White Town

(sumber gambar: Google)

“Salju sedang di perjalanan ke Istanbul, sodara-sodara. Malam ini sampai, insyaallah”
Seorang teman membuka pembicaraan di grup Whatsapp. Sudah dari beberapa hari sebelumnya sudah bisa diketahui dari prakiraan cuaca kalau pada akhir tahun Istanbul akan berselimut putih. Itu hanya ramalan cuaca, mesin dan manusia yang bekerja. Bisa jadi ramalan itu salah. Bagaimana pula salju akan turun dalam waktu dekat dengan suhu se-‘hangat’ ini?, gumamku sepanjang perjalanan pulang menuju asrama.

They said it will be snowing tonight,” ujarku pada teman satu kamar.
Yeah, I saw the weather forecast and it says it will be snowing. But I don’t know
I’m not sure it will be snowing tonight cause I didn’t even feel cold today
Yeah

Tapi ini tentang cuaca Istanbul yang terkenal dengan kız gibi-nya. Kız gibi, seperti seorang gadis. Labil maksudnya, seperti gadis yang mood-nya bisa berubah cepat dalam satu waktu. Karenanya, tidak jarang cuaca Istanbul membawa kejutan. Kejutan menyebalkan seperti ketika langit cerah yang tertutup awa mendung dan disusul hujan beberapa saat kemudian, misalnya. Tapi, kejutan biasanya lebih tepat digunakan untuk hal positif bukan?. Kemarin, pada 30 Desember 2015 adalah salah satu hari ketika cuaca Istanbul membawa kejutan menyenangkan. Kejutan yang sudah lumayan lama ditunggu, ditanya-tanya kapan datangnya.

Hari itu adalah ujian final hari terakhir, ada dua ujian yang salah satunya dimulai pada pukul 10.00 pagi. Aku berangkat awal karena jarak asrama menuju kampus yang lumayan jauh. Selesai sarapan, aku melihat ke luar pintu kaca asrama. Tidak ada apa-apa. Masih sama saja seperti kemarin. Ramalan cuaca itu meleset sekali, mana ada salju turun malam tadi? Langit bahkan terlhat cerah diluar, batinku sambal melangkah keluar.

Udara memang lumayan dingin, hidung dan mulut bisa meneluarkan asap ketika berbicara, tertawa, bahkan ketika bernafas. Mungkin Si Putih akan datang malam ini, atau mungkin esok. Tapi, setibaku di sebuah halte bernama Cevizlibağ, tempatku berpindah kendaraan dari metrobüs ke tramvay, langit sudah terlihat mendung, butiran es kecil mulai turun. Pelan. Sedikit. Tapi dalam sekian menit sudah menghujani kerumunan orang disana, termasuk aku yang kebetulan tidak mengenakan jaket ber-hoodie. Rasanya sama saja dengan dihujani dengan milyaran tetes air dari langit. Bedanya, dengan hujan es atau salju, tubuh kita tidak akan langsung basah, hanya dipenuhi butiran kecil dari atas ke bawah.

Sepanjang perjalanan, aku melihat keadaan yang sama diluar. Orang-orang menutup kepala dengan tas, hoodie jaket, syal, dan ada pula beberapa yang membawa payung. Tapi setibaku di stasiun tramvay Beyazıt-Kapalıçarşı (Grand Bazaar) yang dekat dengan kampusku, hujan es sudah berhenti. Benar-benar berhenti. Bahkan terlihat matahari bersinar dari balik gedung disana. Cuaca Istanbul ini benar-benar.

Ujian pertama selesai, ada waktu 1 setengah jam sebelum ujian kedua dimulai. Aku dan beberapa teman sesama yabancı (foreigner) memutuskan untuk duduk di sofa lantai bawah. Mengobrol, membicarakan ujian sebelumnya, sambil kembali membaca materi pelajaran. Dan tiba-tiba..

Bak! Kar yağıyor!,” seseorang berkata sambal melihat ke luar jendela besar. Aku spontan ikut menoleh keluar. Benar saja, hujan es sedang turun lumayan deras di luar. Dahan pepohonan yang ‘gundul’ tanpa daun bergoyang kencang ditiup angin. Orang-orang yang masih berada diluar menyegerakan diri masuk ke dalam gedung untuk menghangatkan badan. Well, hujan es berbeda dengan hujan salju karena es lebih padat, sedang salju lebih ringan. Tapi keduanya sama menakjubkannya.

Jadilah hari itu, sehabis makan siang di ruang makan kampus, aku dan seorang teman dari Filipina yang kelihatan lebih excited dengan salju ini, bermain-main sebentar sambil merekam beberapa video dan kemudian pulang. Pipiku mulai memerah, tangan mulai terasa kaku, dan hidungku mulai ‘menangis’ karena dinginnya udara saat itu.

Salju di Istanbul tahun ini memang datang terlambat. Tapi prakiraan cuaca mengatakan kalau badai salju di beberapa wilayah pada tahun ini akan jadi lebih parah dibanding tahun sebelumnya. Di kota-kota lain yang sudah lebih dahulu dihujani salju, suhu udaranya bahkan bisa mencapai -20 derajat. Entah bagaimana orang-orang disana bisa bertahan dengan udara se-ekstrim itu. Di Istanbul yang baru bersuhu -2 derajat saja sudah merepotkan sekali rasanya. Bayangkan saja, kamu harus mengenakan jaket, syal, dan boot lengkap hanya untuk membeli sesuatu dari toko kecil yang sebenarnya hanya berjarak 10 langkah dari pintu asrama. Wuff..

Hari kedua turunnya salju, jalanan, atap-atap bangunan, pinggir jalan, mobil yang terparkir, semua sudah tertutup salju tebal. Semuanya sudah tertutup ‘selimut’ putih dingin. Cantik sekali. Tempat-tempat terlihat bersih. Beberapa anak kecil yang berpakaian tebal lengkap sedang bermain lempar bola salju diluar. Beberapa terbahak-bahak melihat temannya terpleset jalanan yang saljunya yang sudah mencair.

iki-bolgede-yogun-kar-yagisi-NDQ0N

(sumber: Google)

Setelah beberapa tahun, akhirnya pergantian tahun ini menjadi pergantian tahun yang berbeda dengan white new year’s eve atau malam tahun baru yang putih. Di malam tahun baru pun, salju masih turun dengan lebat. Jalanan yang tadi baru dibersihkan dengan sekop, dalam beberapa menit sudah tertutup es lagi. Kembang api yang dihidupkan pun tidak terlihat jelas keindahannya karena tertutup kabut dan langit mendung. Mana ada acara bakar-bakar sate atau jagung diluar rumah.

Yang membuat musim dingin berbeda adalah turunnya salju. Tiap kali salju turun di atas kepala, kamu akan merasakan hal itu seolah memiliki kekuatan magis yang membuat kamu terdiam menatap keindahannya tanpa sadar kalau pipi dan tanganmu yang tidak tertutup mulai memerah. Dan kebahagiaan yang terpancar dari kebersamaan ketika bermain bola salju atau membuat boneka salju membuat kekuatan magis itu semakin kuat. Kamu mungkin tidak akan sadar kalau ternyata dari tadi kamu tersenyum melihat sekeliling.

Tapi, tidak ada yang benar-benar sempurna dengan segala apapun di dunia ini. Ada kekurangan dan kelebihan dari masing-masing hal yang telah Allah ciptakan untuk membuat manusia semakin belajar dan bersyukur.  Bermain salju, merasaka kepingan lembut kepingan salju jatuh ke atas tubuhmu tidak selalu terasa menyenangkan. Ada kalanya ketika kamu merasa kesal sekali dengan suhu dingin yang ada, jalanan licin yang membuatmu sulit berjalan atau bahkan terjatuh beberapa kali, dan ketidak-menyenangkan lainnya.

Ada banyak sekali teman di tempat lain yang bilang iri sekali, ingin juga merasakan salju dan menyentuhnya dengan nyata. Tidak ada salahnya dengan berharap begitu, asal jangan sampai hal itu membuat kita berhenti bersyukur dengan apa yang sedang kita rasakan. Selalu lah memandang sesuatu dari dua sisi agar kita selalu sadar dengan kurang dan lebih-nya segala sesuatu yang ada ini.

