memandang hal itu. Seperti ketika kita membuat kue untuk pertama kali, kita membeli bahan-bahan terbaik, mengikuti buku resep dan berharap kue kita nantinya akan persis seperti pada gambar. Semua langkah kita ikuti dengan hati-hati, hingga akhirnya kue siap dimasukkan ke dalam oven.

Kita menunggu dengan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Hingga ketika kue kita keluarkan dari oven, ternyata hasilnya jauh dari yang kita ekspektasikan. Bentuknya berantakan, mengembang dengan tidak rata, dan rasanya pun–untuk tidak mengatakan ‘aneh’–sedikit berbeda. Tapi terlepas dari semuanya, itu tetaplah sebuah kue, walaupun sebuah kue ‘berantakan’. Kue yang gosong pun tetap kue. Dia hanya ‘gosong’. Lalu apakah kita sudah gagal? Hanya orang-orang yang dengan tega berpikir negatif tentang dirinya sendiri lah yang bilang bahwa percobaan ini gagal. Percobaan pertama ini berhasil. Ya, ber-hasil-kan kue–yang walaupun–hancur. Dan sebuah pelajaran.

e3666e3e234fd5cf9708288be0567953Yang terpenting untuk kita lakukan ketika sebuah usaha tidak berbuah manis sesuai dengan yang kita harapkan adalah berpikir positif. Terutama kepada diri kita sendiri. Jangan karena percobaan pertama gagal, kita lantas menyebut diri kita tidak berbakat dalam membuat kue. Kita harus mulai mengganti gagal menjadi belum berhasil. Kita harus berpikir bahwa dengan ke-belum berhasil-an tersebut, kita belajar untuk menjadi lebih baik setelahnya. Dan pada akhirnya, dengan belajar dari pengalaman ke-belum berhasil-an sebelumnya, kue yang akan keluar dari oven adalah kue yang bahkan lebih berhasil dibanding di buku resep. Dan orang-orang pun malah meminta kita untuk mengajari mereka.

Ketika kamu merasa belum berhasil, tertawa saja. Tertawakan kue gosongmu, tertawakan tulisan tidak ber-inti-mu, tertawakan saja mulutmu yang belum bisa menyebut vocabulary dengan benar. Kamu akan merasa terhibur dibanding kamu terdiam dan memikirkan bagaimana tidak becusnya kamu. Tapi jangan lupa untuk berpikir bagian mana yang harus kamu pelajari dan kembangkan agar kamu bisa menjadi lebih baik lagi.

Segala sesuatu di dunia ini relatif. Bagi seorang pedagang jalanan, mendapatkan 500 ribu rupiah dalam sehari adalah sebuah keberhasilan yang besar. Tapi apalah 500 ribu bagi seorang pengusaha besar?. Bagi seorang murid kelas 3 SD, berhasil menulis diary berbahasa Inggris sebanyak 5 lembar adalah sebuah kebanggaan yang sangat. Tapi apalah itu untuk seorang lulusan sastra Inggris?. Hal lain yang perlu kita miliki setelah menghargai dan berpikir positif soal diri sendiri adalah menghargai orang lain. Orang-orang seperti si pengusaha besar dan lulusan sastra Inggris baiknya berkata kepada pedagang jalanan dan anak kecil itu bahwa “suatu hari, kalau kamu terus berusaha dan tidak menyerah, kamu akan jadi seperti saya. Dan bahkan lebih baik”.