Dengan turunnya rombongan Si Putih Cantik dari langit ini, Allah mengaruniakan kepada manusia kebahagiaan, kehangatan, kebersamaan, dan sentilan lembut untuk kembali bersyukur kepada-Nya. Dan manusia harus mendapatkan semua itu dengan mempelajarinya sendiri. Ada yang dari awal sudah merasa bahagia–tersenyum sambil kepala mendongak dan kedua tangan menengadah.

Ada pula yang merasa kesal, berjalan cepat dengan kaki menghentak lebih keras, bergumam aku jadi harus berangkat kerja dengan kebekuan ini setiap hari. Dan satu yang mungkin tidak menampakkan ekspresi yang mudah terbaca manusia, hanya menatap turunnya keindahannya itu dengan wajah datar, tidak mempedulikan orang lain yang lewat disamping, depan, dan belakangnya. Tidak peduli beberapa dari mereka bahkan dengan keras menabrak tubuhnya hingga hampir terjatuh. Tidak peduli mereka beteriak menyumpahinya yang menghadang jalan. Tidak peduli. Hanya mampu bergumam, datang lebih akhir saja tidak bisa kah? Si Kecil bahkan belum memiliki jaket hangat yang layak.

Angin dingin berhembus.
Salju tetap turun.

Amazing, Just The Way It Is

8 derajat, batinku membaca prakiraan cuaca hari itu. Tidak terlalu dingin sepertinya. Tapi angin tetap berhembus membawa hawa dingin. Menelisik ke dalam sela-sela jaket dan baju hangat orang-orang. Sinar matahari juga tidak bisa berbuat banyak. Hangatnya tidak sampai ke tubuh.

Orang-orang di dalam metrobus sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Termasuk diriku yang juga sibuk sendiri. Sibuk mengamati jalanan ramai yang tiap hari kulewati. Tidak ada yang berbeda. Tapi mataku asyik saja mengamatinya.

Metrobus yang terus berjalan melewati halte-halte yang dipenuhi orang-orang. Satu dua memaksa masuk. Mendorong tubuh kecilku yang akhirnya bingung mencari pegangan. Terhimpit orang-orang besar sedang halte tempatku turun masih lumayan jauh.

Hal yang biasa merasakan tubuh terhimpit begitu disini. Semua orang terburu-buru. Semuanya dikejar waktu sedang metrobus yang lewat seringkali sudah penuh sekali isinya. Metrobus kosong di beberapa halte pun diperebutkan orang-orang dewasa yang saling dorong berebut tempat duduk. Mereka lebih terlihat seperti anak-anak berebut gulali warna-warni. Sudah tidak peduli lagi apa yang tadi terkena siku atau tidak sengaja terinjak. Yang penting gulalinya dapat. Yang penting bisa duduk sepanjang jalan.

Dan itu baru metrobus. Kota ini bukan ibu kota negara. Tapi kadang ramai dan macetnya sudah lebih dari cukup untuk merusak mood seharian. Semua orang datang. Semua orang pulang-pergi memenuhi kendaraan umum manapun tiap harinya. Metrobus, tramvay, metrotren, marmaray, ferryboat. Dari pagi, siang , sore, sampai ke malam. Tidak ada habis-habisnya penumpang yang datang. Gadis pendek sepertiku sedikit banyak sudah terlatih dorong-dorongan. Satu-satunya cara untuk bertahan agar tidak terhimpit hingga sulit bernapas.

Dari metrobus, aku harus berganti kendaraan ke tramvay, kereta listrik, untuk bisa tiba di kampus. Tramvay lebih cepat dibanding otobus (bus) yang berbagi jalan dengan kendaraan pribadi lain. Berbagi jalan sama dengan berbagi kemacetan. Dan nasibku di dalam tramvay lebih baik. Karena naik dari stasiun terakhir, biasanya akan ada banyak tempat duduk kosong. Tapi itu pun bergantung kepada berapa banyak penumpang yang menunggu di stasiun. Banyak jumlahnya? Maka tanpa komando lagi tubuh sudah sigap bersiap dorong-dorongan.

“Merhaba,” tepukan pelan membuatku kaget. Menyadarkanku yang dari tadi sibuk memikirkan banyak hal yang terus saja bersambung dari satu ke yang lain.
“Ah, merhaba,” dia tersenyum, seorang ibu-ibu yang kelihatan sedikit lebih tua dari Ummi. Aku membalas senyumannya. Melepas headset dan mematikan lagu. Ibu itu menawarkanku duduk. Lama sekali ternyata aku melamun hingga tidak sadar kalau isi metrobus sudah berkurang setengahnya.

“Asal kamu dari mana?,” tanyanya berbahasa Turki. Senyumannya hangat sekali.

“Hmm, Indonesia,” jawabku. Sekali mengulang karena si ibu kurang mendengar jelas. Dan rautnya kemudian berubah mendengar ‘Indonesia’. Bilang banyak sekali bertemu orang Indonesia di Mekkah dan semuanya ramah dan baik sekali. Aku tersenyum malu-malu dan berterima kasih menanggapi pujian si ibu.

“Apa kamu bersekolah disini?,”

“Ya, di Istanbul University. Jurusan Jurnalistik,”

“Wah, kau ingin jadi seorang jurnalis rupanya,” si ibu mengelus kepalaku.

“Bagaimana? Kamu suka Istanbul? Disini ramai sekali, bukan?,”

“Hmmm ..” macet, dorong-dorongan, asap rokok dimana-mana, tidak ada gerobak bakso keliling, ramai, berisik

“Hmm, ya. Tapi walaupun ramai, aku sudah sangat mencintai Istanbul, Bi. Istanbul adalah kota yang cantik sekali!.”

Ya, dimana lagi aku bisa merasakan sejarah dengan berdiri sedekat ini dengannya? Dimana lagi aku bisa berkeliling sesukaku dan melihat keindahan sana-sini? Dimana lagi aku bisa merasakan kehangatan seperti ini? Dimana lagi aku bisa semauku mengunjungi tempat yang banyak orang memimpikannya?.

Sudah ‘resiko’-nya Istanbul dikunjungi banyak orang begini. Bagaimana tidak? Cantiknya Istanbul memang sebegitu mempesonanya. Bahkan sudah sedari dulu menjadi rebutan, bukan?

 

Memimpin dan Dipimpin

Setiap orang adalah pemimpin. Seorang Presiden adalah pemimpin bagi rakyatnya, seorang Direktur adalah pemimpin bagi pekerjanya, seorang Ayah adalah pemimpin bagi keluarganya, dan terlepas dari itu semua, setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.

Nah, apa itu pemimpin?

Menurut vtaide.com, leader is a person who influences a group of people towards the achievement of a goal. Pemimpin adalah seseorang yang mempengaruhi sekelompok orang untuk mencapai sebuah tujuan. Jadi, pemimpin adalah seseorang yang bermisi sama dengan kelompoknya dalam mewujudkan sesuatu. Dan ada lebih banyak lagi defenisi pemimpin yang bisa kamu googling 😀

Bagaimana cara untuk menjadi pemimpin yang baik?

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu alasan dibuatnya kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan. Kegiatan ini bisa beragam bentuknya. Dan kegiatan ini sangatlah penting untuk menjadi bekal kita dalam mengikuti sebuah organisasi dalam lingkup kecil atau yang lebih besar dan serius nantinya.

Dua hari lalu, PPI Istanbul mengadakan kegiatan serupa dengan target participant-nya adalah mahasiswa Indonesia di Istanbul yang sudah tinggal minimal satu tahun dan sudah pernah mengikuti pelatihan sejenis sebelumnya. Hari itu, tidak begitu banyak yang hadir. Tapi kegiatannya tetap berjalan lancar dan banyak sekali ilmu yang kami dapat.

Ada empat narasumber yang kemarin diundang, dan ke-empat-empatnya adalah mahasiswa senior di Istanbul yang berpengalaman dalam berbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan ‘kepemimpinan’.

Ada banyak sekali hal yang disampaikan oleh keempat pembicara kemarin. Dan semuanya semakin membuka pikiran dan memperluas wawasan kami yang hadir. Yang kemarin banyak dibahas adalah mengenai kepemimpinan dalam kelompok. Bahwa seorang pemimpin adalah seseorang yang harus mengetahui seluruh apa saja yang ada dalam list pekerjaan kelompoknya. Dan tidak hanya itu, pengetahuan seorang pemimpin haruslah meluas dan mendalam.

Bedanya pemimpin dengan orang-orang dibawahnya adalah, ketika pemimpin harus mengetahui segala sesuatunya dengan detail, orang-orang dibawah ini hanya perlu mengetahui pekerjaan dari bidang lain dalam kelompok mereka tanpa harus mendalaminya. Jadi dengan itu, pemahaman dalam kerjasama dalam kelompok akan terbangun dengan baik.

Ilmu dalam hal seperti ini tidak lama bertahan lama dalam otak kita, kalau tidak langsung kita praktekkan. Misalnya, dengan mengikuti kepanitaan atau organisasi di sekolah. Kalau kita serius dalam mengerjakan program kerja atau tugas sebagai tanggung jawab kita, pada akhirnya kita akan merasakan kalau ada kemampuan kita yang berkembang dan ilmu-ilmu ini akan dapat terus diingat.

Hal lain yang disampaikan adalah dalam sebuah kelompok, seorang pemimpin harus memiliki branding atau dalam hal ini, kata-kata yang bisa menyemangati orang dibawahnya untuk bersama mencapai tujuan dan target yang sudah ditetapkan sebelumnya. Seorang pemimpin harus lebih mampu bertahan dibanding orang dibawahnya. Karena ketika seorang pemimpin berkobar semangatnya, maka satu kelompok itu akan ikut tersulut semangatnya. Dan begitu pula sebaliknya. Sebuah kelompok akan lemah jika melihat pemimpinnya yang putus asa.

Dan ada banyak hal lain lagi seperti lobby management, pengarsipan atau dokumentasi pihak atau tokoh terlibat yang harus tetap dijaga, dan bagaimana caranya untuk tetap menggali semangat dalam keadaan tertekan atau dalam keadaaan sulit. Lagi, semua hal ini akan sangat mudah kita dapatkan dalam kegiatan serupa, tapi untuk membuatnya bermanfaat dalam hidup dan dalam pengembangan karakter kita, semuanya harus kita praktekkan dalam kehidupan nyata.

Kalau kamu bukanlah orang yang baik dalam bekerja dalam kelompok, maka kamu dapat menggunakannya dalam kepemimpinan individu, dalam memimpin diri kamu sendiri mencapai target dan impian kamu. Bahkan dalam memimpin diri sendiri pun tidak semudah kelihatannya, kan?

Tapi, menurut pribadiku sendiri, ikut serta dalam sebuah organisasi tidak hanya mengembangkan karakter kita dalam satu hal, tapi dalam banyak sekali hal, dan juga dengan organisasi, kita akan dapat mengenal dan belajar lebih lagi dari orang-orang baru.

Menjadi anggota dalam kepengurusan PPI Istanbul satu tahun yang lewat adalah hal yang benar-benar berharga dan tidak akan dilupakan untukku dan teman-teman yang lain. Kami juga diajarkan tentang nilai-nilai kehidupan yang tidak ada dalam list pelajaran di sekolah manapun. Belajar memahami sesama, membantu, menggali pikiran lebih dalam untuk ide-ide baru, belajar bertahan dalam tekanan dan keadaan sulit, belajar berani untuk bicara atau mengungkapkan pendapat di depan umum, belajar merencanakan dan mengerjakan sesuatu dengan baik dan detail, dan belajar mengenai hal-hal teknis yang pasti akan sangat berguna nantinya.

Hakikatnya, kita memanglah seorang pemimpin. Kita adalah pemimpin bagi diri sendiri, kita yang memimpin langkah kita. Dan pada lain waktu, kita pula yang akan dipimpin. Hidup memang begitu. Dipenuhi hal-hal dan cara yang membuat kita banyak belajar dan semakin menyadari betapa luasnya ilmu Allah itu.

Teruslah maju, bangkit dari jatuhmu, belajarlah lebih banyak, dan bersyukurlah. Bersyukurlah untuk setiap kesempatan yang ada 🙂

 

Dalam penantian keajaiban putih musim dingin,
Istanbul, 7 Desember 2015

Belajar (Tidak Perlu Kelas)

Sudah lebih dari sebulan kurasa. Aku rindu menulis, maksudku mengetik. Menumpahkan isi kepalaku ke dalam sebuah kertas visual kosong. Ada kesenangan tersendiri melihat kata demi kata membentuk paragraf tersusun di atasnya. Lebih menyenangkan lagi ketika tahu kalau hasilnya akan bermanfaat bagi orang banyak nantinya.

Angin musim dingin sudah lama hadir, bertiup kesana-kemari menggoyangkan dedaunan kuning dan kuning pepohonan. Daun-daun berguguran lagi, jatuh ke tanah dan jalanan, membuat pekerjaan penyapu jalan semakin tidak selesai. Orang-orang sudah kembali mengenakan pakaian musim dingin yang sebelumnya diletakkan di bagian lemari paling bawah. Berganti, pakaian tipis yang kini harus menunggu gilirannya setelah enam bulan berikutnya.

***

Hampir satu bulan yang lalu, kami beberapa pelajar Indonesia yang juga adalah anggota Badan Penyelenggara Harian Perhimpunan Pelajar Indonesia di Istanbul (BPH PPI Istanbul) telah mengadakan sebuah acara besar macam konferansi disini. Acaranya membawa tema yang sudah banyak diperbincangkan dalam forum-forum besar di dunia, “Youth Empowerment and Entrepreneurship“. Acara ini menggunakan bahasa Inggris secara penuh karena sasarannya adalah pelajar internasional di Turki, dan bahkan Indonesia.

Acaranya diadakan pada tanggal 31 Oktober 2015. Tepat sembilan hari sebelum hari pertama Ujian Tengah Semester.  Jadi setelah selesai acara, istirahat, buku dan kertas-kertas catatan pula yang mengantri minta dibaca. Bertumpuk disamping bantal diatas tempat tidur.

Jurusanku menggunakan Bahasa Turki seutuhnya. No English. Apalagi, dari 120 murid di kelas, hanya ada sekitar tujuh sampai sepuluh orang asing di kelas. Tetap saja kami adalah minoritas. Dan sayangnya, sedikit sekali yang peduli dengan keberadaan kami yang kemampuan berbahasa Turkinya belum bisa ikut bersaing dengan mereka. Pekerjaan sebagai panitia selesai, hari-hari berikutnya, aku jadi seseorang yang semakin lengket dengan buku dan laptop. Membaca dua baris kalimat saja kadang perlu berkali-kali melongok ke kamus digital.

Memang tidak gampang, Guys. Tapi kami, aku dan teman-teman sesama orang asing, percaya kalau hambatan kami hanyalah bahasa. Kami mengerti apa yang guru sampaikan, hanya bingung bagaimana menyampaikannya dengan bahasa Turki karena belum tentu profesor mengizinkan untuk menjawab dengan bahasa Inggris.

Dan begitulah hari-hari berlalu sampai pada ujian hari terakhir. Ada tujuh mata kuliah dalam sebelas hari ujian. Selama itu, tidak sabar sekali rasanya pergi keluar dan jalan-jalan dengan santai. Tidak harus memenuhi kepala dengan permasalahan persiapan ujian.

Jangan tanya soal hasil. Yang terpenting itu, kan, usahanya. Walaupun dalam hal ini, hasil juga penting 😦 . Tapi terus mengkhawatirkan hasil hanya akan membebani pikiran. Yang penting usaha sudah maksimal, berdoa juga tidak pernah absen. Tinggallah nanti hasilnya diterima dengan penerimaan terbaik (sok bijak kali aku).

Dimanapun belajarnya, pasti akan menemukan masa-masa sulit. Entah itu di Indonesia, disini, atau di tempat-tempat lain di dunia. Itu sebuah ujian mainstream kita sebagai pelajar. Ingin sukses? Belajar dengan serius. Jangan berharap hasil terbaik dengan hanya leha-leha di kamar atau hang out terus-terusan dengan teman-teman. Jangan tawakkal (berserah diri kepada Allah) sebelum ikhtiyar (berusaha), betul?.

Jadi, ujianku selesai minggu kemarin, tanggal 20 November. Ujian pertama yang benar-benar menguras tenaga. Tapi insya Allah, ujian selanjutnya akan lebih baik. Aamiin.

Ujian selesai, pikiran sudah lebih tenang. Soal hasil? tidak usah dipikirkan. Kasihan, kan, otak kalo hal-hal berat melulu yang berputar di dalamnya. Sepulang ujian, kembali ke asrama, aku langsung menhabiskan waktu menonton video di YouTube. Tapi …

Aku pulang ujian pukul sebelas siang. Tiba di asrama pukul dua belas. Sedikit bersantai di kamar dengan pikiran ‘merdeka’. Tapi, pukul lima sore, sudah ada lagi rapat panitia Sidang Umum PPI Istanbul. Wah, wah, aku benar-benar seorang mahasiswa sekarang, batinku. Selesai satu pekerjaan, menunggu pekerjaan yang lain.