Mungkin ada saatnya kamu merasa lelah berusaha karena belum mendapat hasil yang kamu mau. Merasa lelah karena ada saja halangan untuk tiap usaha kamu. Jangan khawatir, bukan karena kamu belum berhasil pada satu hal maka kamu akan berhasil pada hal yang lain. Ada kemungkinan-kemungkinan tidak terbatas untuk tiap hal lain yang kamu coba. Berusahalah menjadi hebat, dan tetaplah menjadi hebat walau dengan ke-belum berhasil-anmu 😀

“I’m not smart, I barely passed high school. I had absolutely nothing going for me. I was never voted most popular or most likely to succeed. I started a whole new category–most likely to fail. But in the end, I did okay. So, if I can do it, you can do itRichard St. John

Bukan berarti mereka yang selalu berprestasi di sekolah akan jadi lebih sukses di banding mereka yang ‘tidak menonjol’ waktu di sekolah. Pun bukan berarti mereka yang ada di deretan peringkat terakhir tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menjadi yang teratas. Semua bergantung bagaimana kita mempertahankan dan mengmbangkan kemampuan diri kita, serta menanam pola pikir bahwa keberhasilan, kemenangan, kesuksesan bukan soal piagam atau penghargaan. Tapi semua itu adalah tentang bagaimana kita tetap berani bangkit dan melanjutkan walau seberapa sering dan seberapa dalam kita terjatuh.

Ada banyak sekali tokoh-tokoh dunia dan sejarah yang namanya tetap diingat walau ratusan tahun setelah mereka meninggal karena hasil dari kerja keras dan pelajaran yang mereka tinggalkan. Pernah dengar tentang Liz Murray? Liz adalah seorang homeless yang berhasil memutar balik hidupnya dan berhasil mengenyam pendidikan di Harvard University. Kisah hidupnya dijadikan film dengan judul Homeless to Harvard pada tahun 2003. Di film tersebut Liz pernah berkata bahwa ia hanya perlu mendorong dirinya sedikit lebih keras untuk bisa mendapat apa yang ia impikan: keluar dari kehidupan tunawismanya. Dan Liz pun berhasil.

Bagaimana dengan Terry Fox? Seseorang yang salah satu kakinya diamputasi karena kanker tulang dan berkeinginan berlari melintasi Canada untuk mengumpulkan donasi. Apakah dia berhasil mewujudkan keinginannya untuk melintasi Canada?. Terry Fox terpaksa berhenti berlari sejauh 3,339 mil (5,573 km) dan menyisakan sekitar 1600an mil karena dia kembali terserang kanker di paru-parunya dan meninggal satu tahun setelahnya (Juni 1981).

Terry Fox tidak pernah menyelesaikan Marathon of Hope-nya. Lalu apakah Terry Fox gagal? Tentu saja tidak. Terry Fox sudah menginspirasi banyak orang dan sampai sekarang sudah ada lebih dari ratusan juta dolar tersalurkan atas namanya. Terry Fox berhasil dengan bentuk keberhasilan berbeda dari yang ia inginkan sebelumnya.

Dan ada banyak sekali orang-orang luar biasa di luar sana yang menjemput keberhasilannya dengan cara yang berbeda. Rasulullah SAW sebagai sosok yang wajib dijadikan suri tauladan bagi para Muslim pun adalah seseorang yang tidak pernah menyerah dalam memahamkan kaumnya tetang kebenaran Allah. Tetap sabar menerima cacian dan penghinaan, serta menerima dengan lapang dada kepergian sahabat-sahabat dan orang terdekatnya di medan perang. Mudah saja bagi Rasulullah untuk berdoa kepada Allah agar meng-Islamkan seluruh penduduk Mekkah. Tapi beliau tidak pernah mengambil jalan pintas itu. Karena beliau ingin kita belajar.