Dan bukan hanya satu acara, aku jadi panitia dari tiga acara sekaligus dalam rentan waktu tiga pekan. Mana pula kelas sudah dimulai lagi. Jadilah mengantri, pekerjaan sebagai panitia dan membaca buku sebagai pelajar-ku. Kata-kata apa lagi yang bisa aku gunakan untuk menggambarkan kesibukan ini? 😛

Asma pasti sibuk banget itu

Memang (tsaah). Fisikku sering kelelahan. Protes minta istirahat dan tidur yang cukup. Tapi aku suka dengan kesibukan ini. Toh aku bekerja dengan orang-orang terdekat. Bekerja sambil bercanda dan melempar lelucon membuat pekerjaan jadi jauh lebih ringan. Dan lagipula, aku bukannya sibuk untuk kesia-siaan. Aku sibuk untuk jadi bermanfaat, dan belajar hal-hal baru dalam waktu yang sama. Dan itu menyenangkan sekali.

Jadi, intinya, tulisan kali ini mengajak kamu untuk terus bersemangat dalam tiap kesibukan kamu. Berbanggalah kalau kamu masih ada banyak orang yang mengandalkan kamu. Berbanggalah karena kamu bisa bermanfaat. Nikmati semuanya dengan senyuman, bekerja dengan ikhlas. Dan juga, jangan lupa untuk terus berdoa agar pekerjaan yang kamu lakukan mendapat ridho dan diberkahi oleh Allah. 🙂 🙂

Istanbul, 24 November 2015 (13.24)

 

PS: Jangan lupa tinggalkan komentar dan jangan segan untuk bertanya soal apapun. Aku akan jawab sebisaku. Dan kalau pertanyaannya menarik, insya Allah akan dijadikan inspirasi postingan berikutnya 😉

 

You’ll Find the Way (An Awardee’s Journey)

“Kak, saya boleh minta kontaknya buat tanya-tanya?”
“Salam kenal kak, nama saya blablabla. Boleh tanya-tanya ga?”
“Kak, minta tips atau trik biar bisa keterima di YTB dong”
… dan lain-lainnya. Tidak satu dua kali aku memberi tahukan nama akun pribadi sosial mediaku kepada orang-orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Banyak sekali yang bertanya soal apa itu beasiswa YTB/Türkiye Bursları?, bagaimana cara mendaftar, apa saja yang harus dipersiapkan, dan pertanyaan serupa yang kemudian aku jawab dengan meminta mereka membaca informasi dasar itu di blog resmi Türkiye Bursları. Aku hanya akan menjawab penjelasan mengenai hal-hal yang mungkin tidak dijelaskan mendetail di website. Tapi lebih sering lagi menjawab pertanyaan mengenai tips, dan ceritaku sehingga bisa menerima beasiswa penuh dari Türkiye Bursları.

Aku sudah sering menceritakan hal yang sama soal pengalaman terbesarku ini baik itu di Ask.fm, LINE, atau chatbox Instagram. Tapi aku akan menceritakannya juga disini.

Jadi aku berhasil mendaftar setelah tiga hari sejak hari pertama mencoba. Ya, ada-ada saja masalah yang muncul. Mulai dari aku dan Abi yang lupa untuk me-convert scanned documents ke file PDF, koneksi internet lelet, karena sesuatu dan lain hal membuatku harus ganti email, dokumen salah sehingga harus me-print ulang dan meminta tanda tangan kepala sekolah lagi, berulang kali menuliskan essay karena berulang kali terhapus (akhirnya aku kopas ke Ms. Word sehingga tidak harus ditulis ulang terus menerus), dan lain-lain. Dan masalah juga masih muncul di hari terakhir ketika akhirnya aku berhasil me-submit semua dataku.

Malam itu (14 Mei 2014), koneksi internet lancar, dan semua dokumen yang sudah lengkap juga berhasil diupload. Tapi entah kenapa aku tidak menemukan tombol ‘Submit’ di tahap terakhir. Selalu ada peringatan untuk mengulang beberapa tahap sebelumnya.

Waktu itu aku memilih jurusan Teologi Islam. Abi sebenarnya kurang setuju dengan berpendapat, “sudah ke Turki sekalian aja jurusan umum”. Tapi aku masih bersikeras. Dan karena menghadapi masalah itu, aku akhirnya memutuskan untuk mengulang dari awal semuanya dan mengganti jurusan. Ketika aku sedang me-scroll down pilihan jurusan dan hampir memilih Hubungan Internasional, Abi melihat pilihan Jurnalistik dan langsung menyuruhku memilih itu. Aku sudah sangat lelah malam itu. Tanpa banyak komentar, aku pun menurut. Dan .. kami langsung bisa menemukan tombol ‘Submit’. Masyaallah. Entahlah, tapi malam itu terkesan magis bagiku. Ridho Allah benar berada pada ridho orang tua.

***
Hari-hari keesokannya, aku kembali disibukkan dengan kelas persiapan tes beasiswa Timur Tengah. Kembali berkutat dengan bahasa Arab dan hapalan Al-Qur’an. Sampai aku lupa untuk mengecek email.

Aku dan keempat temanku kembali ke Jakarta untuk tes tahap kedua untuk beasiswa Timur Tengah pada tanggal 15 Juni, kalau aku tidak salah. Kami kembali menginap di asrama mahasiswa. Hari ketika aku datang untuk melakukan tes, aku merasa benar-benar tidak enak badan. Aku merasa sangat sakit tapi tetap memaksakan diri untuk datang. Itu dikarenakan karena sehari sebelumnya, ketika baru tiba di asrama, aku dan Intania, temanku, bukannya istirahat, malah berjalan-jalan ke sekitar asrama. Membeli makanan, dan lain-lain. Oh, ya. Hari itu kami memberi kebap Turki yang rasanya memang enak. Tapi setelah berangkat kesini, aku tahu kalau rasanya jauh berbeda dengan rasa kebab disini.

Tes kedua waktu itu adalah yang paling sulit buatku dengan kondisi badan yang sedang sangat tidak sehat. Pusing, aku bahkan hampir muntah. Terus memandang jam berharap semuanya cepat selesai.

Setelah menyelesaikan tes tulis dan lisan, aku terduduk di teras bangunan yang lain bersama guru pembimbing kami, menunggu yang lain. Hari itu hujan. Udara tidak dingin, tapi lebih dari cukup untuk membuatku merasa lebih buruk. Sepulangnya ke asrama, aku langsung tertidur sampai mengigau. 😂

Pada tanggal 18 Juni 2014, satu hari setelah kembalinya kami dari Jakarta, kami diwisuda. Sungguh aku tidak merasa bahwa aku akan jadi alumni sekolah hari itu. Aku tidak akan meneruskan sekolah di pesantren itu lagi, itulah akhirnya, tapi aku bahkan baru tiba di gedung wisuda satu jam setelah acara dimulai. Aku bahkan meminjam flatshoes lama milik temanku. Aku bakan tidak menyetrika seragam wisudaku hari itu. Karena aku sibuk membantu Ummi yang waktu itu memiliki pesanan snack sampai seribu lebih. Walaupun ada yang membantu, tetap tidak tega melihat Ummi masih harus turun tangan dengan keadaan hamil 5 bulan.

Acara selesai pada pukul 12 siang, dan semua teman-temanku satu persatu pulang ke rumah masing-masing. Dan aku baru mulai merasa sedih dan menangis sore harinya, ketika menyadari kamar kami sudah kosong. Hanya menyisakan kamar berantakan dengan dipan-dipan tanp kasur. Aku pun dijemput Abi pulang sore itu.

19 Juni 2014, pukul 04.00 pagi, rumah kami heboh. Tidak ada kebakaran atau kemalingan. Aku tidak sengaja berinisiatif membuka email dan mendapatkan satu email yang ditunggu-tunggu sejak satu bulan yang lalu, email undangan wawancara di Kedutaan Besar Turki di Jakarta!. Dan kalian tahu?, pada undangan itu tertulis kalau wawancaraku akan dilaksanakan pada tanggal 21 Juni 2014, pukul 14.30. 21 Juni 2014!, dan aku masih berada di Palembang saat itu, ratusan kilometer dari Jakarta dan masih belum tahu dimana tepatnya Kedubes itu berada. Maka siang itu, setelah mengambil beberapa dokumen lainnya di kantor, aku dan Abi berangkat. Menggunakan mobil, Abi sendiri yang menyetir karena kami belum pernah ke Jakarta menggunakan pesawat sebelumnya dan tidak tahu harus bagaimana setelah tiba. Siang 19 Juni, aku dan Abi berangkat ke Jakarta.

Tidak tega melihat Abi menyetir mobil sejauh itu, Palembang-Jakarta. Jadi aku bertekad lagi untuk melakukan semuanya semaksimal mungkin. Aku harus melakukan yang terbaik agar peluh dan lelahnya Abi, dan Ummi di rumah, tidak pernah sia-sia. Aku terus berdoa. Berdoa dan meyakinkan diriku kalau Allah pasti memberikan jalannya.

Kami menginap di rumah saudara di Depok, ya, lumayan jauh dari Jakarta, tapi hanya itu yang bisa kami lakukan. Setelah beberapa jam tersesat karena mengambil jalan yang salah, kami akhirnya tiba tengah malam. Dan keesokan harinya, 21 Juni 2014, kami berangkat pada pada pukul 8 pagi agar bisa tiba di Kedubes tepat waktu.

Kami tiba satu jam lebih awal. Hari itu juga hujan, beberapa jalan tergenang air hingga lutut orang dewasa. Tapi aku tidak peduli, aku gemetaran, khawatir apa aku akan bisa melakukan wawancara dengan baik. Tanganku dingin, aku banyak diam di mobil walaupun dua adik sepupuku yang ikut mengantar benar-benar berisik.

Aku dianter ke depan gerbang karena mobil kami dilarang masuk. Abiku heboh sekali saat itu 😂. Setelah masuk pun, aku hanya diizinkan membawa berkas-berkas. Tas dan handphone ditinggalkan di pos satpam.

Aku ingat taman di tengah halaman. Tanamannya basah karena hujan. Sepi sekali hari itu. Membuatku sangat tidak nyaman. Aku disuruh menunggu di dalam sebuah ruangan yang didalamnya sudah ada seorang gadis. Kami berkenalan, dan dia menceritakan persiapannya menghadapi wawancara hari itu. Persiapan? Aku? Aku tidak punya persiapan apa-apa. Hal yang berhubungan dengan bahasa Inggris yang aku lakukan sebelum wawancara hanyalah mendengarkan lagu bahasa Inggris sepanjang perjalanan. Dan, ya, membaca esaiku pada pendaftaran online.

Gadis itu bicara bahasa Inggris lancar sekali. Ya Allah, dia pasti lulus. Persiapan dia matang sekali, dan dia juga terlihat pintar. Bagaimana denganku?. Aku hanya berserah diri mengharapkan yang terbaik.

Giliran gadis itu dipanggil, aku memberinya semangat kepadanya yang tampak tegang. Dia berlalu meninggalkan aku sendirian di ruangan dingin dan sepi itu. Hanya ada aku dan pajangan foto Turki di dinding. Sampai akhirnya ada gadis lain yang datang. Tidak lama setelah kami berkenalan, giliranku dipanggil.
“Kamu pasti bisa, kok,” kata gadis itu. Tapi wajahnya masih terlihat tegang. Apa yang terjadi di ruangan itu?. Apa saja yang mereka tanyakan?. Kemudian dia memberitahuku ruangan mana yang harus aku tuju.

Ruangannya berada di gedung sebelah. Ada dua pintu, aku membuka salah satunya dan menemukan kalau keduanya mengarah satu ruangan yang sama. Setelah masuk, aku melihat banyak sofa dan meja. Ada jendela besar yang kalau tidak salah diluarnya terdapat sebuah kolam. Interior ruangan terlihat bagus walau lampu tidak dinyalakan. Hanya satu ruangan yang memiliki nyala lampu. Ruangan dengan pitu terbuka yang menjadi ruangan wawancara kami hari itu.

Ada tiga orang pria didalamnya yang menyambutku ketika aku masuk. Aku disuruh menyerahkan nilai ujian akhirku, dan mulai dilempari pertanyaan oleh pria ujung sebelah kiri. Aku disuruh mengenalkan diri, menceritakan kegiatanku di waktu luang, hobby, dan lain-lain. Entah kenapa semua kosakata bahasa Inggrisku seolah berlarian di kepala tapi susah dikeluarkan melalui mulut. Aku tegang. Apalagi pria yang berada di tengah hanya melihat ke arahku sambil menyatukan kedua tangannya dan meletakannya di depan mulut. Mungkin dia psikolog, memastikan apa aku memang yakin dan pantas untuk menerima beasiswa ini.

Aku banyak ditanya soal alasan memilih Turki, alasan memilih jurusan, apa aku mendaftar beasiswa di tempat lain, rencanaku ke depannya, dan lain-lain. Hanya sekitar 15 menit yang menjadi salah satu 15 menit paling lama dihidupku. Aku menjawab semuanya dengan apa adanya, berusaha terlihat santai dan yakin dengan jawaban-jawabanku. Hingga akhirnya aku merasa nyaman pada menit-menit terakhir karena pria tambun sebelah kanan tersenyum dan memberiku pertanyaan tambahan yang bisa dijawab pendek.

Dan saat-saat menegangkan itu pun berakhir. Aku keluar dari ruangan dengan sedikit merasa lega. Walau kecemasanku berganti, apa aku akan diterima?. Apa mereka menyukai jawaban-jawabanku?. Apa aku terlihat pantas diterima?. Dan pertanyaan-pertanyaan serupa yang baru aku dapatkan jawabannya satu bulan kemudian.

2 hari sebelum hari raya Idul Fitri.
5 hari sebelum hari ulang tahunku.
26 Juni 2014, pagi ketika aku (kembali) tidak sengaja membuka email dan mendapatkan email Kabul Mektubu, surat penerimaan yang menandakan kalau satu bangku kuliah di Turki sudah menjadi milikku. Alhamdulillah .. 😥

Hari-hari berat itu terbayar sudah. Aku bahagia sekali melihat senyuman Ummi yang seolah tidak percaya, dan SMS singkat dari Abi yang sedang tidak berada disana yang isinya,

“Abi sudah tahu dari awal. Abi bangga sama ayuk”

 

Egypt, Goresan Mimpi Lama (Part III)

Hari-hariku kembali seperti biasanya. Seolah obrolan dengan Abi malam itu tidak pernah terjadi. Ketika bertemu, Abi sering memberi semangat walau dengan wajah lelahnya. Ada saatnya ketika aku memandangi wajah lelah Abi atau Ummi, aku ingin sekali waktu bergulir begitu cepat, bahkan lebih cepat dari laju kuda di atas padang pasir yang terbakar. Sehingga aku tiba di hari-hari ketika aku sudah cukup mampu untuk meringankan seluruh beban mereka. Hari-hari ketika aku benar-benar berguna sebagai seorang anak sulung.

Abi mengizinkanku untuk ikut les persiapan untuk tes beasiswa Timur Tengah. Dan alhamdulillah beliau tidak terlihat keberatan. “Abi akan usahain semuanya,” kata Abi, membuatku lebih bersemangat.

Ada beberapa teman-temanku yang lain yang ikut persiapan tes beasiswa Timur Tengah waktu itu. Kami belajar siang, sore, bahkan malam setelah waktu Isya di laboratorium bahasa. Menerjemahkan, mengulang pelajaran Nahwu, bicara dalam Bahasa Arab, meng-i’rob halaman perhalaman, dan kadang diisi dengan menit-menit ketika guru kami memberi kata-kata motivasi atau berbagi cerita pendek tentang perjuangan mereka dulu. Lihat?, yang namanya orang sukses pasti pernah mengalami masa-masa penuh perjuangan, masa-masa memaksa diri untuk kuat. Karena begitulah Allah mempersiapkan mereka agar nantinya tidak merasa sombong setelah mencapai puncak. Hukum energi pun membuktikan kalau energi keluar=energi masuk. Apa yang akan kamu dapat tidak akan jauh dari apa yang telah kamu usahakan sebelumnya.

Suatu sore, ada pengumuman yang terdengar dari toa yang tersebar di asrama-asrama santriwati kalau seluruh santriwati kelas 3 aliyah diharapkan untuk berkumpul di kantor madrasah. Ya, dulu aku sekolah di pesantren. Bukan 3 tahun, tapi 12 tahun. Berturut-turut dari ibtidaiyah, setingkat SD, sampai aliyah. Bosan? Tidak. Lagipula, kalau aku tidak pernah berada disana, siapa tahu aku tidak akan berada di Turki sekarang.