Semua orang sukses yang kita tahu bisa saja menyerah kapanpun ketika mereka merasa cukup lelah dengan semuanya atau bahkan tidak pernah memulai karena ragu akan diri sendiri. Seperti Liz Murray yang bisa saja menyerah atas mimpinya yang mustahil dan tetap hidup dengan kehidupan gelandangannya hingga sekarang.
Seperti Terry Fox yang bisa saja tidak pernah memulai Marathon of Life karena ibunya tidak mengizinkan dan kondisi kaki kanannya yang seringkali bedarah tiap kali latihan berlari sehingga tidak pernah ada donasi jutaan dolar tersalurkan atas namanya.
Seperti Richard St. John yang bisa saja benar-benar menahan dirinya karena ragu untuk memulai obrolan dengan Ben dari Ben & Jerry’s ice cream dan membuatnya tidak akan pernah berjumpa dengan ratusan tokoh terkenal dunia lain dan memotivasi orang lain.
Seperti Alan Turing yang juga bisa saja menghentikan proyek pembuatan mesin pemecah kode enigma karena keraguan dari orang-orang sekitarnya dan menyisakan waktu yang lebih lama untuk manusia menemukan komputer.
Atau seperti Rasulullah yang bisa saja menyerah dan mendo’akan keislaman semua orang di dunia dan tidak pernah mengajarkan kita tentang berusaha dan bangkit.

Mereka semua, orang-orang yang kita kenal hebat di dunia, bisa saja berhenti bahkan tidak pernah memulai mencoba. Tapi mereka tahu bahwa tidak ada kesuksesan yang instan.Tidak ada keberhasilan tanpa luka dan pengorbanan. Tidak ada kebanggaan tanpa babak belur merasakan pedihnya perjuangan terlebih dahulu.

Jadi, bagaimana pula kita dengan perjuangan yang tidak sebanding dengan mereka justru menyerah di awal atau berhenti melanjutkan?

Yang kita butuhkan adalah percaya kepada keputusan Tuhan, percaya kepada diri sendiri, berdo’a, dan bekerja sampai batas akhir kemampuan kita. Serta menguatkan diri untuk tetap bangkit dan mencoba walau sudah berapa kali pun terjatuh. Sempatkan pula waktu untuk menggali kembali motivasi dirimu dengan membaca biografi tokoh ataupun kisah-kisah Rasullah dan sahabatnya. Sebenarnya sudah banyak sekali sumber motivasi tersebar dimana-mana. Kita hanya butuh sedikit perhatian yang lebih untuk melihat dan belajar.

Terakhir..

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubah apa yang ada pada mereka” (Ar Rad:11)

See you on top, you soon-to-be-great-people!
🙂

 

*Images source: Google

Memimpin dan Dipimpin

Setiap orang adalah pemimpin. Seorang Presiden adalah pemimpin bagi rakyatnya, seorang Direktur adalah pemimpin bagi pekerjanya, seorang Ayah adalah pemimpin bagi keluarganya, dan terlepas dari itu semua, setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.

Nah, apa itu pemimpin?

Menurut vtaide.com, leader is a person who influences a group of people towards the achievement of a goal. Pemimpin adalah seseorang yang mempengaruhi sekelompok orang untuk mencapai sebuah tujuan. Jadi, pemimpin adalah seseorang yang bermisi sama dengan kelompoknya dalam mewujudkan sesuatu. Dan ada lebih banyak lagi defenisi pemimpin yang bisa kamu googling 😀

Bagaimana cara untuk menjadi pemimpin yang baik?

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu alasan dibuatnya kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan. Kegiatan ini bisa beragam bentuknya. Dan kegiatan ini sangatlah penting untuk menjadi bekal kita dalam mengikuti sebuah organisasi dalam lingkup kecil atau yang lebih besar dan serius nantinya.

Dua hari lalu, PPI Istanbul mengadakan kegiatan serupa dengan target participant-nya adalah mahasiswa Indonesia di Istanbul yang sudah tinggal minimal satu tahun dan sudah pernah mengikuti pelatihan sejenis sebelumnya. Hari itu, tidak begitu banyak yang hadir. Tapi kegiatannya tetap berjalan lancar dan banyak sekali ilmu yang kami dapat.

Ada empat narasumber yang kemarin diundang, dan ke-empat-empatnya adalah mahasiswa senior di Istanbul yang berpengalaman dalam berbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan ‘kepemimpinan’.