Dan sore itulah aku diperkenalkan Allah dengan takdir yang sudah Ia tuliskan untukku. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas dipikiranku hari itu. Sesuatu yang sama sekali tidak aku pernah aku tahu atau dengar sebelumnya. Sore itu, kami diperkenalkan dengan beasiswa pemerintah Turki untuk mahasiswa asing. Turkiye Burslari (Türkiye Bursları). Teman-temanku banyak yang berminat ketika mendengar tawaran beasiswa yang diberikan. Tapi semuanya ciut ketika tahu kalau tesnya berbahasa Inggris dan rata-rata nilai diatas 7. Dan mereka mendorongku. “Kamu pasti keterima”, “kamu kan pinter, mudahlah itu buat kamu”, dan blablabla.

Aku menyayangkan mereka yang sudah menyerah duluan. Dan aku pun maju sendiri.

Aku sibuk ikut kelas persiapan tes itu sampai hampir lupa kalau deadline pendaftaran Türkiye Burslari sudah semakin dekat. Waktu itu 10 hari sebelum deadline. Aku diberitahu baiknya apply satu minggu sebelum deadline karena bisa jadi sistemnya bermasalah karena terlalu banyak yang apply di hari-hari terakhir. Aku punya dua hari untuk menyiapkan berkas-berkas, mengetik, meminta tanda tangan kepala sekolah, dan meng-scan semuanya. 8 hari sebelum deadline, aku mulai mencoba apply sambil terus berharap diberi Allah kemudahan.

Tidak cukup satu hari, aku baru menyelesaikan semuanya 3 hari kemudian (14 Mei 2014). Ada saja masalah yang aku hadapi beberapa hari itu. Untungnya, ada Abi dan Ummi yang menguatkanku, meyakinkanku untuk tidak menyerah. Ya Allah, begitu banyak limpahan nikmat-Mu. Termasuk orang tua luar biasa dengan aku yang terpilih menjadi anak mereka. Alhamdulillah..

Singkat cerita, beberapa hari kemudian, kami sudah harus berangkat ke Jakarta karena hari H sudah sebentar lagi. Kami berangkat dari pesantren menggunakan bis sewaan. Teman-teman kami banyak yang ikut mengantarkan ke bis. Terlalu dramatis dengan berkali-kali berpelukan saat itu.

Sepanjang perjalanan, kami tidak lupa untuk membolak-balik halaman-halaman fotokopian yang diberikan ketika persiapan dan juga buku catatan yang tidak sedikit coretannya, mengulang hapalan, dan juga menghubungi orang-orang terdekat untuk mendo’akan kami ketika tes nanti.

Selama berada di Ciputat, Jakarta, kami menginap di asrama mahasiswa. Dari sana kami hanya perlu berjalan sekitar 10 menit untuk tiba di lokasi tes. Ruang tes tulis dibedakan berdasarkan negara yang dituju oleh tiap peserta. Ada Mesir, Sudan, dan Maroko. Ada banyak sekali orang hari itu dan semuanya terlihat jauh lebih pintar dan siap dari kami. Bismillah..

Tes tulisku tidak berjalan begitu lancar menurutku. Aku hanya mampu berdoa, berharap kerja kerasku serta Abi dan Ummi terbayar sepadan nantinya. Pada ujian lisan, dipanggil per-dua orang ke dalam ruangan. Lainnya menunggu di depan ruangan agar langsung siap kalau tiba-tiba namanya dipanggil. Tidak ada tempat duduk, kami semua lesehan dilantai sambil sibuk sendiri buka-tutup buku dan Al Qur’an. Setelah giliranku selesai, aku hanya kembali berdoa. Usahanya sudah, ikhtiyarnya selesai, hanya tinggal ber-tawakkal. Biar Allah yang memutuskan hasil terbaiknya.

Beberapa minggu kemudian, “kita berdua lulus!,” sore itu ketika aku sedang khusyuk menonton TV, Intania, temanku datang mengetuk pintu dan langsung mengejutkanku dengan berita bahagia itu. Kami lulus!. Kami lulus tes tahap pertama!. Ramai sekali rumah kecilku karena suara kami berdua berteriak kegirangan. Dari 18 orang kami yang berangkat tes tahap pertama, sayangnya yang lolos ke tahap kedua hanya berempat. Aku, Intania, dan dua orang santri. Awalnya kami merasa tidak tega untuk memberi tahu yang lain. Tapi pada akhirnya, yang lain mampu berlapang dada dan mendoakan kelancaran tes kedua kami.

Jangan tanya apa aku dan orang tuaku bahagia hari itu. Kami sangat bahagia. Terutama aku. Aku merasa perjuangan kami ada hasilnya. Walaupun sebenarnya, itu baru tahap awal. Tahap-tahap lainnya menunggu untuk diselesaikan. Hal yang sama, yang diperlukan hanyalah usaha, keyakinan, dan doa menuju tes tahap kedua itu. Tapi, pikiran dan doaku sebenarnya sudah sejak beberapa bulan sebelumnya tidak terfokus kepada satu tujuan. Permohonanku sudah bercabang sejak sore hari waktu kami dikumpulkan itu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Siapa yang waktu itu bisa menjamin kalau aku akan menerima beasiswa Turki?. Siapa yang bisa memastikan?. Siapa yang bisa menentukan pilihan terbaik bagiku?. Hanya Allah. Dan ketentuan Allah itu rahasia. Hanya dapat kita ketahui dan pahami setelah ia terjadi.

Jadi apa yang aku lakukan hari itu?. Yakin dan terus berdoa. Sungguh, kekuatan doa dan keyakinan itu sangat dahsyat, teman. Dan aku memutuskan untuk meneruskan.

Avcılar. 5 Oktober 2015, 16:27

Esma, Istanbul

Aku Melihat Istanbul

Kamis, 17 September 2015, terhitung seminggu sejak kedatangan mahasiswa baru ke Turki, PPI Istanbul bekerja sama dengan ICIST mengadakan fieldtrip atau jalan-jalan ke beberapa tempat di Istanbul. Membiasakan diri di tempat baru yang berbeda bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu dorongan dari dalam diri sendiri dan juga dari luar agar proses pembiasaan itu berjalan lebih mudah. Karena itu, program ini diadakan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat antara mahasiswa baru dan mahasiswa lama, dan juga untuk refreshing setelah beberapa hari disibukkan mengurus berbagai hal sekaligus mengenalkan Istanbul sedikit lebih jauh agar mahasiswa baru merasa nyaman dan beruntung berada di tempat yang walaupun jauh dari rumah ini.

Kami sudah diberitahukan sebelumnya bahwa sudah harus berkumpul di gedung ICIST pada Kamis pagi pukul 9.00. Aku dan empat temanku, ditambah tiga mahasiswa baru harus berangkat lebih pagi karena jarak dari asrama ke kantor ICIST yang di bagian Eropa tidaklah dekat. Aku selalu berpikir, kalau tidak karena fasilitas asramaku yang bagus, sudah lama aku meminta YTB untuk memindahkanku ke asrama lain di bagian Eropa yang pastinya lebih dekat untuk pergi kemana pun, terutama kampus.

Pagi itu, kami berangkat pukul 7.30 dan akhirnya tiba di gedung kantor ICIST beberapa menit lewat dari pukul 9.00. Ada 23 orang yang ikut termasuk beberapa mahasiswa baru dari Malaysia dan Singapura.

Pukul 9.30, setelah berkumpul, kami berangkat dengan menggunakan bus sewaan menuju destinasi pertama, Miniatürk.

image

(Diambil oleh Asma)

Miniatürk atau Minyatür Türkiye Park adalah sebuah taman miniatur yang berisi miniatur bangunan atau tempat dari dalam dan sekitar Turki dengan skala 1:25. Taman ini pertama kali dibuka pada tanggal 3 Mei 2003. Luas taman ini adalah 60.000 meter persegi yang menjadikannya salah satu taman miniatur terbesar dunia.

Untuk saat ini sudah ada 122 model yang diselesaikan dan Wikipedia juga mengatakan kalau tempat yang masih tersisa disiapkan untuk potensi adanya model bangunan lain lagi nantinya.