Ada banyak sekali hal yang disampaikan oleh keempat pembicara kemarin. Dan semuanya semakin membuka pikiran dan memperluas wawasan kami yang hadir. Yang kemarin banyak dibahas adalah mengenai kepemimpinan dalam kelompok. Bahwa seorang pemimpin adalah seseorang yang harus mengetahui seluruh apa saja yang ada dalam list pekerjaan kelompoknya. Dan tidak hanya itu, pengetahuan seorang pemimpin haruslah meluas dan mendalam.

Bedanya pemimpin dengan orang-orang dibawahnya adalah, ketika pemimpin harus mengetahui segala sesuatunya dengan detail, orang-orang dibawah ini hanya perlu mengetahui pekerjaan dari bidang lain dalam kelompok mereka tanpa harus mendalaminya. Jadi dengan itu, pemahaman dalam kerjasama dalam kelompok akan terbangun dengan baik.

Ilmu dalam hal seperti ini tidak lama bertahan lama dalam otak kita, kalau tidak langsung kita praktekkan. Misalnya, dengan mengikuti kepanitaan atau organisasi di sekolah. Kalau kita serius dalam mengerjakan program kerja atau tugas sebagai tanggung jawab kita, pada akhirnya kita akan merasakan kalau ada kemampuan kita yang berkembang dan ilmu-ilmu ini akan dapat terus diingat.

Hal lain yang disampaikan adalah dalam sebuah kelompok, seorang pemimpin harus memiliki branding atau dalam hal ini, kata-kata yang bisa menyemangati orang dibawahnya untuk bersama mencapai tujuan dan target yang sudah ditetapkan sebelumnya. Seorang pemimpin harus lebih mampu bertahan dibanding orang dibawahnya. Karena ketika seorang pemimpin berkobar semangatnya, maka satu kelompok itu akan ikut tersulut semangatnya. Dan begitu pula sebaliknya. Sebuah kelompok akan lemah jika melihat pemimpinnya yang putus asa.

Dan ada banyak hal lain lagi seperti lobby management, pengarsipan atau dokumentasi pihak atau tokoh terlibat yang harus tetap dijaga, dan bagaimana caranya untuk tetap menggali semangat dalam keadaan tertekan atau dalam keadaaan sulit. Lagi, semua hal ini akan sangat mudah kita dapatkan dalam kegiatan serupa, tapi untuk membuatnya bermanfaat dalam hidup dan dalam pengembangan karakter kita, semuanya harus kita praktekkan dalam kehidupan nyata.

Kalau kamu bukanlah orang yang baik dalam bekerja dalam kelompok, maka kamu dapat menggunakannya dalam kepemimpinan individu, dalam memimpin diri kamu sendiri mencapai target dan impian kamu. Bahkan dalam memimpin diri sendiri pun tidak semudah kelihatannya, kan?

Tapi, menurut pribadiku sendiri, ikut serta dalam sebuah organisasi tidak hanya mengembangkan karakter kita dalam satu hal, tapi dalam banyak sekali hal, dan juga dengan organisasi, kita akan dapat mengenal dan belajar lebih lagi dari orang-orang baru.

Menjadi anggota dalam kepengurusan PPI Istanbul satu tahun yang lewat adalah hal yang benar-benar berharga dan tidak akan dilupakan untukku dan teman-teman yang lain. Kami juga diajarkan tentang nilai-nilai kehidupan yang tidak ada dalam list pelajaran di sekolah manapun. Belajar memahami sesama, membantu, menggali pikiran lebih dalam untuk ide-ide baru, belajar bertahan dalam tekanan dan keadaan sulit, belajar berani untuk bicara atau mengungkapkan pendapat di depan umum, belajar merencanakan dan mengerjakan sesuatu dengan baik dan detail, dan belajar mengenai hal-hal teknis yang pasti akan sangat berguna nantinya.