Taman ini tidak hanya berisi miniatur bangunan saja, tapi juga ada taman bermain khusus anak kecil, labirin, dan papan catur raksasa. Jadi anak-anak kecil tidak akan cepat merasa bosan berada disini.

Kami diberi waktu satu jam untuk berkeliling. Pada pukul 11.00 kami sudah harus berkumpul di dekat toko souvenir.

image

Sebelum memulai tur

image

image

Foto bersama di depan pintu masuk Miniatürk

Setelah berfoto di depan pintu masuk Miniatürk, kami diajak masuk ke dalam sebuah tenda putih lumayan besar yang isinya adalah layar-layar dengan tulisan rencana pembangunan Istanbul ke depannya. Aku tidak tahu apa nama tempatnya. Tapi aku yakin kalau tempat itu adalah milik pemerintah kota Istanbul.

image

image

image

Aku dengar kalau penjelasan yang mereka berikan pada tahun kemarin berbeda dengan yang diberikan hari itu. Itu berarti, selalu ada perkembangan tiap tahunnya dari segi penataan kota, transportasi, pengelolaan sampah, dan lain-lain. Bahkan sampai sekarang pun, masih bisa dilihat betapa banyak proyek yang sedang mereka jalankan.

Kami juga diajak menonton film pendek berisi video dan gabungan foto-foto mengenai usaha pemerintah kota dalam mengubah dan memajukan Istanbul. Film pendek yang luar biasa. Hanya dalam satu dekade, mereka sudah membawa banyak sekali perubahan baik. Sepulangnya, kami diberi hasil foto dari rombongan kami yang diambil sebelumnya dan juga goodie bag yang berisi air mineral, jus, dan roti.

Berangkat dari Miniatürk, kami diajak makan siang di restoran Beltur di Yıldız Parkı. Kami tidak perlu khawatir soal biaya makan atau lainnya karena semua biaya ditanggung oleh ICIST. 😁

Setelah selesai makan siang, kami melanjutkan perjalan ke destinasi kedua, Topkapı Panorama 1453.

image

Foto bersama di depan Museum Topkapı Panorama 1453

image

image

image

Kami melaksanakan shalat Dzuhur di sebuah masjid tidak jauh dari museum dan kemudian diberi waktu satu jam untuk mengellingi museum.

Menurut Wikipedia, museum sejarah (Turkish: tarih müzesi) ini pertama kali dibuka pada 31 Januari 2009. Di dalam museum ini terdapat banyak informasi mengenai penaklukkan Konstantinopel oleh Al Fatih. Dan di lantai paling atas terdapat lukisan yang menceritakan penaklukkan yang bersejarah itu. Lukisan yang terlihat nyata dengan ditambah suara tembakan meriam yang diputar membuat kita seakan menonton peperangan itu secara langsung.

Dan akhirnya, setelah selesai melakukan perjalanan waktu di Museum Panorama, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi terakhir. Yerebatan Sarnıcı a.k.a Basilica Cistern.

image

(Sumber: Google)

Basilica Cistern adalah yang terbesar dari beberapa ratus penampungan air kuno yang berada di bawah Istanbul (dulunya Konstantinopel). Penampungan ini dibangun pada masa kekaisaran Bizantium karena pada masa itu, walaupun terletak di daerah strategis, Konstantinopel memiliki masalah dalam penyediaan air bersih. Basilica Cistern dikatakan mampu menampung 80.000 kubik air.

Basilica Cistern yang terletak di bawah tanah ini hanya diberi penerangan lampu temaram sehingga kecil sekali kemungkinan untuk bisa mengambil foto dengan hasil yang bagus menggunakan kamera handphone.

Yang menarik dari Basilica Cistern adalah dua patung kepala Medusa yang salah satunya diletakkan terbalik dan lainnya diletakkan menyamping. Banyak artikel yang membahas soal alasan diletakkannya dengan posisi begitu. Tapi salah satu artikel terkenal menjelaskan bahwa hal itu disengaja untuk menangkal roh-roh jahat.

image

(Sumber: Google)

Selain kepala Medusa, ada juga kolam harapan yang di dalamnya ada banyak sekali koin dan ikan berukuran besar-kecil sedang berenang. Aku rasa tiap tahun pihak pengelola mungkin mengumpulkan koin-koin itu dan menyalurkannya kepada yang membutuhkan 😁. Mungkin. Aku juga tidak begitu yakin.

Dan begitulah perjalanan kami hari itu. Menyenangkan, walaupun juga sedikit melelahkan. Beberapa hari selanjutnya aku hanya bisa beristirahat di kamar karena kondisi badan yang tidak sehat. Aku yakin ini karena keadaan cuaca yang mulai berubah. Hey!, siapa sangka musim panas sudah berlalu dan musim gugur keduaku akan segera datang dalam waktu dekat!. Who’s excited?. 🙌🙌

Perjalanan hari itu memberi kami banyak informasi baru mengenai tempat-tempat di Istanbul. Ya, membuat kami merasa beruntung berada dekat sekali dengan salah satu sejarah paling penting dalam peradaban manusia. Semoga kalian yang membaca bisa berkunjung ke Istanbul juga, ya!

21 September 2015, 22:55
Esma, Istanbul

—-
Sumber:
-Miniatürk:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Miniatürk
http://miniaturk.com.tr
-Topkapı Panorama 1453 History Museum
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Panorama_1453_History_Museum
http://panoramikmuze.com
-Basilica Cistern:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Basilica_Cistern
https://hendroliu.wordpress.com/2014/07/22/basilica-cistern-aura-misterius-sang-penampungan-air/
-ICIST
https://m.facebook.com/icist

Esma, Istanbul

Mom, It’s My First Day at College!

14 Eylül 2015, Salı
Sinar matahari menerobos masuk ke kamarku melalui sela jendela yang tidak tertutup gorden. Aku masih merasa mengantuk tapi tetap memaksakan diri melirik ke arah tablet dan melihat jam. 9.30 a.m!. Aku sudah telat dari rencanaku kemarin untuk pergi ke kampus pukul 10 pagi. Rasa kantukku hilang. Tapi bukannya langsung sial-siap mandi, aku malah terus mengotak-atik tablet sambil menanyakan beberapa teman yang kampusnya sama.

Sekitar pukul 10.25 aku masih sibuk dengan tablet sampai akhirny memutuskan untuk bersiap-siap pergi ke kampus setelah seorang teman bilang kalau ada sebuah pertemuan untuk mahasiswa baru tiap fakultas. Aku juga menelpon teman yang kemarin datang ke kamar dan sempat memberikan nomor telponnya sebelum pergi. Dia akan kuliah di jurusan yang sama denganku dan dia terdengar berbisik ketika mengangkat telepon,

Shaima, neredesin sen?. Okulda mısın?” (Shaima, kamu dimana?, apa kamu sedang di kampus?)
Evet” (iya)
Şey mi var orada?” (Apakah ada sesuatu disana?)
Evet, konferanstayım. Şeyler anlatıyorlar” (Iya, aku ada di konferensi. Mereka menyampaikan banyak hal)
Aah, ne zaman bitecek?” (Ahh, kapan selesainya)
Bilmiyorum ben” (Aku tidak tahu) *masih berbisik*
Hmm tamam o zaman. Hadi, görüşürüz.” (Hmm baiklah kalau begitu. Sampai jumpa)

Pukul 11 aku berangkat dari asrama dan tiba di kampus pukul 12 lewat. Kampusku berada di Istanbul bagian Eropa sedang aku tinggal di Asia. Butuh satu sampai satu setengah jam perjalanan untuk tiba di kampus.

Ketika sampai, aku sempat bingung karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sedangkan Shaima tidak mengangkat telepon. Beberapa saat kemudian aku bertemu dengan dua teman asing lain dan memutuskan untuk bertanya kepada güvenlik.

“Siz hangi bölüm okuyacaksınız?,” (kalian akan kuliah di jurusan apa?) güvenlik (satpam) itu bertanya kepada dua temanku.
“Radyo, TV ve Sinema,” dan mereka pun diberitahu soal pengarahan yang akan diadakan untuk mahasiswa baru pada pukul 2 siang. Ketika aku bertanya tentang jurusanku, dia bilang kalau acaranya sudah selesai sejak jam 10 pagi tadi.
“Şey, yarın ne yapacağız?. Gelmemiz lazım mı?” (Besok apa yg harus kami lakukan?. Apa kami harud datang?)
“Siz danışmaya gidin. Danışmanızı biliyor musunuz?. Ona sorun. Problem olursa da ona söyleyebilirsiniz” (Coba Anda pergi ke konsultan. Anda tahu siapa konsultan Anda bukan?. Tanyakan kepada beliau. Dan kalau ada masalah, Anda juga bisa sampaikan). Aku mengecek daftar mata kuliah pilihanku dan menemukan tulisan danışman dengan nama seseorang dibawahnya di pojok kanan bawah kertas. Salahnya, aku tiba di kampus ketika waktu istirahat makan siang. Jadi aku harus menunggu sampai pukul 13.30 siang untuk bisa bertemu dengan konsultan ini.

Pukul 13.30 aku langsung masuk ke gedung fakultas lagi dan menyusuri koridor panjang di lantai 1 tapi tidak menemukan nama danışman-ku di semua pintu. Sampai akhirnya, setelah bertanya, aku diberitahu kalau ruangannya di lantai atas. Di koridor lantai atas ada banyak kotak kaca bersusun yang berisikan mesin ketik antik, kamera antik, dan lain-lain. Dindingnya juga dihiasi koran terbitan lama sekali dan foto-foto hitam-putih yang dimasukkan ke dalam pigura.

Aku menemukan ruangannya hampir di ujung koridor. Wufh, melegakan sekali ketika tahu kalau danışman hoca-nya benar-benar ramah. Setelah berbincang beberapa menit, beliau mengajakku ke ruangan sebelah. Ada beberapa mahasiswa di dalamnya yang ternyata adalah anggota semacam klub jurnalis. Jadi ada sebuah website berita yang dikelola oleh mereka dan kebanyakan beritanya berasal dari dalam kampus.

Alamat websitenya ajansuniversite.istanbul.edu.tr kalau kalian ingin berkunjung dan baca-baca. Tapi hampir semua beritanya dalam bahasa Turki dan beberapa saja yang berbahasa Inggris. Aku diajak untuk bergabung. Tapi aku bilang kalau bahasa Turki-ku masih harus diperbaiki lagi. Tapi seorang gadis mengatakan kalau aku masih bisa mengambil foto untuk berita. Aku akan datang tiga hari dalam seminggu seperti anggota lainnya dan, ya, membantu mengelola berita dan menge-post-nya di website. Tapi aku belum kembali lagi 😅.

15 Eylül 2015, Çarşamba
Kemarin, sebelum memperkenalkan aku dengan anggota klub itu, aku sudah diberikan jadwal kuliah. Pukul satu hari ini akan ada pelajaran Medya ve Siyaset (Media dan Politik). Aku datang lebih awal. Pertama karena memang jarak asrama-kampus yang tidak dekat, dan kedua, karena aku tidak ingin terlambat di hari pertamaku.

Pukul satu, aku dan Shaima sudah ada di kelas. Aku duduk di barisan kedua. Kelasnya panjang dengan meja-kursi yang banyak sekali. Papan tulis putih panjang di depan, proyektor, LCD, dan jendela besar yang terbuka. Satu persatu mahasiswa lain masuk dan memenuhi ruang kelas.

Sekitar pukul 13.20, hoca datang. Beliau mengucapkan selamat datang menyampaikan beberapa hal terkait pelajarannya. Beberapa kali beliau melempar lelucon yang membuat suasana kelas tidak begitu tegang. Dan berita baiknya lagi, aku bisa mengerti sekitar 70 persen omongan beliau. Beliau tidak berbicara cepat seperti kebanyakan orang Turki. Tapi aku masih harus mencatat kosakata yang belum aku ketahui bahkan merekamnya agar bisa aku dengarkan lagi nanti.

Sekitar satu jam beliau bicara di depan kelas, dan kemudian kami diizinkan pulang lebih awal. Sebenarnya ada pelajaran lain, Yabancı Dil (Bahasa Asing) yang katanya diharuskan memilih antara bahasa Perancis atau Jerman. Pelajaran disampaikan secara online dan aku belum sepenuhnya paham soal itu. Tapi aku akan segera bertanya kepada teman yang lain.

Jadi hanya begitu hari pertamaku di kampus sebenarnya. Sepulangnya, aku mampir sebentar di perpustakaan dan menulis sebagian isi postingan ini. Aku harap hari-hari selanjutnya akan lebih baik lagi. Semoga .. aamiin ..

Belajar dengan bahasa yang baru seperti bahasa Turki adalah sebuah pengalaman yang berbeda. Aku tidak sabar menunggu hari-hari ketika aku sudah lebih lancar berbicara dalam bahasa Turki dan tidak ragu-ragu untuk bertanya ataupun mengeluarkan pendapat di kelas. Tidak sabar menunggu hari-hari ketika aku aktif di klub, melakukan wawancara dan mengerjakan laporan pertamaku, dan hal-hal menarik lainnya. Semoga aku dapat terus bersemangat walau di hari-hari terberat. Aamiin ..

Selamat hari pertama kuliah untuk semua mahasiswa baru tahun ini 😁. Happy first day at college!.

“There’s a time and a place for everything and it’s called college”

*bitiş tarihi 16 Eylül 2015. Bügün ders yok

Esma, Istanbul

Keep Calm and Learn Languages

keep-calm-and-learn-languages-5

(Image: Google)

Merhaba!

Tadi pagi, ketika aku dan dua temanku sedang menunggu kedatangan teman-teman mahasiswa baru di lobi asrama, kami berkenalan dengan seorang gadis dari Tunisia yang juga adalah mahasiswa beasiswa YTB 2015. Awalnya, ibunya yang menyapa kami, menanyakan apakah ada Wi-Fi di asrama ini, dengan bahasa arab. Aku mengerti apa yang beliau katakan, tapi ketika menjawab, semua kosakata bahasa arabku menghilang. Tinggallah bahasa Turki dan bahasa Inggris yang bercampur di kepalaku.

Beliau tertawa melihat ekspresi kami yang kebingungan,
“Apa kamu bisa berbicara bahasa arab?”
“Ya, sedikit sekali,” kataku sambil cengar-cengir dan garuk-garuk kepala. Kebingungan.
“Aku pernah belajar bahasa arab, tapi karena tidak pernah digunakan, aku hampir lupa semuanya.” Lanjutku terbata-bata. Beliau tersenyum.
“Tidak apa-apa. Sekarang aku sedang membuatmu agar bicara bahasa arab. Jangan malu-malu.”
Aku malah bilang “na’am” sambil angguk-angguk tidak jelas.

Gadis Tunisia yang ternyata bernama Fatma itu menanyakan soal beberapa hal yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Kami bicara dengan bahasa Turki karena ternyata dia pernah belajar bahasa Turki selama dua tahun di sekolah menengah.

Aku banyak mengobrol dengannya ketika dia menumpang jaringan internet dari handphone-ku. She is such a very smart girl. Dia tidak hanya bisa bicara dengan bahasa Arab dan Turki. Tapi juga bahasa Inggris dan Perancis. Aku langsung terkagum-kagum setelah tahu kemampuannya. Dia mampu mengerti dan bicara dengan empat bahasa yang ingin sekali aku kuasai. Well, insyaallah bahasa Turki dan Inggrisku akan semakin baik. Tapi soal bahasa Arab dan Perancis, aku harus mengulang dari awal. Walaupun untuk bahasa Arab akan lebih mudah karena aku sudah pernah belajar dulu.

“I only know ‘bonjour’, ‘comment allez-vous’, and ‘je ne parle pas français’ 😅”
“Hahaha .. trés bien” 

Kami berdua tertawa dan kemudian dia bilang kalau dia akan mengajariku bahasa Perancis nanti. Insyaallah.

Ketika bicara, kami menggunakan bahasa Turki dan Inggris bersamaan. Malu sekali rasanya karena aku belum bisa bicara bahasa Turki dengan lancar. Padahal sudah satu tahun aku tinggal disini. 😳

Untuk kamu sedang membaca ini, tolong doakan aku agar dimudahkan dalam semester awal ini. Karena aku masih butuh belajar lebih baik lagi 😂. Apalagi banyak yang bilang kalau aku minimal harus menguasai tiga bahasa karena jurusanku adalah jurnalistik. Wish me luck, guys. Bana dua edin, olur mu?

Bagaimana denganmu?. Apa kamu juga ingin menguasai banyak bahasa?. Berapa bahasa yang sudah kamu kuasai?. Metode belajar bahasa seperti apa yang kamu terapkan?.

Esma, Istanbul

Powered by WordPress.com.

Up ↑