Hakikatnya, kita memanglah seorang pemimpin. Kita adalah pemimpin bagi diri sendiri, kita yang memimpin langkah kita. Dan pada lain waktu, kita pula yang akan dipimpin. Hidup memang begitu. Dipenuhi hal-hal dan cara yang membuat kita banyak belajar dan semakin menyadari betapa luasnya ilmu Allah itu.

Teruslah maju, bangkit dari jatuhmu, belajarlah lebih banyak, dan bersyukurlah. Bersyukurlah untuk setiap kesempatan yang ada 🙂

 

Dalam penantian keajaiban putih musim dingin,
Istanbul, 7 Desember 2015

Keep Calm and Learn Languages

keep-calm-and-learn-languages-5

(Image: Google)

Merhaba!

Tadi pagi, ketika aku dan dua temanku sedang menunggu kedatangan teman-teman mahasiswa baru di lobi asrama, kami berkenalan dengan seorang gadis dari Tunisia yang juga adalah mahasiswa beasiswa YTB 2015. Awalnya, ibunya yang menyapa kami, menanyakan apakah ada Wi-Fi di asrama ini, dengan bahasa arab. Aku mengerti apa yang beliau katakan, tapi ketika menjawab, semua kosakata bahasa arabku menghilang. Tinggallah bahasa Turki dan bahasa Inggris yang bercampur di kepalaku.

Beliau tertawa melihat ekspresi kami yang kebingungan,
“Apa kamu bisa berbicara bahasa arab?”
“Ya, sedikit sekali,” kataku sambil cengar-cengir dan garuk-garuk kepala. Kebingungan.
“Aku pernah belajar bahasa arab, tapi karena tidak pernah digunakan, aku hampir lupa semuanya.” Lanjutku terbata-bata. Beliau tersenyum.
“Tidak apa-apa. Sekarang aku sedang membuatmu agar bicara bahasa arab. Jangan malu-malu.”
Aku malah bilang “na’am” sambil angguk-angguk tidak jelas.

Gadis Tunisia yang ternyata bernama Fatma itu menanyakan soal beberapa hal yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Kami bicara dengan bahasa Turki karena ternyata dia pernah belajar bahasa Turki selama dua tahun di sekolah menengah.

Aku banyak mengobrol dengannya ketika dia menumpang jaringan internet dari handphone-ku. She is such a very smart girl. Dia tidak hanya bisa bicara dengan bahasa Arab dan Turki. Tapi juga bahasa Inggris dan Perancis. Aku langsung terkagum-kagum setelah tahu kemampuannya. Dia mampu mengerti dan bicara dengan empat bahasa yang ingin sekali aku kuasai. Well, insyaallah bahasa Turki dan Inggrisku akan semakin baik. Tapi soal bahasa Arab dan Perancis, aku harus mengulang dari awal. Walaupun untuk bahasa Arab akan lebih mudah karena aku sudah pernah belajar dulu.

“I only know ‘bonjour’, ‘comment allez-vous’, and ‘je ne parle pas français’ 😅”
“Hahaha .. trés bien” 

Kami berdua tertawa dan kemudian dia bilang kalau dia akan mengajariku bahasa Perancis nanti. Insyaallah.

Ketika bicara, kami menggunakan bahasa Turki dan Inggris bersamaan. Malu sekali rasanya karena aku belum bisa bicara bahasa Turki dengan lancar. Padahal sudah satu tahun aku tinggal disini. 😳

Untuk kamu sedang membaca ini, tolong doakan aku agar dimudahkan dalam semester awal ini. Karena aku masih butuh belajar lebih baik lagi 😂. Apalagi banyak yang bilang kalau aku minimal harus menguasai tiga bahasa karena jurusanku adalah jurnalistik. Wish me luck, guys. Bana dua edin, olur mu?

Bagaimana denganmu?. Apa kamu juga ingin menguasai banyak bahasa?. Berapa bahasa yang sudah kamu kuasai?. Metode belajar bahasa seperti apa yang kamu terapkan?.

Esma, Istanbul